
Kapan Mayang lepas dari cairan hangat diantara dua kakinya? Tidak pernah. Jika malam absen, paginya Mayang akan menghabiskan sepanjang fajar di bawah kekuasaan Gian. Atau si maniak gila itu kehilangan ingatan dengan mencumbuinya sampai lemas pagi buta. Sarapannya setiap pagi adalah guyuran jus beraroma pinus yang begitu khas.
"Punggungku kok sakit, Mai," keluh Gian pagi itu. Mayang tidak ambil peduli, terus saja ia menata sarapan untuk Gian yang akan segera berangkat bekerja, sementara Mayang hari ini ingin di rumah saja, mengerjakan undangan yang sudah di buatkan daftarnya oleh Gian.
"Abis gali sumur pake cangkul, ya, encok punggungnya," sahut Mayang asal.
Gian menyeringai, lalu duduk di meja depan Mayang, sehingga Mayang kesulitan menata meja makan.
"Mas ...," protes Mayang dengan tatapan memohon. Ini tak akan selesai jika Gian cengengesam terus di depannya seperti bocah yang keinginannya terpuaskan.
"Iya, Sayang ... nanti malam lagi. Sekarang Mas harus kerja." Mata Gian mengerling, senyum tengilnya muncul, membuat Mayang langsung merengut jengah.
"Jangan ngarep, nanti malam Mas Gian aku doakan ada operasi dadakan, biar tidur di mess. Hari ini aku doakan ada persalinan yang banyak, sehingga Mas Gian sibuk, dan ndak gangguin aku." Mayang lebih terdengar ingin Gian menderita ketimbang merasa ada doa terselip diantara omelannya. Mungkin Mayang lupa, Gian mendapat penghasilan dari persalinan dan operasi.
"Aamiin ... meski aku nggak punya waktu minta kamu dateng buat anter suguhan semangat buat Ayang." Gian terus mencandai istrinya dengan kemesuman yang kadang membuat Mayang merinding sebadan-badan.
__ADS_1
"Mas Gian ini memalukan—sungguh!" Mayang menyodorkan sepiring telur rebus setengah matang, roti gandum, selada, wortel rebus, dan kentang ke depan Gian. Segelas susu yang ia hangatkan di microwave, juga menyertai.
"Enak kali Mai, siang-siang—"
"Mas udah, aku ingin bicara serius sama Mas Gian. Aku ndak mau bahas kerakusanmu atas diriku lagi, ya, Mas ... lagian aku tuh, heran ... Mas Gian bisa melakukan itu sampai beberapa kali sehari, apa ndak takut tulangku jadi lunak kaya abis di presto?"
Gian tergelak, "Mana adalah, Mai ... gara-gara begituan setiap hari bikin tulang jadi lunak, emang aku nindih kamu begitu saja? Tetap aku jaga agar nggak sampai bikin kamu tertekan, lah. Ada-ada saja, kamu ini."
"Bagiku sama saja," ucap Mayang asal, ia buru-buru menyuapi Gian sebutir telur agar dia segera menghentikan tawanya yang menjijikkan.
Gian menelan telurnya susah payah karena terlalu besar dan Mayang sepertinya butuh jawabannya cepat. Gian tidak mau sampai membuat Mayang menunggu atau merasa tidak didengarkan.
"Dijual aja, Mai ... biasanya ada yang mau itu, kalau cuma nerusin angsuran. Lagian tampaknya mobilnya masih bagus." Gian menjeda ucapannya dengan meminum air putih, lehernya terasa seret.
"Mas Gian aja coba tawarkan pada kenalan Mas. Mas juga pasti tahu kisaran harganya berapa. Nanti uangnya juga akan aku bagi sama Mas Ferdi, Mas ... kayaknya dia dipecat deh, coba Mas tanya Saira." Mayang setengah menggoda Gian.
__ADS_1
"Kok aku yang mesti nanya ke Saira?" Gian menatap Mayang penuh tanya, ia jadi gagal makan karena ucapan aneh Mayang. Apa Mayang masih cemburu pada Saira. Padahal Gian tidak pernah berhubungan dengan Saira.
"Kan mantannya Mas Gian, siapa tahu masih nyimpen nomer dia?" Mayang menahan senyum, lucu juga kalau Mas-mas bucin digodain, apalagi dengan nada cemburu seperti ini. Mayang suka sekali melihat Gian kebingungan seperti itu.
Gian menenggak air minumnya cepat-cepat, lalu menghampiri Mayang untuk membawa wanita yang sedang mengolesi sehelai roti dengan selai coklat itu ke pangkuannya.
"Jangan paksa Mas membungkam mulut kamu ini dengan cara Mas, ya, Mai," kata Gian serius. Tatapan tajam Gian ditanggapi cengengesan oleh Mayang, yang tau persis bagaimana membungkam dirinya dengan cara Gian.
Tangan Mayang memainkan kerah dan kancing kemeja Gian. "Cara yang mana, Mas ... aku lupa."
"Kamu nakal, ya sekarang!"
*
*
__ADS_1
*