
Mayang beristigfar dalam hati. Terus menerus sampai hatinya merasa tenang.
"Masa idahmu kapan selesai, biar aku segera bisa melamarmu?" tanya Gian santai dan datar.
Mayang menggeram. Meski kini mereka berdua sudah berada jauh dari kafe yang menjadi saksi betapa gila dan tak tahu malunya seorang Estu Giandra Hadyan, pria berpendidikan tinggi, seorang dokter spesialis yang konon katanya terkenal seantero kota, namun kemarahan Mayang masih terekam jelas di wajah ayunya.
Gian menatap Mayang begitu datar, meski dia sedang harap-harap cemas akan jawaban Mayang.
"Pak Dokter, ini kesekian kalinya Bapak bikin saya malu! Apa sih, sebenarnya yang ada di kepala Bapak?" Mayang bertanya sambil terus menahan amarah dan juga rasa heran. Bisa-bisanya bilang cinta seperti itu?
"Yang di kepala saya, ya, yang baru saja saya katakan ... memangnya saya salah kalau mengungkapkan perasaan? Daripada jadi bisul, yang akan merepotkan?" Gian menjawab tanpa beban. Setelah dipikirkan, Mayang memang harus dikejar, didekati, dan dicecar. Biar saja Mayang mengatainya gila, yang penting semua momen menjadi sangat berkesan dan meninggalkan rasa tersendiri di hati Mayang. Sekalipun terkesan menjengkelkan.
"Semua orang di sana tadi saksi kalau hanya kamu yang aku mau," sambungnya tanpa merasa kalau apa yang dilakukannya adalah berlebihan.
Mata Gian memicing, melihat Mayang yang sedari tadi menghembuskan napas kasar dan besar-besar. Dia juga terlihat berkeringat. "AC-nya kurang dingin, ya?" celetuknya tanpa dosa.
Yah, mereka berdua berada di mobil Mayang, dengan Mayang yang mengendarai. Mayang terlalu malu untuk mengamuk di sana, sehingga menyeret Gian dan membawanya pergi sejauh-jauhnya.
"Pak ... mending Bapak ini kena bisul sebadan-badan, ya ... sampai wajah pas-pasan Bapak ini ketutup bisul, ketimbang bikin orang lain malu seperti tadi!" Mayang menampik tangan Gian yang hendak memainkan entah apa dibagian dasbor mobil. Entahlah, apapun yang dilakukan Gian, rasanya salah semua usai kejadian barusan.
"Ya, nggak lucu, kan kalau bisulnya nanti pas di pencet isinya lambang hati dengan nama Mayang tersemat?" Gian kembali menegakkan tubuhnya sembari tersenyum geli. "Lalu saling berbisik; Mayang, I Love You," lanjutnya. Aneh dari semua itu ekspresi Gian datar-datar saja. Bagi Mayang terkesan tengil.
__ADS_1
Mayang makin kesal saja mendengar jawaban Gian yang ngawur. "Bapak keluar, mending Pak Dokter cepetan keluar!" usir Mayang.
"Kok udah disuruh keluar? Kan belum lama masuknya, Mai ... udah puas kamuā"
"Keluar, Pak!" Mayang mendorong tubuh Gian. Wajah Mayang merah padam. Gian sungguh menyebalkan.
"Eh, eh ... aku belum selesai, Mai! Aku diterima enggak?" Gian bertahan, sentuhan pertama Mayang di tangannya membuat Gian senang.
"Ndak ... saya ndak mau sama Pak Dokter!" erang Mayang terus mendorong, hingga Gian terdesak ke pintu. "Keluar atau saya yang akan mengeluarkan Bapak!" ancam Mayang. Astaga!
Gian bergeming. Mayang meradang dan turun dengan cepat lalu membuka pintu. Namun, mata Mayang dibuat membola kala melihat Gian sudah duduk di balik kemudi menggantikannya.
Mayang dibuat jengah dengan ulah Gian, lalu Mayang kembali ke sisi sebelah Gian, membuka pintu, namun gagal. Astaga, Gian mengunci Mayang di luar. "Apa mau Bapak sebenarnya?!" teriak Mayang kesal.
Gian terkekeh, lalu menurunkan kaca mobil sedikit saja. "Di luar panas Mai, masuk gih! Kita ngomong sambil jalan aja."
Mayang terdiam, melirik tajam pria itu.
"Ayok ... kalau nggak, saya bawa kabur mobilmu, dan kamu di jalan ini sendirian."
Mayang sejenak ragu. Namun kemudian, dia menurut juga, di sini sepi sekali, jarang ada orang atau mobil yang melintas. Mayang memang berniat membuang Gian ke laut, jadi Mayang melajukan mobilnya ke jalan sekitar pantai. Jauh dari manapun, tempat yang dikenal Mayang.
__ADS_1
"Nah, gini kan enak ... sekarang Bu Mai akan saya antar pulang, okey! Untuk pertanyaan saya tadi, tetap saya tunggu jawabannya, entah sekarang atau seribu tahun lagi," kata Gian setelah Mayang duduk manis namun bersungut di sebelahnya.
"Saya udah jawab ndak mau, kok." Mayang menjawab ketus.
"Kalau gitu, akan saya ubah jawaban kamu, Mai ... kamu jadi mau sama aku." Gian bertekat. Lantas tanpa berkata-kata lagi, Gian melajukan mobil Mayang.
Menurut Gian, Mayang tidak akan luluh sama bunga dan gombalan, cukup katakan saja perasaannya yang sebenarnya, Mayang pasti mengerti dan berpikir. Lagian setelah ini, Gian yakin, Mayang hanya memikirkannya saja. Tidak peduli pada kesan pertama yang timbul. Benci akan diubahnya jadi cinta perlahan-lahan.
Dia sudah kadung cinta, entah karena apa. Yang jelas Gian terpesona dengan Mayang yang begitu kuat dan pintar. Sampai Gian memilih menurunkan gengsinya sejauh tadi. Hanya demi Mayang seorang.
*
*
*
*
*
Hai, mulai besok, aku ikut even crazy up, ya gengsš dukung terus Mayang ya, jangan lupa kasih vote banyak-banyak𤣠eh, cuma satuš¤ wes lah, pokoknya tinggalin jejakš¤ biar aku makin semangatš¤£
__ADS_1