Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Dipihak Mana


__ADS_3

 Setelah memastikan Lea baik-baik saja, Ferdi pulang ke rumah, ketika hari sudah menjelang malam. Halaman rumah sudah kembali rapi dan bersih. Sebagian tanaman hias sudah kembali ditanam, sebagian lagi masih teronggok di sudut halaman dengan penopang hidup seadanya. Gundukan tanah bercampur pupuk memenuhi paving dekat teras. Mungkin ibunya kelelahan setelah mengurusi tanamannya yang porakporanda kemarin.


"Untuk apa kamu kembali ke sini?" Marini bersedekap di perbatasan antara ruang tengah dan ruang tamu, tepat ketika kaki Ferdi menapak di ruang tamu. Bahkan Ferdi  belum sempat mengucapkan salam.


Ferdi jelas merasa bingung, atau mungkin lupa, kenapa ibunya sampai bertanya seperti itu. Ini kan rumahnya?


"Kemasi barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini sekarang juga!" sambung Marini tegas.


"Buk!" protes Ferdi keras. "Aku anak Ibuk. Masa tega Ibuk ngusir aku? Siapa nanti yang akan mengurus Ibuk pas tua?" Ferdi berjalan beberapa langkah mendekat.


"Ibuk bisa ke panti jompo." Marini menjawab dengan ketus. "Selama kamu masih berpihak pada Lea, Ibuk anggap Ibuk ndak punya anak."


"Buk, Lea itu istriku, dia lagi kena musibah. Nggak mungkin aku tinggalkan dia begitu saja." Ferdi jengah menjelaskan berulang-ulang kenapa dia harus tetap bersama Lea.

__ADS_1


"Mayang yang baiknya ndak kehitung saja kamu tinggalkan begitu saja, kenapa Lea yang hanya akan menjadi benalu dalam hidup kamu, kamu pelihara?" Marini masih menatap galak anak lelakinya itu. "Jangan kamu lupakan kalau kamu menduakan dia saat kalian masih terikat dalam pernikahan, jadi kenapa hanya karena Lea pernah hamil anakmu, kamu menjadi begini lunak padanya? Sampai dia menodong Ibuk dengan meminta ganti rugi yang tak masuk akal?"


"Aku cinta sama Lea, Buk ... dia itu pacarku sebelum aku nikah sama Mayang. Lea nggak mungkin aku putuskan begitu saja, setelah aku tinggal menikah begitu saja. Lea patah hati karena aku, Buk. Aku hanya bertanggung jawab atas perbuatanku yang mengkhianatinya."


"Itu jelas bukan kewajiban kamu lagi, ketika kamu menerima pernikahan kalian. Wajar orang pacaran itu putus, apalagi ditinggal menikah. Itu resiko orang pacaran. Dan lagi, apa kamu bertanggung jawab pada apa yang kamu lakukan pada Mayang? Padahal jelas sekali kamu dan Mayang itu terikat atas nama Tuhan. Apa kamu ini sedang keblinger? Yang hanya pacaran kamu sibuk jaga perasaannya, sementara yang kamu nikahi malah kamu duakan dan tinggalkan begitu saja!" Marini meradang.


Ferdi merasa terpojok pada akhirnya. Marini benar segala-galanya, meski ia memperbudak Mayang, tetapi Marini tetap menyayangi Mayang, sebagaimana Mayang sayang padanya. Hanya cara menyayangi Mayang menggunakan cara yang tidak biasa.


"Ibuk sudah jelas mengingatkanmu kemarin-kemarin, Fer ... tapi kamu anggap semua itu hanya angin lalu yang tak ada artinya. Kamu hanya memikirkan apa yag menjadi keinginanmu, tanpa mau memikirkan bagaimana akhirnya nanti."


"Buk ...." Ferdi mencoba menawar lagi. "Aku janji setelah ini bakal nurut sama Ibuk, tapi jangan usir aku dari rumah."


Marini sudah hampir pergi dari depan Ferdi, tetapi melihat anaknya yang tidak punya harga diri itu, ia menggelengkan kepala. Apa bagusnya si Lea itu, sih, sampai Ferdi sebegitu tidak mau melepaskannya.

__ADS_1


"Pilihan jelas cuma dua, tinggalkan Lea atau tinggalkan Ibuk!" Marini berkata dengan tegas. Ia terlanjur sakit hati sama Lea. "Sesuatu yang jelas ndak memberikan manfaat pada kita, sebaiknya dibuang jauh-jauh."


Marini maju selangkah ke depan Ferdi. "Kalau kamu masih tetap sama Lea, karena alasan ndak masuk akal kamu, itu sama aja kamu gali kuburan kamu sendiri."


Marini menatap Ferdi lurus-lurus, seolah mengatakan kalau ia sudah pernah memberikan peringatan, jadi jika sesuatu terjadi nanti, jangan salahkan dia. Setelahnya ia meninggalkan Ferdi dan masuk ke kamar. Terserah apa mau anak lelaki Marini itu nanti, Marini sudah menyerah pada Ferdi.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Maaf, baru bisa update🤧🙏


__ADS_2