
Ketika Kamandanu Anggara menyalami mereka, Djarot mengucapkan beribu maaf atas nama orang tuanya. Kamandanu yang datang bersama istri keduanya tidak tampak merasa kecewa atau apa, hanya memaklumi akan adanya halangan pada rencana manusia. Tampaknya itu mirip pada kisah Danu yang cukup berliku pada rencana yang disusunnya.
"Saya doakan Bu Yulia segera sembuh, Pak ... maaf saya belum sempat mengunjungi beliau." Djarot terpaksa menyampaikan ini sebab dia tak punya kesempatan mengatakan sebelumnya. Menurutnya tidak sopan jika hanya mengirimkan pesan Whatapps. Ia harus menahan rasa tidak nyaman pada istri kedua Danu demi mengatakan ini.
Yulia adalah istri pertama Danu, dan yang bersamanya adalah Sinta, yang tampaknya usianya jauh lebih muda dari Rully. Tetapi penampakan mereka sama, sama-sama mirip anak SMA.
Sinta terlihat biasa saja menanggapi ucapan Djarot. Malah ia tersenyum sumringah. "Mbak Yulia menantikan kunjungan manten baru, Pak Djarot ... saya pernah dengar beliau menyebut Bapak sekali waktu."
Djarot melirik Danu penuh arti, undangan ini penuh makna. Djarot tahu betapa Yulia membenci Sinta, tetapi ia tidak bertanya karena menghormati Danu dan mendiang ayah Yulia.
"Itu benar, Pak Djarot. Saya percayakan semua urusan soal hukum pada lawfirm milikmu."
Djarot tersenyum. "Wah, nggak ada ruginya saya minta Bapak datang walau harus kecewa. Pak Danu adalah pelanggan pertama saya di lawfirm yang baru saya dirikan. Semoga saya bisa amanah dan memuaskan setiap permasalahan hukum yang Bapak hadapi."
"Jangan begitu, ini karena dia yang minta saya pakai jasa kamu." Danu mengerling sisi kanannya, dimana Sinta berdiri dengan perutnya yang buncit.
Danu baru saja berpamitan dan belum sempat keluar dari pintu masuk, rombongan Murdyo datang dengan wajah panik, kecuali Rustina. Bahkan salah satu keponakan Djarot langsung mendarat di atas tubuh Rully.
Rustina baru merasa kulitnya terkelupas dan perih, saat melihat tamu undangan Rully, yang sayangnya sudah pada bubar. Rustina belum lamur(buram) untuk salah mengenali Wakil Bupati kota ini dan yang paling membuatnya ingin mengubur diri adalah kehadiran juga keakraban Danu dan Djarot.
"Lihat Danu, Buk ... Dia menikah lagi karena istrinya tidak bisa diatur dan keras kepala!" ujar Murdyo tiba-tiba. "Ibuk mau kita berakhir seperti mereka?"
Rustina membeliak, napasnya menjadi sesak. Astaga ....
"Bapak serius!" tekan Murdyo sekali lagi. Mata pria tua itu sengaja ia larikan pada beberapa gadis muda yang menjadi petugas di acara yang sudah bubar ini.
Rustina tidak fokus. Matanya dengan gembira terbang ke arah Rully, sampai tidak sadar kalau Danu sudah berdiri di depan suaminya.
__ADS_1
"Maaf atas keterlambatan kami, Danu." Murdyo memanggil Danu seperti itu bila bertemu. Mereka cukup akrab, tetapi memang ia sengaja tidak memberitahu Danu. Murdyo membiarkan Djarot menentukan sendiri siapa undangannya, sebab jika dia yang mengatur, dengan mudahnya semua memberikan maklum.
Danu sejak awal tahu kalau Djarot adalah anak dari pria yang selama ini memberikan wejangan dan nasehat, mereka dekat juga bersahabat. Terlepas dari apapun, Danu disini untuk kepentingan publik.
"Minta maafnya jangan ke saya, Mas ... itu Lingga sama istrinya yang dari tadi cemas nungguin Mas dan Mbak Rus." Danu tersenyum. "Saya pulang dulu, ya, Mas ... maaf, nggak bisa nemenin Mas dan Mbak di sini."
Murdyo sebenarnya ingin mengatakan banyak hal, tetapi ia memahami kondisi mereka, sehingga Murdyo membiarkan saja mereka pulang.
"Nak ...," panggil Murdyo sesaat setelah kepergian Danu, tetapi Djarot sama sekali tidak menghiraukan panggilan itu. Ia memahami ini dan memilih menepi.
Melihat orang tuanya datang, Djarot makin ingin mengajak pria tua itu gelut. Amarah di dada Djarot mengepul dan siap meledak. Hanya Rully yang terus mengusap punggungnya untuk meredakan perasaannya yang itu. Dia bisa mengatur puluhan orang, tapi tidak bisa mengatur satu wanita, itu yang Djarot tidak habis pikir.
"Sabar, sabar, sabar." Rully terus menggumamkan kata itu sejak tadi. Ia tahu suaminya sebentar lagi akan meledakkan gunung dengan kedua tangannya. Djarot mungkin lebih banyak kecewa daripada marah.
Setengah jam kemudian, ia dan Rully terbebas dari tamu yang datang, mereka berdua akhirnya bisa beradu muka dengan orang tuanya yang saling mendiamkan. Rombongan besan telah Djarot persilakan masuk dengan pengaturan yang telah ditentukan.
Murdyo baru saja mau membuka mulut untuk meminta maaf pada anaknya, tetapi Djarot lebih dulu berkata dingin.
"Aku hanya minta kalian datang lebih awal, tadi malam atau pagi tadi. Jam delapan pagi itu bukan dini hari, Pak, Buk? Bukannya Ibuk biasa bangun sebelum subuh bila harus dandan mendetail untuk acara penting Bapak? Apa aku tidak sama pentingnya dengan acara-acara kalian itu? Ini hanya terjadi sekali dalam hidup saya, Pak, Buk ... apa kalian tidak ingin punya momen dengan kami?"
"Bukan begitu, Lingga ...." Murdyo mendekat, berniat memeluk anaknya yang penuh kekecewaan.
"Jadi bagaimana kalau begitu?" Djarot menuntut seraya menepis tangan Murdyo. Tatapannya masih begitu dingin.
"Kalau kalian berpikir, saya tidak bisa nikah karena ketidakhadiran kalian itu salah ... kami sudah menikah. Kami sudah resmi menjadi suami istri, tanpa kehadiran Bapak dan Ibuk."
Rustina menatap hamparan meja yang sudah kosong. Batinnya terusik. Ia merasa bersalah. Namun, dia hanya diam saja. Anaknya bukan tandingan jika merasa dalam posisi benar.
__ADS_1
Murdyo menghela napas, pria itu menyangga beban sendirian. Tidak mungkin dia melibatkan Rustina saat ini. Atau ....
"Aku tahu ini pasti ulah Ibuk!" tuduh Djarot tanpa menatap Ibunya.
Murdyo, Rustina, bahkan Rully membeku mendengar ucapan Djarot yang begitu kejam. Djarot memang bukan orang yang bisa mentolerir kesalahan. Ibunya bukan pengecualian.
"Di sini Ibuk yang kekanak-kanakan. Ibuk yang tidak bisa membedakan sikap kepadaku dan kepada orang-orang yang Ibuk sukai! Aku selalu menghargai Ibuk dengan semua perintah dan kemauan Ibuk walau tidak masuk akal. Aku hanya ingin Ibuk senang, sekarang apa tidak bisa Ibuk gantian membuatku senang? Setidaknya jangan membuatku seolah tidak melakukan apa-apa untuk acara ini! Setidaknya jangan membuatku terlihat seperti idiot tidak berguna dimata orang. Aku susah payah membangun citraku dan kini Ibuk hancurkan dengan kejam!"
Djarot orang terpandang, pun dengan Murdyo dan Rustina. Dan keterlambatan mereka mengesankan kalau hubungan mereka tidak baik, pernikahan ini tidak direstui pihak sebelah, lebih buruk, Djarot tidak punya uang untuk menyempurnakan pestanya. Pasti setelah ini, pernikahan yang terkesan luar biasa itu akan menjadi olok-olok di kalangan mereka.
Pernikahan impian Djarot berantakan karena hal sepele. Tindakan sembrono yang Rustina ambil.
"Sekarang semua terserah Ibuk sama Bapak... mau tetap di sini, atau pulang, toh acara inti telah selesai, dan kalian tidak lagi dibutuhkan."
Rully terkejut mendengar ucapan terakhir Djarot, dia segera meralat. "Bapak sama Ibuk bisa ke penginapan, saya sudah pesankan guest house di sekitaran pantai, lokasinya nggak jauh dari rumah saya. Nanti malam masih ada acara kecil-kecilan di sini, Pak, Buk ... mohon berkenan menunggu dan hadir."
Djarot tidak berkata apa-apa selain menarik Rully ke mobil, tindakannya masih kasar, dan tampak posesif. Djarot tetap bermuka dingin.
Mereka ke hotel? Tidak ... yang ada setelah mengusir Roni, Djarot ke tepi pantai. Dia masih terluka.
Segera ia menarik Rully dan menciuminya dengan tidak sabar. Seolah Rully punya sesuatu di sana, yang seharusnya itu milik Djarot. Pria itu menjelajah sampai yang dicarinya ketemu. Kepuasan dan rasa lega.
Mata Rully sejernih lautan, menatap Djarot dengan tatapan seksi diikuti napasnya yang terengah. Itu menggoda sekali. Pria mendominasi semacam Djarot selalu suka melihat lawannya tidak berdaya. Itu menyenangkan.
"Kenapa berhenti, Mas?"
Pupil mata Djarot melebar. "Kita butuh tempat luas jika ingin meneruskannya."
__ADS_1
Djarot melengkungkan senyuman saat ia meraba kunci mobil untuk menyalakan mesin yang lima menit lalu dimatikan. Dia tidak pernah berpikir, Rully mampu bersikap seperti itu karena sikap kasarnya. Pikiran Djarot semakin kemana-mana. Namun tujuannya jelas, homestay atau apapun itu, yang pasti di tempat itu, dia akan memasang taring dan merobek gadis di sebelahnya.
Salah siapa hari indah ini menjadi sangat menyebalkan.