
Gian kembali ke klinik, karena di sanalah dia tinggal. Gian memang sengaja membuat sebuah mess untuk tempatnya tinggal, karena meski jam kerjanya memakai sistem shift, terkadang Gian harus datang jika rekannya mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuannya. Bapaknya di rumah sering mengeluh kesepian, dan tak jarang mendesak Gian untuk menikah lagi agar rumahnya kembali ramai.
"Gian ... Nak?"
Itu panggilan dari orang yang ada dipikiran Gian. Datang kemari pasti hanya untuk mengganggunya.
"Nak ... telingamu masih sehat, kan?"
Gian sekarang masih kesal, marah, dan tidak mampu berbuat apa-apa karena mereka sedang mendekati wanita yang sama. Tidak etis saingan sama bapak kandung sendiri. Tetapi Gian tidak bisa terima begitu saja, perasaannya ini harus pupus setelah empat tahun lamanya Gian susah payah menatanya. Mulut Gian sudah berulang kali ingin menyarankan kepada sang bapak agar mundur saja dari persaingan yang kurang imbang ini. Namun, Gian urung melakukannya, ia takut melukai perasaan bapaknya tersebut.
"Gian?"
Hadyan menepuk pundak sang anak, lalu Gian memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan sang bapak. Lama sekali Hadyan mengamati anak satu-satunya ini. Napas Gian yang begitu kasar terdengar, Hadyan tahu kalau perasaan anaknya sedang bermasalah.
"Kamu budeg karena sering dengar teriakan ibu-ibu bersalin, ya? Coba ke Rahayu—dokter THT—biar diperiksa."
"Bapak ada perlu apa kemari?" Gian malas menanggapi candaan Hadyan. Baginya, bapaknya ini hanya sedang iseng karena tidak punya kerjaan. Seperti biasa.
__ADS_1
Hadyan mencebik. "Ndak suka bapaknya datang? Bapak kangen sama kamu, Gian. Kamu jarang pulang akhir-akhir ini, Bapak ndak punya teman buat cerita-cerita."
Gian memutar tubuhnya, lalu berjalan menyusuri selasar klinik yang mengarah ke kamarnya. Gian tahu cerita apa yang akan dikatakan oleh sang bapak.
"Bosen dengernya, Pak ... Bapak kaya abege kasmaran."
Hadyan bingung, ikut anaknya atau tetap di sini menunggu Mayang yang sedang bertemu Wina. "Gian, kamu di sini dulu. Jangan buru-buru ke kamarmu!" cegahnya agar Gian berhenti.
"Ada a—"
"Pak Hadyan di sini?"
Mayang berbinar mendekati Hadyan yang sedari tadi memang bersama. Kebetulan bertemu ketika Mayang melewati poli dimana Hadyan menunggu giliran. Mayang begitu menghormati Hadyan atas kebaikan pria itu membantunya. Sungguh alasannya membuat Mayang tersentuh. Cinta sejati itu ada, Mayang mendengarnya langsung dari Hadyan.
"Sudah selesai, Nak?" Hadyan hanya berbasa basi. Tentu ini hanya alasan saja di mata Gian, agar bapaknya punya kesempatan berdekatan dengan Mayang.
Mata Gian terpaku pada Mayang yang sekilas menatapnya. Gian tahu, Mayang masih jengkel karena sikapnya tadi. Jadi Gian harus bagaimana sekarang? Melipir pergi atau jadi kambing congek di antara dua orang yang tampak saling mengagumi.
__ADS_1
"Kebetulan saya hanya menyerahkan hasil progres saya pada Bu Wina, jadi ndak butuh waktu lama, Pak ... ehm." Mayang menoleh kanan kiri, sebelum menyambung ucapannya. "kita cari tempat duduk, Pak ... ini panas banget, Bapak pasti kelelahan dan haus."
Gian mendengar itu sebagai isyarat kalau mereka tak mau diganggu sehingga ia memilih pergi. Gian tahu diri dan mereset hatinya lagi agar melupakan Mayang. Dia tak mungkin membunuh perasaan bapaknya. Namun, Gian baru dua langkah berjalan, ucapan Hadyan memaksanya menahan geram hingga tangan-tangannya mengepal. Susah sekali menghindar.
"Kita akan memanfaatkan keramahan Gian, Nak ... dia anakku satu-satunya, tapi jarang pulang. Betah di mess sini, biar bisa berduaan dengan perawat cantik-cantik di sini," sindir Hadyan.
Siapa memangnya yang menawari mampir, batin Gian. Lebih baik mereka berdua enyah dari sini.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Maaf baru update, gengs, tadi ada masalah sedikit😄