Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Play Victim


__ADS_3

Mayang melakukan promosi besar-besaran untuk pembukaan toko oleh-oleh yang baru dibukanya. Dua rukonya langsung berubah menjadi pusat oleh-oleh yang ramai dengan pengunjung dari luar kota mendominasi. Mengarahkan bus pariwisata yang singgah di Selera untuk datang ke tempat ini, strategi Mayang cukup membuahkan hasil, meski dengan begitu, Lea tetap memperoleh cipratan rezeki.


Mesin tempur Mayang sudah sangat panas dan siap kala Lea menantangnya, gelontoran stok barang yang melimpah diberikan oleh produsen, Mayang dalam minggu kedua pembukaan tokonya sudah bisa membeli freezer tambahan dan mengembalikan freezer pinjaman, dan juga koneksi Mayang gunakan untuk membesarkan tokonya.


Lea meradang melihat itu semua. Dia benar-benar tersaingi dari segi manapun. Kesiapan, dukungan, dan kemampuan mengembangkan usaha, Lea jelas kalah jauh. Meski saat bersama Mayang dia bisa mengelola Selera, itu karena ide-ide Mayang yang diteruskan melalui mulutnya. Secara teknis, Lea hanya mengembangkan sedikit saja dari apa yang dikatakan Mayang. Ibarat kata, Lea ini minus ide, tetapi suka uang, tanpa bisa memutar dan mencukupkan.


Dipikirnya, uang yang banyak itu tidak dipakai sebagai modal lagi apa? Atau dia pikir, usaha itu seperti barang sekali pakai, yang langsung selesai jika modalnya sudah habis.


 Kantor Ferdi menilai usaha Mayang yang berkembang pesat adalah peluang untuk menawarkan kredit. Mereka pikir, Mayang akan memperluas usahanya dengan membeli ruko di sebelahnya. Kantor mengutus Ferdi untuk datang, tetapi Ferdi tak tahu jika toko Mayang persis bersebelahan dengan toko Lea,namun dengan pemandangan yang begitu jomplang. Toko Lea tidak seramai toko Mayang yang memiliki pelayanan ramah dan begitu memanjakan.


Ferdi menyelinap agar Lea yang biasanya duduk di meja kasir tak sampai melihat kedatangannya ke Oleh-Oleh Mayang.


"Selamat datang di Oleh-Oleh Mayang." Sambutan yang mirip dengan sambutan dari sebuah minimarket terkenal itu, menyamut kedatangan Ferdi. Ada yang membantu membuka pintu, menjelaskan detail produk, ada juga yang menyarankan mana yang sebaiknya dicoba untuk pembelian pertama. Menjelaskan kandungan makanan olahan itu, dan tidak menganjurkan bagi yang memiliki alergi. Packing yang unik dan juga bantuan membawa sampai ke kendaraan pembeli juga dilakukan jika pembeli kerepotan membawa belanjaannya, sungguh memanjakan. AC, tv, dan musik yang lembut juga membuat suasana ramai di sini tidak terlalu terasa.


Semua orang sibuk, Ferdi tak melihat Mayang di sana. Mungkin Ferdi ketiban sial dengan Mayang tidak berada di tempat. Ferdi mendesahkan napasnya yang penuh kecewa, lantas ia menuju kasir yang langsung menyambutnya dengan ramah.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya kasir yang masih belia itu.


"Bu Mayangnya ada?"

__ADS_1


"Maaf, Pak ... Bu Mayang sedang melakukan foto prewedding. Mungkin tidak akan kemari lagi hari ini." Kasir itu tersenyum. "Ada pesan untuk beliau, Pak? Atau Bapak bisa datang kemari besok pagi sekitar jam  sembilan."


Ferdi terperanjat mendengar kata prewedding. "Bu Mayang akan mengadakan resepsi?" tanya Ferdi terkesan tidak penting.


"Benar, Pak ...."


Lalu karena menyadari pertanyaannya itu agar personal, Ferdi segera undur diri. "Saya kembali besok saja. Saya hanya menawarkan kredit pada Bu Mayang." Tidak menunggu jawaban, Ferdi meninggalkan toko Mayang dengan perasaan terluka. Tetap saja, meski ia berusaha melupakan, tetapi pencapaian Mayang yang begitu luar biasa setelah bercerai dengannya, membuatnya merasa tidak berguna sebagai pria. Terkadang dia tidak mengerti dengan pikirannya dulu yang bukannya membantu Mayang berkembang, malah melumpuhkan dan mencuranginya.


Entah konsep apa yang dia tanamkan dalam satu tahun pernikahan itu dulu. Sampai dia tidak berpikir panjang dan mendukung Mayang. Padahal, Mayang adalah orang paling mudah dan patuh meski perlakuan ibunya kurang mengenakkan.


Tepat ketika Ferdi duduk di jok sepeda motor kantor, Mayang turun dengan bantuan Gian. Terlihat mesra dan penuh kasih, dan Mayang tampak bahagia. Mayang tidak tampak seperti wanita yang pernah terluka sampai berdarah-darah. Wanita yang pernah mengisi hidup Ferdi itu terlihat manis saat melambaikan tangan pada suaminya yang hendak melanjutkan perjalanan.


"Pake pengasihan dari dukun mana, sampai toko kamu pengunjungnya meluber-luber?" Lea tampaknya menanti kedatangan Mayang dan berniat menjatuhkan Mayang di depan pelanggannya.


Mayang terlihat tidak takut menghadapi Lea, malah dia maju sampai menubruk Lea hingga terhuyung. "Dari dukun tersakiti, dan bangkit lagi. Dari wanita yang menikung saudara yang mengasihinya. Dari sebuah pernikahan yang terkoyak ikatannya."


Terlihat dari posisi Ferdi saat ini, Lea terlihat gusar. Tidak menjawa tetapi dia maju untuk mendorong tubuh Mayang yang sama sekali tidak goyah.


"Kamu merasa jadi wanita yang kusebutkan?" pancing Mayang tampak meremehkan. "Kalau iya, baguslah ... setidaknya aku tidak perlu repot-repot membawakan kaca."

__ADS_1


"Diam kamu, Mayang!" hardik Lea, "Kamu banyak bicara!" Lea mendorong lagi tubuh Mayang hingga terantuk tembok.


Ferdi terkesiap, lalu dengan cepat turun dan mendatangi Mayang, seolah dia masih suami Mayang. "Kamu ngga apa-apa, Yang?" Tangan Ferdi berusaha menggapai tetapi Mayang berjengit menghindar.


"Tidak apa-apa, Mas ...," kata Mayang pelan, seolah dia habis dijatuhkan dari ketinggian. "Dia ...." Mayang bermain peran, meski dia tidak merasakan apa-apa, tetapi dia membesar-besarkan. Apalagi Lea terlihat marah bagai banteng.


"Kamu kesakitan begitu?"


"Mas?!" sahut Lea dengan nada membentak. Detik berikutnya, Ferdi yang nekat membantu Mayang sudah menempel di samping Lea. "Maksud kamu apa?" sambungnya dengan kepulan asap di atas kepala.


Mayang tertawa kecil, senang sekali membuat dua orang itu ribut. Tengkar yang dahsyat ya, bestie.


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf, typo


__ADS_2