
Anggi menoleh, terkejut melihat wanita dengan sanggul berhiaskan mutiara melingkari. Gaun biru satinnya berkilauan senada dengan kilau perhiasan mutiara yang melekat. Langkahnya anggun berkelas, elegan meski ia sedang menegur wanita yang menculasi pernikahannya. Tatapan wanita itu kalem, tetapi bagai belati menikam urat nadi Anggi.
"Bu Riska ...," gumam Anggi seraya mundur selangkah. Anggi merasa sangat terintimidasi. Amat sangat.
"Bagus sekali kamu mengenali saya, Anggi. Jadi kamu tau siapa suami saya, kan?" Senyum Riska terlihat penuh misteri. Di belakang Riska ada seorang asisten pribadi. Tentu saja, sebagai istri dari anggota dewan perwakilan rakyat daerah, Riska mendapatkan pengawalan yang mumpuni. Apalagi Riska juga bukan orang sembarangan. Riska memiliki beberapa pabrik plywood yang tersebar di kota ini. Konon katanya, Riska sudah bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk pengolahan kayu ini.
"Saya tau, saya tidak secantik kamu karena saya telah melahirkan empat orang anak untuk suami saya. Dan akhir-akhir ini, suami saya menuntut cerai dari saya, tetapi saya belum tahu siapa wanita yang menggoda hatinya. Awalnya saya akan menghadiahkan surat cerai untuk beliau di akhir masa jabatannya, tetapi kini tidak lagi. Bukan karena saya merasa kalah dari kamu, Anggi, tapi saya tidak mau memaksa pria yang sudah luntur cintanya untuk tetap bersama saya. Pak Mardian sudah menghadiahkan kebahagiaan yang banyak buat saya, jadi sekarang saya akan melepaskan ikatan beliau. Kini saya harap kamu akan membahagiakan beliau sebagaimana saya membahagiakannya selama ini. Karena kalian sudah memiliki putri, tidak usah menunggu saya bercerai, Anggi. Kalian segera menikahlah, pastikan anak kalian tercatat secara sah di mata negara. Saya akan pastikan perceraian itu tak membutuhkan waktu lama."
"Maksud Bu Riska apa? Saya tidak pernah ingin merebut Pak Mardian dari Ibuk." Anggi lemas. Bagaimana dia bisa berkecukupan kalau hanya dari gaji Mardian saja. Selama ini, Mardian mengelola keuangan Riska, sehingga dia mudah menilap uang untuk diberikan pada Anggi.
"Tapi kalian berdua berhubungan di belakang saya, Anggi. Kalau kamu tidak berniat merebut, apa kamu hanya ingin merongrong pernikahan kami saja? Kamu memeras perselisihan diantara kami, dan mendongak untuk menadah tetes-tetes keuntungan dari kami?" Riska kembali tersenyum, agak mengerikan kali ini. Anggi merinding di buatnya. Apalagi perumpamaan Riska barusan, menusuk sekali. Dan memang itulah yang terjadi. Anggi mendapat keuntungan kala Mardian memilih tidur bersamanya usai berselisih dengan Riska. Keesokan paginya, Soekarno-Hatta memenuhi tas Anggi.
"Buk, saya minta maaf. Saya nggak akan mengulangi semua itu, Buk. Saya akan menjauh, dan saya tidak memerlukan tanggung jawab Pak Mardian. Saya akan besarkan Qila sendiri—"
__ADS_1
"Jadi kamu memilih menjual diri ketimbang berkeluarga, Anggi? Saya sudah baik hati melepaskan Pak Mardian untuk meraih kebahagian bersama kamu, tapi kenapa kamu menolak? Apa sebenarnya motif kamu hadir di pernikahan kami?" Riska mendesak, tatapan itu menuntut. Anggi merasa dirinya terjebak dengan tindakan dan kata-katanya sendiri.
"Saya—saya ...," gagap Anggi bingung.
Plak!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Anggi. "Ternyata kamu selama ini adalah ular, kamu menyusup dan mengisap kami sampai hampir membuat saya bangkrut. Kamu menghadirkan perselisihan di antara kami, membuat rumah tangga kami retak, kami di rumah tidak nyaman, karena suami saya terus memikirkan kamu. Hanya karena servis murahan kamu, suami saya berpaling dan menyakiti hati saya. Sampai di sini kebaikan hati saya, Anggia. Setelah ini kamu hanya akan melihat kekejaman saya! Camkan itu baik-baik, Anggi. Saya memang kalah untuk urusan ranjang, tetapi saya tidak akan kalah untuk urusan kebahagiaan!"
Anggi memegangi pipinya yang panas, mungkin sudah tergambar bilur jejak tangan di sana. Anggi meringis, samar-samar matanya melihat kepergian Riska. Ancaman Riska memang tidak perlu dirisaukan berlebihan. Ia pasti hanya meluapkan emosi sesaat, setelahnya pasti lupa. Yang benar saja jika dia harus menikah dengan lelaki tua bangkotan seperti Mardian. Lelaki tua bangka semacam dia hanya akan dikeruk hartanya saja. Sementara Anggi akan mencari pria muda untuk menjadi suaminya nanti.
"Bapak sudah tau semua, jadi jangan pura-pura lagi." Riska duduk dengan nyaman lalu mengeluarkan ponselnya. Satu jarinya bisa membuat Anggi tercekik seumur hidup. Wanita beracun semacam Anggi pantas mendapatkan hukuman.
"Mah, tolonglah. Papa yang salah, biarkan Anggi menghidupi Qila dengan baik. Bagaimanapun, Qila darah daging Papa, Mah. Kalian sama-sama seorang ibu, masa Mama tega ...," mohon Mardian dengan suara yang lembut membujuk.
__ADS_1
"Bapak berkata begitu pasti karena sudah mendengar saya mengatakan akan melepas Bapak agar bisa menikahi dia, kan? Bapak takut kalau Bapak tidak bisa lagi membiayai gaya hidup gundik Bapak yang hedon itu, kan? Bapak yang bermain api, saya hanya berusaha menjauh agar tidak ikut terbakar. Cukup sudah saya menutup mata selama ini. Terserah Bapak mau bagaimana, tetapi Pak Djarot sudah mengurus berkas perceraian kita." Riska masih tetap terlihat tenang. Dia harus kuat.
"Sekarang Bapak turun. Ini mobil saya, yang saya beli dari hasil kerja keras saya sendiri." Riska lurus menatap bagian depan mobil, mengabaikan Mardian yang dadanya kembang kempis tak karuan.
"Pak sopir, tolong bantu Pak Mardian turun. Mungkin beliau lupa bagaimana cara membuka pintu," perintah Riska dingin.
Mardian turun tanpa bisa melakukan bantahan maupun membela diri lagi. Istrinya itu akan susah dibujuk jika emosinya sedang tidak stabil.
Namun, Riska sudah bulat dengan perceraian ini. Sudah sekian kalinya Riska memaafkan, tapi kini tidak akan lagi ia melakukan itu. Hatinya sudah beku dan mati untuk Mardian.
*
*
__ADS_1
*
Udah berapa bab euy? Masak dulu, yah ... 🤗