
Hari ini adalah hari yang ditetapkan oleh Gian untuk membawa Mayang ke sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di kota ini.
Dokter Yoga memang bukan satu-satunya Dokter spesialis yang terbaik, tetapi bagi Gian, Dokter Yoga tidak ada bandingannya. Beliau bisa dikatakan yang memuluskan jalan Gian menjadi seperti sekarang.
Gian mengambilkan Mayang kursi roda untuk membantu Mayang mencapai ruangan Dokter Yoga, tentu Gian sedikit dipermudah, mengenai beberapa hal. Ah, enaknya punya orang dalam. Tapi Gian sudah mendaftarkan diri secara online, sehingga Gian tidak dianggap menyerobot.
"Halo, selamat sore," sapa seorang wanita cantik memakai blouse bercorak bunga dengan lengan sampai siku. Kaca mata berbingkai keperakan itu berkilat, seolah menyiratkan betapa mahal dan berkelasnya wanita ini. Berponi tipis melengkung dan rambut ikalnya yang kecoklatan itu membuat tampilannya begitu girly juga ceria. Tidak seperti kebanyakan dokter pada umumnya. Dokter wanita ini sangat cantik.
Pandangan mata wanita itu tertuju pada Gian untuk sesaat, ada senyum yang ditahan, dan Mayang menangkap, Dokter ini sedang mengajak bernostalgia. Dilihat gayanya, model pakaian seperti ini tren beberapa waktu lalu.
"Sore juga, Dokter," jawab Mayang keras-keras, sehingga Gian segera membawanya masuk.
Dokter wanita tadi menyingkir, alih-alih mempersilakan masuk. Lantas mengekor di belakang Gian tanpa bersuara. Suasana menjadi sedikit canggung di belakang.
Gian berwajah kaku setelahnya, dan Mayang memiliki kecurigaan, sehingga dia mendengus.
"Ah, Gian-Gian ... akhirnya kamu mengunjungiku juga!" cetus seorang pria berusia enam puluhan atau lebih, keluar dari sebuah ruangan di bagian belakang. Pria tua itu ceria, dan tampak bugar walau keriput mulai menggerogoti wajahnya.
"Halo Ayah," sapa Gian seraya mendekati dokter itu dan memeluknya. Tepukan kuat mendarat di punggung bidang Gian.
"Jangan panggil aku begitu, Anak Nakal ... Aku adalah Kakek untuk cucu-cucuku." Dokter Yoga melepas pelukannya lalu menghampiri Mayang.
"Kamu pasti ketiban musibah ketika bersuamikan pria nakal." Dokter Yoga berkelakar saat menjabat tangan Mayang.
Mayang tersenyum. "Senang bertemu dengan anda, Dokter. Mas Gian banyak cerita soal anda, dan terus merengek agar saya mau menemui anda di sini."
"Oh, tidak kusangka dia sampai merengek demi menemuiku." Dokter Yoga melambai kepada si dokter wanita, "Hira ... tolong bantu siapkan perlengkapan, ya."
Hira—wanita itu disebut begitu, berjalan ke bagian yang ditinggalkan dokter Yoga tadi. Matanya seperti ingin ditinggal di ruang ini, sebab dia tampak tak rela dipisah oleh sekat ruangan. Siapa dia? Mantan Gian?
Mayang sejenak mengawasi Gian yang salah tingkah. Mata pria itu memandang dokter Yoga penuh isyarat. Mayang memahami, tetapi dia putuskan untuk membiarkan. Pura-pura tidak tahu dan nanti langsung di skak.
__ADS_1
"Ayo, kita periksa dulu, setelah itu kita bisa bicara banyak. Kebetulan kamu pasien terakhirku." Dokter Yoga tampak tidak sabar, lalu duduk dibalik mejanya dan siap menanyai Mayang beberapa hal.
"Gian pasti sudah tahu apa yang harus dia lakukan, jadi kita langsung usg saja, ya." Ketika buku laporan kehamilan Mayang diulurkan oleh Gian, Dokter Yoga tidak segera membukanya, melainkan menatap Mayang lekat-lekat.
"Perutmu membuatmu kesakitan? Apa kamu merasa tertekan?"
"Ya ... tentu saja, Dokter. Saya sakit sepanjang waktu, tapi kata Mas Gian, untuk hamil kembar ini biasa." Mayang meraba perut bawahnya. "Dan saya benar-benar merasa tertekan."
Dokter Yoga mengerti maksud Mayang, kemudian dia menunduk untuk memeriksa catatan mengenai kehamilan Mayang. "Perutmu cukup besar, wajar kamu merasa begitu."
Gian seperti merasa kalau seluruh kesalahan dunia ditimpakan padanya. Dia tidak mau sebenarnya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Oke ... cukup baik semuanya, jadi kita usg saja untuk melihat Gian-Gian kecil sedang apa di perut mamanya." Dokter Yoga berdiri dan meminta Mayang masuk ke ruangan dimana wanita cantik tadi terlihat gelagapan dan matanya merah.
Mayang tidak bereaksi apa-apa, hanya melihat sekilas, lalu tersenyum saat dibantu menaiki ranjang.
Gian di luar, memasang headphone dan mendengarkan apa kata Dokter Yoga dari sebelah sana. Layar di depan Gian menyala, menampilkan warna orange cerah.
"Oke, ini Gian pertama ...." Dokter Yoga berkata seraya menggerakan tranducer, Mayang mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama. Sementara Gian, berdebar-debar tak karuan. Ini pertama kalinya dia melihat wajah anaknya, ya, walau dia seharusnya bisa melihatnya setiap waktu. Tapi Gian agak kurang nyaman, tatapan Mayang saat diperiksa seperti menyalahkannya.
"Gian ... apa mau dilihat jenis kelaminnya sekalian? Atau karena jumlahnya empat, kamu terserah saja mau laki apa perempuan?" Dokter Yoga berucap keras-keras, seolah sedang menekankan sesuatu.
"Saya bayar paket penuh, Dokter." Gian mendengus, telinganya seakan ingin pecah karena teriakan dokter Yoga.
Mayang beberapa saat seperti menggabungkan ingatan, apa dia lupa menghitung anaknya? Tiga kan? Kenapa muncul satu lagi? Apa cebong Gian berhasil menyusul saat ketiga yang lain sudah berbentuk bayi?
Saat ini, Mayang ingin menangis, alih-alih marah. Dia dikatakan mandul, diejek orang sekampung, tetapi sekali hamil bisa mendapatkan empat. Apa ini artinya Tuhan itu adil sekali? Baik sekali padanya? Ya, mungkin ini cara Tuhan menunjukkan kuasanya.
Dia tidak berkata apa-apa, hanya mengusap air matanya saja, bersikap seolah dia sudah tahu segalanya.
Dokter Yoga terkekeh mendengar jawaban Gian, lalu menggerakkan tranducernya ke titik dimana organ vital bayi-bayi itu berada. "Tidak akan kusebutkan, tapi kamu harus bisa menghitung. Ini ujian buatmu, kalau berhasil, aku akan menyumbang perlengkapan untuk menunjang USG 4 dimensi ini di klinikmu."
__ADS_1
Gian berdecak, Mayang langsung merasa tidak senang. Gian membuat ini seperti anak-anaknya dipaksa bekerja bahkan sebelum lahir. Gian jahat sekali.
"Aku tidak mau kalau begitu ...." Gian keberatan. Seharusnya, Dokter itu tidak mengatakan apa-apa sekarang. Ini membuat rencananya ketahuan oleh Mayang.
"Tidak ada sumbangan kalau begitu!" Dokter Yoga berkeras. " Kamu juga harus belajar dari sini, nanti setidaknya kamu sudah ada pengalaman. Ini kalau belajar lagi, keluar uang lagi, loh!"
Kalimat itu sukses membuat Gian terpikat. Dia tidak boleh menghamburkan uang sekarang jika hanya untuk dirinya sendiri. Ada Mayang dan 4 anaknya yang harus lebih diutamakan ketimbang dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Mai ... aku terpaksa." Gian menarik napas, "Oke, Dok ... aku siap."
Dokter Yoga tersenyum jahil. "Oke ... sebutkan!"
Gian mengamati dengan teliti layar di depannya, lalu menyebutkan jenis kelamin bayi-bayi itu satu persatu. Organ vital si bayi seperti sedang unjuk gigi, sehingga Gian dengan mudah menebaknya.
"Bagus, Gian ... mereka sehat, hanya memang perlu banyak menambah berat badan. Kalau tidak ada halangan, usia 36 minggu bisa dilakukan tindakan persalinan. Kembar empat memang cukup langka, tetapi bukan hal yang tidak mungkin ada. Mulai sekarang, rencanakan persalinannya, dengan siapa, dimana, dan pastikan NICU memadai. Kita tidak tahu keadaan dengan pasti kecuali setelah bayi lahir."
"Baik, Ayah." Gian tersenyum.
"Kamu wanita kuat, Nak ... Gian beruntung memilikimu." Ucapan Dokter Yoga lamat-lamat di dengar Gian, saat layar mulai kosong dan headphone dilepaskan.
Pria itu tersenyum. Jelas ... seorang Gian tidak boleh beristrikan wanita biasa. Harus luar biasa dan kuat. Dalam segala hal, Gian memanglah sangat perkasa.
Dan sayangnya, Hira—Mahira nama lengkapnya, harus kehilangan kesempatan bersuamikan salah satu lelaki terkuat di bumi. Astaga, dari bentuk luarnya kelihatan, Gian pria yang luar biasa.
"Biar saya yang urus sisanya, Dokter." Hira mengambil alih pekerjaan Dokter Yoga. Dia tidak boleh terlihat tidak profesional. Ini tempat kerja, bukan di wilayah pribadinya.
Ketika Hira mendekat, Mayang tersenyum memandangnya. "Makasih, ya, Bu Dokter."
Hira tersenyum masam. Apa-apaan ucapannya itu? Dia bahkan belum menyentuh kulit Mayang, kenapa harus berterima kasih? Maksudnya, terimakasih telah melepaskan Gian apa? Dasar over pede!
Jika bukan karena larangan orang tuanya ikut ke kampung halaman Gian saat pria itu memutuskan pulang, maka dialah yang berbaring disana dengan perut buncit menggemaskan itu, beserta empat bayi di dalamnya. Seorang Mahira-lah yang membuat Gian menjadi pria paling bahagia, dan dirinyalah wanita paling sempurna juga beruntung di planet ini.
__ADS_1
Bukan Mayang!