Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Utarakan Dengan Benar, Nanti Saya Pertimbangkan


__ADS_3

"Benar, Yang ... kita mulai dari awal, aku-aku ingin memperbaiki niat awalku menikah denganmu, aku ingin menunjukkan bahwa setahun bersamamu mengubah semua perasaanku sama kamu." Ferdi memohon.


Kakinya melangkah lebih dekat ke Mayang, tangannya ingin meraih tangan Mayang, tetapi Mayang mundur, dan menjauhkan tangannya. Cukuplah gestur itu membuat Ferdi menyerah lebih awal, meskipun ekspresi Mayang tak menunjukkan penolakan.


"Benar-benar dari awal, Yang ... seperti awal yang kamu inginkan," bujuk Ferdi meyakinkan.


Mayang tersenyum sekilas. "Bagaimana dengan Lea? Mas sudah menikahinya secara siri, bukan?"


"Yah, aku terpaksa, Yang ... tapi aku bisa menceraikannya kapan saja." Ferdi bertekat.


"Begitukah?" Mayang tak percaya semua ini bisa Ferdi pikirkan. Memangnya wanita itu apa baginya? Apa dia berpikir bagai pria flamboyan dengan sejuta pesona? Ya, ampun ... mata Mayang makin terbuka melihat sisi pria yang pernah ia cintai dulu. Menyesal Mayang pernah melabuhkan hati pada pria seperti ini.


"Ya! Aku baru sadar kamulah yang aku cintai, Yang ... yang aku lakukan sama Lea itu kesalahan, dan aku khilaf, Yang ...!"


"Aku tersanjung, Mas ...." Mayang tersenyum. "Tapi maaf, Mas ... ini sudah sangat-sangat terlambat. Aku-aku entah bagaimana sudah tidak memiliki perasaan apapun sama kamu, Mas ... mungkin sebenarnya, aku hanya terlalu ngebet pengen punya pasangan saja waktu itu sampai aku sembarangan memilih pendampingku. Tapi sekarang, Mas ... aku tahu, pasangan itu sebuah anugrah juga musibah. Mungkin aku pernah grusa-grusu sampai aku terkena musibah, sekarang, aku ingin mencari pasangan yang bisa menjadi anugrah di hidupku, Mas ... dan itu bukan denganmu."


Ferdi mungkin terlalu terpesona dengan mantan istrinya saat ini sampai dia tidak paham kemana kata-kata Mayang tertuju. Atau mungkin dia sadar, hanya menjadi musibah buat hidup Mayang, sehingga kepalanya tanpa sadar mengangguk.

__ADS_1


"Aku mengerti ini sudah sangat terlambat, tapi beri Mas kesempatan untuk menunjukkan kalau Mas itu serius dengan semua ucapan Mas, dan Mas ini sudah berubah, Yang ...."


Mayang menghela napas, tidak tahu lagi bagaimana menyikapi keadaan ini. "Begini saja, Mas ... semua niat yang hanya diucapkan akan tampak seperti bualan bagiku, jadi buktikan saja bahwa kamu benar-benar berubah. Aku bisa pertimbangkan nanti. Sekarang, tolong jangan ganggu saya, Mas ... saya lelah."


Ferdi hanya sempat berbinar, tanpa bisa mengucapkan kata terima kasih, karena Mayang sudah melambaikan tangan entah pada siapa, dan berjalan dengan cepat meninggalkannya. "Aku tau kamu nggak akan lupa begitu saja pada perasaanmu, Yang."


Mayang akhirnya sampai di stan prasmanan yang sudah hampir habis menunya. Bibirnya menggerutu. "Ya Tuhan, ada orang seperti Mas Ferdi yang ndak tau malu dan sok kegantengan seperti itu?"


"Tapi pria itu pernah kamu cintai, nikahi, dan kini mau balikan lagi."


Mayang menoleh, bibirnya langsung mengerut, moodnya makin kusut, rasa laparnya mungkin sudah lari ke laut, melihat pria yang berdiri di sampingnya. Yang dengan entengnya menyahut gerutuan orang, yang dengan gaya menyebalkannya meletakkan piring, lalu mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Baru menatap siapa yang ditukas keluhannya.


Jelas Mayang marah dan kesal karena merasa dipermalukan. "Ada masalah apa Pak Dokter dengan saya? Saya sudah bayar di klinik Pak Dokter, dan kita tidak saling kenal, Pak ... kenapa Pak Dokter selalu muncul di depan saya dan-dan merendahkan saya?" Mayang tak terima. Tak peduli dia siapa, dan Dokter Gian siapa, melawan adalah jalan ninjanya.


"Saya punya masalah dengan pemikiran wanita yang mau-maunya balikan sama mantan yang jelas-jelas sudah menyakitinya." Gian kini menghadapi Mayang terang-terangan.


Mayang mendesahkan napasnya, kesal dengan sikap sok tahu dokter ini. "Kenapa saya sedang berpikir kalau Pak Dokter suka sama saya, sehingga Bapak terus memperhatikan saya, dan merasa kalah juga cemburu setiap kali ada pria sedang bersama saya!"

__ADS_1


Dokter ini harus diberi pelajaran. Oke dia pernah berhutang budi karena diselamatkan, tetapi jika terus begini, Mayang tidak akan terima.


Gian membelalak dan terdiam. Orang-orang disekeliling menjadi tegang. Mereka tahu dokter ini siapa, meski terkenal karena kegalakannya, tetapi itu tidak menjadi masalah. Adegan ini malah terlihat uwuw di mata mereka.


"Kalau suka sama saya, Pak Dokter Gian, ajak saya makan malam, utarakan niat Bapak dengan benar, nanti saya pertimbangkan." Mayang dengan tenang tetapi tetap tajam, memutar tubuhnya meninggalkan Gian yang menelan ludahnya diam-diam. Apa ini sebuah kode?


*


*


*


*


*


Halo, selamat pagi ... saya punya pr banyak dengan membalas 1k komentar yang masuk😄 makasih untuk 1k komentarnya, 🥰🥰🥰

__ADS_1


Gimana nih, Mayang udah keren belum?


__ADS_2