Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Sedang Mengusahakan Kembali Dekat


__ADS_3

Ada satu yang membuat Mayang terkagum-kagum pada sebuah kasih sayang hari ini. Seorang wanita yang begitu telaten mengurusi anak-anaknya, tetapi ia menunggu sampai suaminya datang untuk makan siang bersama. Ia menyiapkan menu yang sepertinya kesukaan sang suami.


Mayang tersentuh menyaksikan, bagaimana anak-anak mereka begitu pengertian dengan tidak mengganggu orang tuanya makan.


"Abang kenapa makannya begitu? Nggak enak makanannya?"


Mayang mendengar rajukan itu. Matanya benar-benar tak lepas mengawasi pasangan yang menurutnya romantis.


"Enak—"


"Tapi Abang ogah-ogahan makan?" Terlihat mata itu memancarkan kemarahan tertahan. Antara ingin marah-marah, tetapi tak sampai hati meluapkan. Betapa besar cinta diantara mereka sampai marah saja tak sanggup. Mayang masih lekat mengawasi.


"Sayang ...," kata pria itu. Tangannya mengelus kepala sang istri. Mayang tau mereka bukan pasangan muda, tetapi siapa juga bisa merasakan aura cinta mereka yang begitu kental menyelimuti.


"Abang sudah makan tadi. Dilihat-lihat menunya sama, jangan-jangan kita makan dari resto yang sama. Dan Abang agak kelewatan makannya, keinget makanan Ibuk dulu."


Mayang menyipit usai terbengong beberapa saat lamanya. Sungguh ia tak menyangka akan ada ucapan selembut itu usai protes yang menurutnya agak lebay hanya soal makan saja.


"Kamu nikmati saja makan siangnya, lupakan diet, lupakan berat badan, lupakan semua masalah di rumah. Kita disini liburan, oke." Kecupan sayang mendarat di kepala sang istri.


"Abang akan menemani kamu." Tatapannya begitu intens dan lembut. Itu sungguh bikin meleleh.


Mayang membuang napas, "semoga bukan pencitraan semata." Batinnya menggumam. Lantas ia menarik perhatiannya dari pasangan itu ke layar ponsel di depannya. Layar itu sepi, tak ada pesan dan tak ada telepon yang isinya hanya rayuan gombal Gian.


Pria itu kadang mengirimkan kata-kata mesum yang receh, kadang romantis dan puitis, kadang juga ngomel tak jelas. Mayang rindu jujur saja. Namun ia kembali mual yang terus ia tahan, kepalanya terus menggumamkan sugesti. Gian pasti butuh dia untuk melakukan banyak hal.


"Nduk ...."


Mayang mendongak, melihat sang mertua terlihat serius menatapnya. "Gian sudah ngabari kamu soal pengembangan rumah sakitnya?"

__ADS_1


Mayang sedang berdiri dan agak gugup. "Mas Gian belum kasih kabar apa-apa, Pak."


"Wah, dia pasti sibuk sekali dengan investor itu, sampai lupa belum kabari kamu." Hadyan membuang napas. Gian sudah cerita, tetapi Hadyan pura-pura tidak tahu. Ia kemari untuk mengabari hal ini, siapa tau Mayang sedang mengkhawatirkannya.


Mayang menggigit bibir dengan gelisah. Batinnya menggumamkan diskusi. Mengakui keadaan dirinya atau membiarkan Hadyan memarahi Gian soal tidak diberitahukannya hal ini.


"Bapak tau kamu sedang hamil." Hadyan menyambung, raut wajahnya terlihat gelisah. Mayang mulai berdebar tak karuan. Mertuanya akan mengomeli soal sikapnya pada Gian.


"Tapi Bapak harap kamu ngerti keadaan Gian jika dia sibuk di luar. Tolong percayalah, Gian tidak main perempuan atau mendua. Gian sedang berusaha untuk menata masa depan. Ini untuk masa depan kalian. Bapak tidak bermaksud menyamakan kamu sama Anggi, tapi Bapak tidak mau hal itu sampai terulang kembali."


Ada beberapa hal yang mungkin menindih sikap aneh saat hamil, terlepas dari Hadyan percaya perubahan suasana hati saat hamil. Hadyan hanya tidak ingin anaknya gaduh dan tidak dewasa menyikapi semuanya. Jika Gian maklum, Mayang justru baru pertama kali merasakan dan tahu perubahan drastis yang agak susah diterima olehnya.


"Saya percaya Mas Gian, Pak ... dari caranya mengejar saya saja, saya yakin Mas Gian itu ndak akan mudah berpaling. Dan saya juga sedang berusaha mengajak diri saya menerima suasana baru ini. Saya mengerti kecemasan Bapak," kata Mayang perlahan membaca arah pembicaraan Hadyan.


"Bapak tahu kamu itu berbeda, May ... beruntung kalian bisa sama-sama mampu mengalahkan ego masing-masing. Pengalaman selalu mengajari kita banyak hal, ya?" Hadyan tak kuasa menyembunyikan senyum kepuasan di sudut bibirnya.


"Ngomong-ngomong, Bapak tadi beli jeruk. Biasanya wanita hamil suka buah-buahan segar," kata Hadyan buru-buru.


"Saya jadi lebih mirip bakul buah jeruk sekarang, Pak." Melihat jeruk yang dibawa Hadyan jumlahnya berkilo-kilo. "Dibagi-bagi boleh, kan, Pak?"


"Itu buat kamu, jadi suka-suka kamu saja, Nduk." Hadyan duduk. "Bapak mau ngopi lah, lelah sekali rasanya di sana sendirian." Pria baya mengeluh dan merentangkan punggungnya.


"Tunggu saya longgar ya, Pak ... nanti saya bantu." Mayang paham, ini kode keras mertuanya agar dia segera bisa istirahat di usia tuanya.


"Tidak usah dipikirkan, yang penting cucu Bapak sehat semua. Bapak jadi ndak sabar momong cucu." Hadyan mengatakan itu tulus. Dia lelah, tapi juga bahagia. Dapat cucu langsung dua.


Mayang bersyukur dalam hati. Rasanya bahagia semua orang perhatian dengan kehamilannya. Bergegas ia menyeduhkan kopi untuk Hadyan. Dia jadi rindu membuatkan kopi untuk Gian.


Gian sendiri tak begitu memikirkan ketidakakurannya dia dengan Mayang. Justru sedang sibuk dengan dua pasien 'vip' yang membuatnya kalang kabut.

__ADS_1


Anggia histeris begitu melihat Gian memeriksanya sore ini. Berteriak kencang hingga membuat semua orang bingung menenangkan.


Gian menggaruk kepalanya sembari meringis yang disembunyikan di balik kepalanya yang terus menunduk. Di depannya ada Mardian yang baru beberapa saat lalu diketahuinya telah menikahi Anggi secara siri. Jujur Gian agak sungkan dengan Mardian ini.


"Saran saya, Bu Anggi dirujuk ke rumah sakit negri, Pak Mardian. Saya khawatir selain kehamilan ada penyakit lain yang di derita. Kami belum punya dokter yang menangani masalah yang berkaitan kondisi psikologi pasien."


"Jadi maksud Pak Dokter, istri saya mengalami gangguan jiwa?" Mardian sampai memajukan wajahnya. Bagaimana bisa ketika mereka sah menikah malah Anggi menjadi gila?


"Mungkin hanya stres karena belum bisa menerima kehamilan di luar rencana saja, Pak." Gian mencoba mengaburkan alasan sebenarnya. Tidak mungkin kan, Gian bilang Anggi histeris karena tidak bisa memilikinya?


"Saya tahu Anggi begitu ingin kembali pada anda, Pak ... apa Bapak tidak bisa diajak kerjasama soal ini?" Mardian memohon diujung rasa frustrasi yang dideritanya. Hamil direncanakan atau tidak, Anggi tidak mungkin akan stress dengan mudah. Anggi juga tidak butuh rujukan ke rumah sakit besar lain di belahan dunia manapun. Obatnya hanya Gian seorang.


"Tolong biarkan Anggi berpikir Pak Dokter adalah suaminya dan Qila adalah anak Bapak." Mardian bersimpuh.


Astaga! Gian meraup wajahnya frustrasi. "Tolong jangan begini, Pak Mardian." Gian menarik Mardian agar berdiri kembali. Seorang anggota dewan berlutut hanya karena seorang wanita. Ini cinta atau kebodohan sebenarnya?


"Saya mohon, Pak." Mardian tergugu, dan Gian makin tak percaya itu keluar dari mulut Mardian. Mantan suami Riska yang begitu agung dan di sanjung.


"Kita tidak bisa bicara jika kondisi Bapak lemah seperti ini. Penuh emosi dan tidak berpikir panjang. Mari kita bicara sebagaimana pria menyelesaikan masalah." Gian berkata tegas. Mengabaikan rasa geli yang membuatnya ingin menertawakan Mardian.


*


*


*


Hayolo, hayolo🤣🤣🤣


Banyak yang komen, besok dobel up lagi🤣🤣🤣 sekarang mau melipir ke lapak ungu🤣

__ADS_1


Yuk, waktu dan tempat dipersilakan😄


__ADS_2