
Ferdi mengusap wajahnya dengan brutal, beberapa saat lamanya, ia menekan telapak tangannya di sana.
"Kenapa jadi seperti ini?" Pria tiga puluh tahun itu menggumam penuh geram. Marah ...? Jelas!
Setiap rencananya diatur, dipikirkan matang-matang sendiri. Tidak ada Lea ataupun ibunya. Dia mengatur sendiri semuanya. Ferdi tidak suka jalannya dicampuri. Dia lebih suka menunjukkan hasil usahanya dalam bentuk jadi, menyodorkan dengan sikap jumawa.
Lea hanya tahu sebagian, namun Lea adalah partner yang pas. Ibunya—Ferdi jelas mengerti benar sifat ibunya—pasti akan dengan mudah mengacaukan dengan mengobral rencananya di muka semua orang. Ferdi memilih menyimpannya sendiri.
Akhir-akhir ini, dia kurang fokus. Di kantor, dia tidak lagi ditinggikan, dielukan, semenjak rekan-rekannya curiga dia bohong soal kepemilikan Selera. Saira juga tak lagi ramah padanya. Tak ada lagi pemakluman untuknya. Dia bekerja sama seperti yang lain. Ferdi memendam tekat berbalut ambisi, akan membuktikan bahwa dirinya akan menggenggam lagi hormat yang sempat hilang.
Mayang membahas soal Arumndalu, terlebih santer terdengar isu jika Hadyan ingin pensiun dari usaha yang membesarkan namanya. Arumndalu dijual, Mayang dianggap mampu membeli, jadi Ferdi memutuskan untuk join. Batu lompatan di depan mata. Mayang adalah segalanya, ia putuskan untuk menuruti Marini untuk meninggalkan Lea, lalu setia pada Mayang.
Cinta itu gamang bagi Ferdi, hidupnya adalah soal kenyamanan. Tempat setianya adalah kekayaan.
Kesulitan membuatnya kembali kacau dan goyah. Lea menawarkan kepatuhan, Ferdi memanfaatkan, tidak masalah dengan syarat Lea. Wanita mudah ditangani dan diatur. Asal tujuannya tercapai. Fokus Ferdi hanya Arumndalu, tak melihat jika Mayang sudah begitu banyak tahu soal dirinya. Lea diam-diam mengkudeta.
Uangnya tidak mungkin kembali. Itu yang pasti.
Perhiasan Lea bukan lagi masalah, tapi tanah yang digadaikan? Bagaimana dia akan menebusnya? Nilainya juga tak sedikit ... darimana nominal itu akan dia dapatkan setidaknya dalam waktu tiga bulan.
Mengumpatpun rasanya percuma.
Ferdi memutuskan turun, pantatnya sudah sangat panas, sepanas otak dan hatinya.
__ADS_1
Suara kecil nyaring terdengar dari balik pintu yang tertutup.
"Kamu wanita pembawa sial! Pergi kamu dari rumahku!"
"Aku nggak mau pergi, sebelum Mas Ferdi mengembalikan uangku, Buk ... aaww!"
Benih amarah Ferdi tumbuh dengan cepat, napasnya terembus bagai banteng yang sedang marah. Suara mereka begitu gaduh, membuat Ferdi melangkah cepat dan mendorong pintu sampai terbuka lebar. Keributan di depan matanya sangat sengit, ibunya yang anggun itu terlihat berang dan barusan tampaknya menyeret Lea sampai Lea masih bersimpuh di lantai, sedang berusaha berdiri.
"Kamu membuat anakku terjerumus hubungan terkutuk, sampai langit murka, sampai bumi ndak merestui usahanya. Kamu membuat anakku dan Mayang berpisah, kamu yang membuat semua ini jadi kacau. Kamu pembawa sial, Lea!" raung Marini. Ibu Ferdi itu sudah kalap.
"Jangan bicara sembarangan, Buk ... anak Ibuk yang sembrono! Aku sudah mengingatkan, tetapi nafsunya akan harta membutakan mata!" balas Lea tak mau kalah.
"Kamu tau apa soal harta, ha? Kamu ini hanya akan jadi penyakit yang menghabiskan harta anakku saja! Kamu yang akan membuat semua usaha anakku berpindah ke tanganmu suatu hari—"
"Kamu licik, Lea! Kamu perempuan ular pembawa sial! Mulutmu itu lebih busuk dari bangkai, lidahmu lebih licin dari belut! Mudah sekali kamu berkelit, anakku ndak mungkin merendahkan diri meminta uang dari perempuan rendah seperti kamu!" Marini jelas tak terima. Mayang jelas mengatakan kalau uang itu berasal dari mengambil uang Mayang. Jadi, Lea pasti hanya asal bicara.
"Aku tidak peduli Ibuk mengatakan aku ini apa! Yang jelas aku selalu berkata benar! Jika tidak percaya tanyakan pada anak kesayanganmu itu, Buk!"
"Apa yang mau ditanyakan? Semua jelas, kamu hanya penipu licik yang akan mengambil uang anakku!"
Marini dan Lea beradu muka, sangat dekat, sampai mungkin bisa saling merasakan napas masing-masing.
"Hentikan semua ini!" teriak Ferdi. Lea dan Marini langsung menoleh, siap saling mengadukan opini masing-masing untuk mendapatkan pembelaan dari Ferdi.
__ADS_1
"Semua nggak akan selesai jika kalian terus berantem kaya gini!" Tatapan Ferdi bergantian menghujam ibu dan selingkuhannya. Lalu setelahnya, dia berlalu menuju kamar.
"Ferdi ... tunggu, Nak!"
"Mas, bagaimana uangku, Mas?"
Dua wanita itu membelalak sesaat sebelum berlari tak karuan memburu Ferdi.
Pintu kamar Ferdi tertutup dengan suara memekakkan telinga. Lea dan Marini menubruk pintu itu bagai peminta-minta, menggedor dan berteriak, tetapi semua teredam oleh suara Ferdi yang meraung dan menghancurkan seisi kamar.
"Kamu jahat, Mayang! Kamu licik!" raungnya berulang-ulang.
*
*
*
*
*
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat pembaca yang muslim, semoga lancar puasanya, berkah ibadahnya🤲🏻🥰
__ADS_1
Gimana nih, kira-kira ganggu puasa nggak, kalau aku update siang? Kalau ganggu aku ganti update malam saja setelah buka. Aku nggak enak ati bikin puasa kalian terganggu🥺 masukannya ya, gengs🙏