Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Mocca Coffie


__ADS_3

Persalinan yang diperkirakan akan terjadi sekitar pukul empat, ternyata meleset dari perkiraan. Pukul tiga pagi, Gian sudah selesai menangani persalinan normal kedua malam ini. Hani dan seorang perawat juga sudah selesai melakukan perawatan pasca persalinan.


"Dua jam lagi, kalau nggak ada keluhan, kamu pindahkan ke kamar," perintah Gian pada Hani. Wanita itu mengangguk, terlihat senang menjalankan tugas hari ini.


"Semalam, terimakasih ya, Pak ...," kata Hani saat Gian bersiap meninggalkan ruang bersalin. "Kami jadi semangat lagi, Pak."


Gian menatap bidannya yang masih lajang itu dengan heran.


"Bapak jangan marah, ya, jadi bagian Bapak, sudah saya antarkan ke ruang kerja Bapak, tapi Bapak sudah pulang sepertinya." Hani menunduk, "Jadi daripada mubazir, kami makan."


"Kamu ngomong apa, sih, Han ... saya nggak paham." Gian masih mengerutkan kening.


"Pak Gian kan, yang beliin kita kue dan kopi dari Mocca?" Hani langsung menjelaskan. "Karena sifat Bapak yang agak itu—" Hani membenturkan kedua ujung telunjuknya. "Bapak diam-diam belikan kami makanan. Kami menghargai, Pak."


"Mocca?"


Hani mengangguk.


"Banyak banget makanannya?" Gian terkejut sendiri. Mayangkah yang melakukan itu?


"Banyak banget, Pak ... rencananya sisanya bakal kami bawa pulang. Hehehe—kalau Bapak izinkan." Hani menciut melihat wajah Gian yang tampal syok.


"Ya, udah ... bawa aja." Gian memijat keningnya. Lantas berlalu dari depan Hani yang tak sabar ingin berjingkrak girang.


Hani melongok ke luar ruangan, memastikan Gian benar-benar berlalu dari sana. Tangannya yang sebelah melambai kepada perawat yang sedari tadi mendengarkan obrolan Hani dan Gian, namun ia berpura-pura masih mempunyai pekerjaan di sana.


"Hei-hei ... sama Pak Gian dibolehin bawa pulang, duh, auto irit uang makan siang ini," celoteh Hani suara rendah. "Pak Gian kenapa, ya?"


"Semalam ada yang nyariin dia, nanyain Pak Gian gitu, Mbak ... trus anak jaga kan suka iseng nguping telepon yang terhubung ke Pak Gian, kayaknya, Pak Bos lagi jatuh cinta gitu lah, sayangnya ketahuan, jadi nggak bisa dengerin lagi apa yang mereka obrolkan selanjutnya." papar perawat yang bertugas bersama Hani.


"Oh, jadi Pak Dokter gal—"

__ADS_1


"Han, kamu yakin dari Mocca, kan?"


Hani membungkam mulutnya. Dia hampir saja kelepasan mengatai Gian dokter galak. "Yakin, Pak!" jawabnya cengengesan.


Gian manggut-manggut, dari tatapannya tampak dia masih memikirkan sesuatu. "Ya, udah ... makasih infonya, ya. Eh, saya balik ke mess dulu, nanti telepon saja kalau ada yang penting."


Gian pergi dengan senyum langka tersemat di bibirnya, membuat Hani lagi-lagi heran dibuatnya.


"Kan, Pak Gian aneh? Mana pernah dia senyum tanpa sebab kaya gitu." Ucapan Hani diangguki oleh perawat yang bersamanya. Fix, Bosnya jatuh cinta.


Selama tiga hari ini, secara praktis Gian tak tidur dengan nyenyak, tetapi Mayang membuatnya seakan dia tidur berhari-hari. Senang dan juga segar. Ah, Mayang ... manisnya bikin kepayang.


Gian mengayunkan langkahnya ke mess dengan tergesa. Mungkin Mayang belum bangun, jadi dia bisa mengulang lagi yang semalam.


Sesampainya di mess, Gian menuju kulkas, menyiapkan air perasan lemon, yang di beri es batu. Pasti ini bikin seger nanti.


Benar, Mayang masih terlelap memeluk guling. Gian tahu Mayang kelelahan. Tapi, kelamaan puasa membuat Gian segera melepaskan pakaiannya dan merebah di belakang Mayang dengan telanjang dada. Mayang tidak boleh tahu kalau barusan Gian meninggalkannya.


Gian terperanjat, sampai ia bangkit dan menyangga tubuhnya dengan siku. "Kamu tahu aku pergi?"


Mayang membalik tubuhnya, membuka matanya yang teramat mengantuk untuk memandangi suaminya. "Taulah, orang hapenya bunyi kenceng banget." Bibir Mayang tersenyum tipis.


Gian perlahan merebahkan tubuhnya, setelah melihat Mayang sama sekali tidak marah atau kesal sebab ditinggal begitu saja, bahkan sisa-sisa percintaannya belum juga kering.


"Dokter sama tentara sibuknya sama, ya, Pak?" tanya Mayang. Ekspresi Mayang yang setengah menahan kantuk membuat Gian tak tahan untuk tidak mencuri ciuman di pipi Mayang.


"Akan seperti ini jika dokter lain sedang berhalangan. Tidak selalu setiap hari terjadi." Gian mengatakan di ujung hidung Mayang. Lalu perlahan ia turun ke atas bibir Mayang. "Bisa kan memaklumi pekerjaan saya?"


Mayang menggumam hem, dan—entah sadar atau tidak, Mayang melabuhkan bibirnya di bibir Gian. Hanya kecupan singkat, namun itu berhasil membuat Gian meronta-ronta.


"Kamu mau minum?" tawar Gian. Mayang mengangguk, "akan Mas Gian ambilkan."

__ADS_1


Gian bangkit seraya membenarkan posisi sesuatu di antara dua kakinya. Tidak mungkin dia akan melakukan itu jika Mayang tidak terjaga. Kaya pencuri saja, kalau sama-sama sadar, tentu lebih berkesan. Gian bersiul sepanjang jalan, dari kamar sampai ke kamar lagi. Baru berhenti ketika ia membantu Mayang bangun.


"Huek!" Mayang terkejut dengan guyuran air dingin dan asam yang mendarat di lidahnya. Matanya langsung mendelik tajam ke arah Gian. "Ini air apa, Pak? Air cucian tangan?"


"Air lemon." Gian terkekeh, menunjuk gelas yang akan ia minum juga. "Bekas bibir kamu yang mana tadi, Mai?"


"Ih, jorok ... masa cari bekas bibirku?" Mayang merengut. Kesal dua kali pada tingkah Gian yang aneh.


"Kenapa? Isinya bibir aja udah aku rasain kok—aduh!" Gian mengamankan es lemonnya, agar tidak tumpah ke kasur, tetapi gerakan refleks Gian saat Mayang mencubit perutnya, tetap menimbulkan cipratan di atas kasur.


"Kan tumpahan aku kesaingan sama ini." Gian agak kesal karena jejak percintaannya ternoda oleh air lemon.


"Ndak tumpah kali, Pak ... orang saya jaga baik-baik, kok ...." Mayang bergegas bangkit dengan senyumnya yang tertahan. Yang kedua kalinya, Mayang tak sempat membersihkan diri karena terlalu letih.


"Jadi gimana reviewnya, Bu Mai? Masih mau ngatain imut, unyu-unyu lagi?" Gian merasa Mayang juga bocor bibirnya, jadi terasa nyaman dan tidak kaku hubungan yang terkesan terpaksa ini.


"Lupa, Pak ... kan udah berjam-jam yang lalu." Mayang kini benar-benar berlari, ia tak mau Gian menerkamnya saat dia belum kembali prima.


Mayang tak menyangka, iya-nya tadi siang saat akan menikah, membuat perubahan besar dalam dirinya. Ada perasaan tertantang yang tak ada hubungannya dengan rasa trauma. Dia hanya merasa Gian terlalu serius memperjuangkannya yang masih jelas abu-abu. Gian juga tahu, tetapi dia memastikan bahwa hubungan ini layak dicoba.


"Semoga Pak Gian memang pelabuhan terakhir saya," harap Mayang dalam hati.


Gian menyilangkan kakinya seraya rebahan, menunggu Mayang kembali.


"Mai ... lama amat?" Gian tak sabar kembali membuat Mayang kesengsem sendiri. "Jadi nggak, ini?"


"Bapak sadar nggak sih, suara Bapak itu keras banget, loh. Gimana kalau ganggu tetangga?" Mayang muncul dan langsung merebah di sisi Gian.


"Biar aja, tetangga juga pernah bikin aku tersiksa dengan suaranya." Gian cuek, dan langsung menimpa Mayang.


"Jadi si unyu ingin main-main lagi, boleh kan Bu Mai?" Gian menaikkan alisnya. Dan pipi bersemu merah jawabannya. Sudah pasti sih, iya ....

__ADS_1


__ADS_2