
Satu minggu lamanya Mayang mendapatkan kedamaiannya kembali. Benar kata Rully, pasangan itu harus pilih-pilih, dan kini Mayang sepakat.
Single juga tetap bisa bahagia, itulah motto Rully yang dulu sempat dicibir Mayang yang seumur-umur belum pernah merasakan punya pasangan. Sementara Rully, dia bisa ganti pasangan setiap dua puluh empat jam sekali jika mau. Kakak kandung Mayang itu cantik paripurna, sayangnya, dia kurang bisa mengatur perkataan, temperamennya buruk, dan suka semau sendiri. Jiwanya bebas, tidak suka dikekang. Itulah Rully.
Sore ketika matahari bersirah cerah namun udara berembus dingin ini, Mayang baru saja pulang dari Gym. Meski begitu, Mayang tidak tampak lelah, semangatnya selalu penuh, tak peduli bagaimana suasana hatinya. Atau setidaknya, begitulah hatinya bertekat.
"Mayang!"
Mayang berjengit dalam hati, perlahan dia menoleh. Sikapnya penuh antisipasi melihat Ferdi baru saja turun dari mobil dan menghampirinya.
Ferdi menatap Mayang dengan ketidaksukaan memenuhi wajahnya. Tangannya melemparkan beberapa lembar kertas ke muka Mayang. "Sampai mati pun aku tidak akan menceraikan kamu!"
Mayang melengos dengan senyum sinis terbit. Ia mencemooh. Apa-apaan dia? Ingin mempersulit atau sengaja berniat menggantung nasib?
"Silakan!" Mayang menantang, dipikirnya dia takut apa? "Jika kamu merasa diuntungkan dengan hal itu! Tetapi bagiku, kamu sudah menjadi orang lain."
__ADS_1
Ferdi meremehkan. "Kecuali jika kamu kembalikan uangku, baru aku akan menceraikanmu dengan senang hati!" tawar Ferdi.
Mayang tersenyum miring. "Oh, jadi uang lagi masalahnya? Perlukan kita rinci berapa selisih gajimu dan pengeluaran keluargamu? Kita lihat apa kamu masih punya muka seperti sekarang kalau lihat hasilnya? Harusnya, aku yang minta ganti rugi sama kamu, Mas ... harusnya aku yang mendatangimu dengan tidak terima meminta uangku kembali, tetapi aku ikhlaskan semua itu aku anggap sedang bersedekah pada orang yang membutuhkan."
Ferdi menelan ludahnya getir. "Aku kemari meminta baik-baik, Yang ... aku tidak mau berdebat. Aku hanya minta apa yang kamu ambil dengan curang dariku. Kamu menipu, kamu melakukan tindakan kriminal." Wajah Ferdi tampak tersinggung, tetapi ia mengabaikan ucapan itu. Benar memang apa kata Mayang, dan Ferdi memilih mengalihkan pembicaraan. Dalam hal itu, dia jelas kalah.
"Lalu rekening gendutmu itu dari mana asalnya? Dari langit jatuh ke rekening? Atau kamu punya pabrik uang sendiri? Enak sekali kamu mengatakan aku kriminal, diri sendiri saja perampok," cerca Mayang.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, tetapi kamu nggak punya bukti yang kuat, soal pencurian yang kamu sertakan untuk memberatkanku, dan meluluskan gugatanmu!" Ferdi berang. "Aku minta uang yang tiga ratus juta terakhir kamu kembalikan!"
"Kalau Mas Ferdi masih tidak terima, baik ... akan aku bawa semua ini ke polisi. Kebetulan rekaman cctv dan visum atas kekerasanmu kemarin masih di tangan polisi, mereka juga menawarkan bantuan hukum jika ingin menjerat kamu dengan hukuman pidana dan perdata atas kerugian yang aku dapatkan. Silakan ajukan semua keluhanmu pada polisi, Mas ... aku menantikan panggilan itu dan kita bertemu di pengadilan," tantang Mayang. Sedikit membual, karena luka memarnya di foto sebagai bukti tambahan. Namun, bukti-bukti pencurian Ferdi di Selera dan Gudang Rasa memang nyata adanya.
Ferdi mendadak ciut. Sama sekali tak berpikir sejauh itu, ia kemari hanya modal nekat karena takut tanah yang ia perkirakan bernilai mahal itu akan dilelang jika dia tak mampu menebusnya. Sementara, dia menggadaikannya dengan harga yang sangat murah.
"Apa Mas Ferdi ingin malam pertamamu dengan Lea di habiskan di balik jeruji besi? Menimang anak kalian di dalam penjara," ejek Mayang. "Oh, pantas ... denganku kamu bahkan ogah-ogahan, ternyata sudah habis-habisan dan all out saat sama selingkuhan." Mayang tertawa miris.
__ADS_1
Ia menyadari satu hal, ucapan Dokter Gian waktu itu memang mengisyaratkan kalau dia telah di duakan.
Ferdi membelalak, "Kurang ajar sekali mulutmu itu, Yang—"
"Aku begini karena kamu yang ngajari, Mas ... kamu yang membuat aku jadi seperti ini!" Mayang tak takut, dia justru mendekat dan menaikkan wajahnya menantang Ferdi.
"Ayo segera kita selesaikan, Mas ... biar ibumu segera menimang cucu darimu!" Rambut Mayang yang diikat ekor kuda, mengibas tepat dimuka Ferdi kala ia berbalik. Puas sekali rasa hatinya.
*
*
*
*
__ADS_1