Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Nikung Dengan Cara Halal


__ADS_3

Menjelang subuh, mereka telah kembali. Perjalanan pulang yang melelahkan telah menanti. Gian tak menyangka, nafsu belanja Mayang menggila melihat sayuran segar di depan mata, sehingga mobil nyaris kelebihan muatan jika Gian tak menghentikan Mayang.


Gian semalam baru pulang dari klinik. Dia ada operasi sekitar setengah tujuh malam. Setelah itu, masih harus visit, meski amat terlambat. Belum lagi ada rapat bersama staf administrasi yang menyita waktu sampai sekitar jam sebelas malam. Gian lelah, sekaligus senang. Mayang rela menyuapinya saat Gian mengatakan lapar sementara mereka tak bisa berhenti karena jalan terlalu sepi.


Gian tersenyum seraya menyisihkan rambut Mayang yang terburai memenuhi wajah. Berbekal bantal leher, Mayang yang kelelahan tertidur nyaris sejak mobil melaju. Gian hanya melaju dalam kecepatan sedang, dan karena jalanan masih sepi, Gian bisa leluasa memandangi Mayang, tanpa khawatir akan menabrak.


"Dia bilang imut, kecil, dan unyu-unyu ...." Gian mendesis sinis. "Awas saja nanti kamu, Mai ...!" tekad Gian seraya bergumam. Gian punya rencana untuk segera memikat Mayang. Ya, memikat dan mengikat.


Sekira pukul lima pagi, mobil Mayang tiba di Tiga Dara. Mayang pun sudah terjaga.


"Nggak usah dibongkar, Pak ... nanti saya minta sama pegawai sini saja untuk membongkar. Bapak ngopi di sini apa di rumah saya saja?" tawar Mayang seraya menutup rolling door tempat biasa Mayang memarkir mobilnya. Ia tak ingin bahan masakannya kembali kena aksi jahil seseorang.


Gian menggeliat, seraya berkata, "romantis dimana, Bu Mai?"


Mayang sekali lagi membeliak. Ucapan Gian yang seperti itu masih membuat Mayang terkejut. Ya, meski dia merona lama-lama. Tapi tetap saja, Mayang agak gimana gitu, mendengarnya.


"Kita bukan pasangan, Pak ...," jawab Mayang sambil ngeloyor pergi.


"Ya, udah jadian aja mulai sekarang!" Gian perlahan mengikuti.


"Kalau mandi di sini, ndak ada air panasnya, ndak ada baju gantinya," kata Mayang mengabaikan ucapan Gian yang tadi itu. Jujur saja, Mayang ini malu soal tembak menembak, dia malu menghadapi mata Gian saat menggombal, bisa-bisa dia lansung mengiyakan saja aapa mau Gian karena telah jatuh terhipnotis oleh Gian.


"Kalau di rumah?" beo Gian yang sudah sampai di belakang Mayang.


Mayang membuka pintu belakang sambil memutar tubuhnya, mencuri pandang ke arah Gian. Wajah lelahnya sungguh menggenaskan, mirip panda, karena semalam penuh dia tidak tidur.


"Ya, Pak Dokter langsung pulang aja, nanti saya kasih amplop deh, ganti uang lelah," canda Mayang. Serius tapi, Mayang menyediakan uang satu juta untuk membayar kompensasi tenaga Gian. Selain Mayang, mana ada orang yang memperkerjakan dokter spesialis sebagai sopir.


"Isinya cinta baru saya mau, Bu ...." Gian nyelonong masuk. "Selain itu aku nggak mau, uangku sebrankas penuh." Gian pamer. Enggan direndahkan Mayang terus-terusan, meski kesannya bercanda.

__ADS_1


"Utangnya juga penuh jangan-jangan, sampai Pak Hadyan mau jual Arumndalu." Mayang berkata tepat sasaran.


"Yah, awalnya emang iya, sekarang udah nipis, Bu Mai, makanya aku berani ngajak Bu Mayang kawin."


Mayang menoleh, "jadi bener, Arumndalu sempat bener-bener mau dijual?" Mata Mayang sampai membola. Gosip itu rupanya memang benar adanya, merebak di kalangan emak-emak berkantong tebal.


Gian hanya memajukan bibirnya saja sebagai jawaban. "Jadi saya harus ngopi dimana, Bu?" Malah ia balik bertanya.


"Pak Dokter kalau saya tanya apa, jawabnya apa. Selalu begitu dari kemarin kalau saya nanya soal Bapak." Mayang mendatangi kompor, lalu merebus air. Aduh, kesal rasanya kalau penasaran tapi tidak terjawab. Mayang ingin tahu sekali.


"Bu Mayang juga, saya minta apa dikasihnya apa ... saya cuma minta cinta, gratis, itu cuma perlu mengakui saja. Mustahil kalau Bu Mayang tidak jatuh hati sama saya."


Gubrak!


Mayang tanpa sengaja menjatuhkan wadah gula saking syok mendengar kepercayaan diri pria ini. Benar-benar level atas.


"Hati-hati, Bu ... saya nggak kemana-mana." Tangan Gian ikut andil mengambil tutup toples gula yang jatuh, lalu meletakkannya di sebelah Mayang. Gian tersenyum lebar sampai ke telinga, seringainya itu terlihat sangat menawan.


Gian entah apa sebabnya, dia sangat suka melihat wanita manis seperti Mayang. Bukan mengada-ada, tapi kenyataannya yang malu-malu lebih mudah diajari dan diarahkan. Cenderung gampang diajak kerjasama. Meski nanti, kalau sudah mahir, dia akan menguasai. Tidak apa-apa, Gian juga suka menikmati. Hidup kan harus gilir gumanti, jangan hanya mau digilir tapi ngga mau berganti. Hidup kan harus berputar, masa dibawah mulu, kapan diatasnya? Eh!


"Bu Mayang kayak anak gadis, malu-malu kucing, tapi sebenarnya—"


Mayang menoleh, mengisyaratkan agar Gian diam. Bisa-bisa nanti Mayang ambruk di kaki Gian dan minta dinikahi secepatnya.


"Saya hanya mau minta lemon dan air dingin, Bu ... kalau ada es batu."


Mayang menyipitkan mata, usai melebar tak karuan pada Gian yang melantur dan mempermainkan perasaannya. Apalagi maunya pria itu? Pintar sekali mengalihkan topik pembicaraan, dan anehnya, Mayang hanyut tak bisa dihentikan lajunya.


Pria itu celingukan, mencari sendiri apa yang dia mau sambil bergumam 'lemon' lantas ia melangkah ke arah kulkas.

__ADS_1


"Buat apa, sih, Pak?" Mayang siap menyeduh kopi. Aroma bubuk kopi buatan sendiri itu memenuhi ruangan dapur bersih ini. Mayang tak menoleh, tatapi suara berisik di belakang membuat Mayang gatal ingin melihat.


"Saya lagi coba nggak ngrokok, Bu ... trus saya kalau lagi lelah banget, suka minum air perasan lemon dingin, biar seger kembali—dapat." Gian menjelaskan. Setelah menggenggam lemon berukuran sedang dan satu kotak es batu, Gian mendekati Mayang.


"Bener bisa gitu, Pak? Kan asem itu rasanya." Mayang tak berubah posisi, hanya melirik bawaan Gian yang seabrek jumlahnya.


"Lebih asem kalau perasaannya nggak dibales, Bu ...."


Mayang meletakkan pelan sendok yang digunakan untuk mengaduk kopi. Ia menghela napas pelan dan menghadap Gian.


"Pak, saya bukan ndak mau membuka hati kembali. Saya mau kok, saya sadar saya butuh pendamping, tapi ... saya tidak ingin dicap tukang kawin. Mengerti kan maksud saya?"


Gian manggut-manggut. Ia sangat paham.


"Saya takut kalau disangka ninggalin suami saya demi punya suami yang lebih kaya. Lebih segalanya. Meski saya kalau nikah lagi tetap milih yang levelnya sama dengan saya, biar ndak saling ribut soal harta. Kalau bisa ya, kita sama-sama pernah tau rasanya membangun sebuah usaha, jadi ndak serta merta punya uang banyak," papar Mayang.


"Kalau gitu saya, yang paling pas dengan kriteria Ibu. Saya pernah berjuang sampek jelek muka saya, Bu ... kegantengan saya luntur saking tak tau malunya saya mengemis pekerjaan. Belum lagi kesana kemari pinjam uang, tapi ditolak, ah, pokoknya saya ini ngenes jalan hidupnya." Gian membeo tanpa sadar.


Mayang terkekeh. "Saya pasti terpaksa kalau nikah sama Bapak. Bisa-bisa saya ndak fokus kerja, sibuk ketawa sama tingkah Bapak yang aneh ini."


Kepala Gian berpijar, seakan bola lampu raksasa dinyalakan di atas sana. Ya, itu caranya, Gian harus bergegas. Resah hatinya, hanya bisa dinetralkan dengan adanya Mayang di ranjangnya.


Please, May ... iya, kan saja lamaran saya, sebelum saya pake jasa Mbak Riri untuk menyalakan remot jiwa kamu.


Ah, tidak-tidak ... Mbak Riri kurang manjur. Gian—meski jarang, ia masih suka bangun, ralat ... belum tidur di sekitar jam dua sampai subuh tiba. Kadang, dia suka curhat sama Sang Pencipta. Mungkin kali ini, Gian akan nikung hati Mayang dengan cara yang halal.


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2