
Satu minggu penuh Mayang dan Gian berjauhan. Pun dengan Rully dan Djarot yang sama sekali tidak ada perkembangan. Kedua wanita itu sering sekali melamun dan tidak fokus saat bekerja. Bahkan Rully sampai mengosongkan rambut salah satu pelanggannya karena terlalu lama terpanggang curling iron. Lain hari, kuping pelanggannya ikut kena batok saat sedang meluruskan rambut.
Sedangkan Mayang siang tadi dia mengirimi Gian pesan untuk pertama kalinya. Namun sampai hari menjelang malam, tak ada tanda-tanda Gian membacanya.
"May, nanti malam aku pulang, ya ... udah seminggu rumahku kosong. Takut ditiduri hantu kalau terlalu lama aku tinggalkan." Rully muncul dari arah luar rumah makan Mayang. Saat itu Mayang sedang duduk di dekat dinding kaca yang menghadap ke kafe Katon dengan segelas susu hangat di tangannya.
Rully duduk begitu saja di hadapan Mayang. "Nggak apa-apa kan, aku tinggal sendirian?"
"Iya, ndak apa-apa, Mbak. Mbak pulang aja, lagian aku udah ada temennya di rumah." Mayang berkata dengan lesu yang membuat Rully agak tak tega meninggalkan adiknya. Walau ada Mbak Martina yang menemani Mayang, tetapi rasanya akan berbeda jika Rully yang menemani. Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu, Rully bisa dengan cepat mengatasi.
"Em ...," ucap Rully seraya menggigit bibir. "Sebenarnya, aku nanti malam mau ketemu seseorang, eh ... bukan, Tapi mencari seseorang. Jadi aku takut akan pulang malam." Rully menyambung ragu-ragu.
"Siapa?" Otomatis Mayang sigap. Jarang sekali Rully berteka-teki seperti ini. Kalaupun kumpul sama gengnya, Rully akan mengatakannya dengan bangga. Siapa teman Rully yang tidak Mayang kenal, circle Rully sama dengan circle Mayang. Saking tidak pandainya Mayang membaur dan hanya bersama Rully saja Mayang bisa kemana-mana tanpa canggung. Di depan kakaknya, tidak ada yang berani mengolok-olok Mayang.
Tangan Rully mengibas di depan wajahnya. "Ada ... teman lama rasa baru." Alis Rully mengatakan segalanya. Mayang tahu, teman itu pasti sangat spesial buat sang kakak.
"Gud lack, My Sista ... sukses kencannya." Mayang menggoda dengan senyumnya yang seperti anak kecil. Andai tidak ketambahan perutnya yang buncit, pasti dia akan jingkrak-jingkrak tak karuan.
"Ini bukan kencan, hanya ketemuan saja." Rully berkilah. Ada perasaan sakit saat ada kata kencan dalam bahasan mereka. Sama sekali Rully belum pernah merasakan kencan yang sesungguhnya. Kalau pun ada yang mengajak jalan, ujung-ujungnya kacau. Entah itu Rully yang ilfil duluan, atau si pria yang kabur karena Rully yang bersikap menyebalkan. Ya, dua-duanya karena ulah Rully. Tak ada pria yang tidak menyukai Rully, tetapi rasanya yang pas belum ada. Baru si Mas Djarot yang tiba-tiba membuat hati Rully klepek-klepek.
Sesungguhnya dia butuh waktu untuk menyakinkan diri. Diantara kebingungan, akhirnya datang pencerahan dari Gian maupun Mayang. Yang waktu itu menurut logikanya sangat benar. Wanita itu akan sangat bahagia bila pria yang tulus mencintainya. Lebih dari cukuplah untuk membuat kehidupan rumah tangganya bahagia.
"Pak Djarot apa kabar, Mbak?" tanya Mayang setelah sesaat lamanya melihat Rully termenung.
__ADS_1
"Kenapa tanya aku?" Rully menghindar dengan perasaan berdebar. Tangannya meraba kening. Berpikir kalau isi hatinya tembus ke dahinya yang mulus.
"Kayaknya, riwayat pencarian di facebook, tik tok, sama IG adalah akun Pak Djarot. Tentu itu bukan ulah jariku, ya ... atau mereka sedang mencari tahu sendiri, sementara aku ndak kepo banget sama beranda orang."
Rully ... kemana kamu bisa mengelak sekarang? Setelah dia diblokir malam itu, siapa yang dia andalkan selain Mayang. Pinjam ponsel adalah senjata Rully seminggu ini. OMJ ... oh my Jarot ... gimana aku bisa stalking kamu setelah ini?
Rully menggosok telinganya kuat-kuat. "Gini deh," ucap Rully frustrasi. "Aku temenin kamu tiap hari, tetapi jangan tanya soal dia. Jangan bicarakan dia atau bahas apapun soal dia."
Mayang bingung, "Kenawhy atuh, Teteh? Pak Djarot asik kali jadi bahan gibahan."
"Pokoknya jangan. Pusing kepalaku dengar namanya." Tangan Rully menekan kepalanya seolah dia dilanda sakit kepala berat.
"Yah ... padahal baru saja mau aku jodohkan Pak Botak pada temanku yang ngebet banget pengen dekat sama Pak Djarot." Mayang benar-benar kecewa. Terlepas bagaimana Rully membenci pria itu, tetapi bolehlah sarannya jadi bahan pertimbangan.
"Oh, jadi ... Mbak Rully sedang deketin Pak Djarot, toh." Mayang tertawa di sela ucapannya. "Ih, kenapa nggak ngaku dari dulu atuh ... kan bisa aku bantu dari dulu, malah sekarang udah bisa naik pelaminan." Mayang menggoda. Tidak juga sebenarnya. Mayang buruk soal percintaan.
"Jangan teriak-teriak, ngawur!" bentak Rully seraya mengarahkan tangannya ke mulut Mayang.
Namun, Mayang mengelak sampai tubuhnya terantuk sandaran kursi. "Sok atuh, Teteh ... minta Pak Djarot ngelamar, biar boboknya ndak sendirian lagi. Ada yang puk-puk pantat lebar kamu, selain aku." Mayang tertawa terbahak-bahak.
"Senang kamu, ya!" Rully kali ini benar-benar kehabisan kata untuk memarahi Mayang. Tidak tahu apa, kalau dia sedang diblokir Djarot. Kenapa juga pria itu kekanak-kanakan saat Rully menghapus akun media sosial di ponsel Djarot.
Yang Rully tidak tahu, banyak pesan melalu Direct Message yang isinya belum sempat terbaca, pun beberapa kontak yang serius dan menghubunginya via DM. Whatsapp saja di hapus.
__ADS_1
Dan, beruntung semuanya kembali pulih, meski Djarot terlanjur menutup semua koneksi dari Rully. Dia memang marah, tapi tidak setega itu menyiksa pujaan hatinya.
"Tak apa, Pak Bos. Nanti pas ketemu bisa langsung goyang kasur," celetuk Roni saat melihat Djarot melamun di depan sebidang jendela kaca gelap di lantai empat rumahnya.
Hal itu langsung membuat Djarot meraih asbak kaca dan bersiap melemparkannya ke arah Roni yang melesat meninggalkan ruangan Djarot. Roni baru saja membelikan bos berpribadi ganda itu makan malam.
"Andai bisa langsung dilempar ke kasur, Ron." Djarot meredakan keterkejutannya barusan. Ya, dia lebih banyak terkejut ketimbang marah pada Roni. Bocah itu kelewat pintar meringankan langkah atau dia saja yang terlalu larut dalam lamunan.
Tangan Djarot meraih bungkus rokok dan korek, yang tak lama kemudian mengabulkan bulatan-bulatan asap yang begitu indah. Ia butuh melepaskan, setidaknya sampai beberapa minggu lagi.
Rokok juga menjadi ajang pelampiasan Gian malam ini. Memang dia sudah selesai bekerja, dan sedang rebahan di kasur mes yang sepi. Hanya derit dari kayu penyangga kasur saja yang menjadi penghiburnya setiap malam.
"Mai ... kangen dong sama aku. Sampai kapan aku harus merana begini?" ratap Gian di sela hembusan asap rokoknya yang putih kemudian pudar, lalu hilang. Sama dengan bayangan indah pasca resepsi yang harusnya ia habiskan bobok berdua dengan Mayang di suatu tempat.
Babymoon yang porak poranda.
*
*
*
Agak malem an ygy ... sorry🙏
__ADS_1