
"Mbak Mayang!"
Lea terhuyung ke belakang hingga terantuk pintu kamar mandi. Ia kelabakan menutupi dirinya dan bekas-bekas percintaannya dari pandangan Mayang yang tajam menghujam. Wanita itu tampak mengerikan dan mengintimidasi.
"A-ada perlu apa, Mbak?" tanya Lea seraya mencoba menguasai diri. Dia menjadi gagap karena takut mungkin sudah ketahuan, tidak siap, dan memang dia ini tidak punya nyali jika berhadapan dengan Mayang. Entahlah. Lea mencoba mengamankan ruangan, barangkali ada benda milik Ferdi yang tertinggal.
"Serahkan kunci motor, perhiasan yang kamu beli pakai uangku, buku rekening di lacimu sekalian sama kartunya, dan apapun yang aku berikan sama kamu selama ini!" Mayang menatap sinis Lea dan tubuhnya yang hanya berbalut handuk tanpa di kaitkan. Mungkin saja dia akan bercinta lagi kalau yang datang bukanlah Mayang. Menjijikkan.
"Apa?!" Lea membelalak. Darimana Mayang tahu soal rekeningnya?
"Juga uang tunai yang ada di tasmu!" Mayang merangsek maju. Mendorong tubuh Lea hingga terhuyung nyaris jatuh. "Serahkan atau aku akan mengambilnya sendiri!"
Persetan dengan main cantik ala-ala wanita elegan. Mayang hanya ingin melampiaskan. Menamparkan kenyataan pada Lea kalau dia bukan apa-apa tanpanya. Mayang hanya ingin meluapkan sakit yang teramat sakit ini sekarang. Jika saja waktu sudah berselang, ia yakin kesadaran dan keinginan untuk memaafkan timbul. Mempengaruhi jiwa Mayang yang lembut.
"Uang apa, Mbak? Aku tidak punya uang." Lea mengiba menghadang Mayang. Tidak bisa dibiarkan wanita ini.
Mayang tidak peduli, dia langsung mengibaskan tubuh kerempeng Lea hingga terjerembab ke kasur yang masih kacau karena ulah hina mereka. Mayang berdecih jijik.
Gerakan cepat Mayang merangsek ke laci yang sempat ia periksa kemarin, perhiasan bernilai besar yang tersamar dalam kotak kado, uang tunai tak kurang sepuluh juta, surat-surat motor beserta kunci cadangan—karena yang asli ada di tempat cuci motor, biasanya akan diantarkan oleh tukang cucinya jika sudah selesai. Ia mengabaikan surat tanah yang ia periksa kemarin, karena letaknya dekat dengan Gudang Rasa dan Selera.
Posisi tanah itu sengketa dan yang dekat dengan Gudang Rasa sudah terhimpit bangunan baru. Mayang dengar, pemilik bangunan baru itu menawar harga tinggi untuk tanah yang baru Mayang ketahui sebagai milik Lea ini, tetapi ditolak mentah-mentah. Jika nanti ditawarkan lagi pada orang tersebut, besar kemungkinan orang tersebut tidak mau membeli semurah apapun harganya. Dan Mayang berharap dengan sangat, tanah itu kembali padanya. Dengan cara yang lebih baik ketimbang seperti sekarang. Ayah Mayang pernah berpesan, jangan sampai bersengketa soal tanah, dan Mayang mengingat pesan itu sampai sekarang.
__ADS_1
Lea bangkit dengan cepat kala menyadari dirinya dirampok oleh Mayang. "Mbak, jangan diambil, itu tabunganku sendiri, bukan dari Mbak!" Sekalipun Lea mencoba menhalangi dan merebut, tubuh besar Mayang bukanlah tandingan Lea. Dengan satu gerakan mengibas, Lea kembali ambruk dengan keras. Mayang berkuasa kini.
Lea mengaduh, tetapi Mayang abai. Ia menumpahkan tas Lea hingga tampaklah dompet berwarna coklat dimana kartu bank bersarang. Napas Mayang memburu cepat, jantung seakan lupa cara berdetak wajar, ketika ia mengeluarkan kartu itu dari dompet.
"Mbak, jangan!" Lea membeliak histeris. Tangannya menyerbu cepat, tetapi Mayang lebih sigap menjauhkan beberapa kartu ditangannya dari jangkauan Lea. Mayang membeliak galak penuh ancaman.
Mayang berusaha merusak kartu itu susah payah, dalam keadaan kalap, ia mencari-cari cari benda tajam yang sekiranya bisa membantu usahanya dalam membantu usahnya tersebut.
"Kumohon jangan, Mbak!" Lea kembali merengek, menarik tangan Mayang agar berhenti merusak kartunya, namun sayang, Mayang sudah berhasil menemukan gunting yang langsung mengoyak kartunya hingga tak berbentuk lagi. Lantas ia melemparkannya ke muka Lea.
Sembari mengatur napas kala menatap kartu yang sudah compang camping itu, Mayang berujar penuh ancaman. "Dengar Lea! Sekalipun kamu ke bank dan meminta kartu baru, kamu tetap tidak akan bisa kemana-mana dengan uang itu. Ini ...." Mayang mengacungkan dua buah rekening yang gendut ke depan Lea.
"... sudah saya foto, dan saya lampirkan dalam laporan ke kantor polisi. Kamu tak lama lagi akan jadi tersangka beserta bukti-bukti yang ada!"
"Laporkan saja, Mbak! Laporkan!" Lea bangkit, rambutnya yang memenuhi wajah tersingkap-singkap karena Lea menyentak galak. Tangannya sibuk mempertahankan handuk, "sejauh mana kamu melaporkan aku, aku jabanin, Mbak! Lea tidak pernah takut. Lea selalu menang! Bahkan Mbak Mayang saja kalah denganku yang cerdas!"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Lea hingga wajah yang disodorkan di depan Mayang itu patah ke samping.
"Aku terima tantanganmu, Lea! Aku camkan kata-kata sombongmu itu! Akan kita lihat sama-sama seberapa cerdas otak kamu bekerja saat melawanku nanti!"
__ADS_1
Lea mencibir sinis. "Kamu yang bodoh itu pasti akan kalah, Mayang! Kamu hanya menang dan terlihat baik karena hartamu saja. Tanpa harta jelas kamu ngga sebanding denganku. Hartamu itu yang membuatmu terlihat lebih!"
"Ya, hartaku yang membuatku terlihat lebih! Makanya kamu terus mengusik kelebihanku, mencurinya, dan membelanjakannya! Wajahmu bisa cantik begitu juga karena harta dan kebaikanku yang berlebih. Kalau tidak, tikuspun tak sudi menoleh. Dasar manusia tak tahu terimakasih! Munafik!"
Merasa cukup, Mayang menabrak bahu Lea yang begitu kesal karena Mayang membuatnya kalah lagi, hingga oleng.
"Arrgh ... kamu sialan, Mayang!" teriak Lea frustrasi. Ia menarik rambutnya, menjatuhkan tubuh yang tenaganya belum pulih usai percintaan tadi ditambah serangan dari Mayang. Lea lelah sekali.
*
*
*
*
*
Eh, cara hancurkan kartu atm kaya apa, sih? aku mau coba, tapi kok masih butuh🤧 Takut juga nanti kalau di lempar ke rumah emak lagi kalau melakukan percobaan pakai atm di dompet😞
Aih, mon maap ini halu. Boleh koreksi bila kurang pas😄
__ADS_1
Dearly
Misshel