Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Hiburan Kala Senggang


__ADS_3

Mayang sengaja meninggalkan meja makan dengan berpura-pura ke kamar untuk mengambil barang yang tertinggal.


"Berangkat sama Mas aja, Yang ... Mas siapin mobil dulu." Ferdi berteriak yang disahuti iya oleh Mayang.


Ferdi tersenyum sumringah kala meninggalkan ruang makan menuju halaman depan dimana mobilnya berada.


Lea juga sudah selesai mencuci peralatan makannya, bersiap berangkat ke rumah makan. Akan tetapi langkahnya terhadang oleh Marini yang sigap memberinya ultimatum.


"Kamu boleh saja menggoda anakku, kamu boleh merasa menang, tetapi kamu harus ingat, sampai aku mati, kamu ndak akan pernah aku biarkan menang merusak rumah tangga anakku. Mayang adalah satu-satunya mantuku, kamu ini ndak ada apa-apanya dibandingkan Mayang!"


Mendengar hal itu, Lea kembali panas. Matanya menyalang penuh amarah. Tersulut, Lea lupa kalau dia adalah wanita yang melahirkan pria yang di sukainya.


"Terserah apa kata Bu Marini, yang pasti hanya aku yang dicintai oleh anakmu, dan Ibuk harus menerima kenyataan itu sampai mati. Setelah Mayang miskin, dan aku kaya raya, Ibuk aku pastikan akan mengemis-ngemis sama aku," balas Lea menggebu penuh tekat sampai buku-buku jarinya mengepal merah.


"Mimpi saja kamu, Wanita Tak Tahu Diri! Mayang tidak akan pernah jatuh miskin hanya karena ulah kamu, lihat saja diri kamu yang menjijikkan dan lihat Mayang yang makin ayu dan elegan! Dari situ harusnya kamu sadar status kamu ini apa!" Marini mengingatkan, menekankan sungguh-sungguh dengan telunjuk menusuk dada Lea hingga Lea terdorong mundur. "Kamu hanya pelayan Mayang, ndak selevel dengan Mayang dan kami!"


Marini berpuas diri, melihat Lea merembeng siap menangis. Meski tampak tak terima, tetapi Lea tak bisa membantah kenyataan itu.

__ADS_1


Marini segera membenahi penampilan, kembali memasang senyum agungnya. Dia harus ingat, sebentar lagi dia akan menjadi Ndoro yang punya aset sendiri. Semalam meski ia kecewa, namun ia putuskan untuk memihak Mayang. Mayanglah yang akan membawanya menuju puncak tertinggi kehormatan, bahkan ia siap menjual harta warisan suaminya demi membantu Mayang membeli Arumndalu.


Lea terantuk pasrah di dinding. Dia sangat marah, tetapi tak berdaya. Dadanya sudah penuh sesak dengan murka, tetapi dia harus menahannya. Jiwanya tak sebebas dulu, melampiaskan sesuka hati dan tak kenal tempat.


"Kalau aku jadi kamu ...." Mayang datang dengan anggunnya, tubuhnya yang sudah mulai terasa ringan, berjalan dengan angkuh dan berkuasa. Wajahnya kejam dan dingin seolah tak dikenali lagi oleh Lea. Lea menoleh cepat dan nanar, ia terkejut sampai ia tak bìsa berkata-kata.


"... aku sudah lari meninggalkan rumah ini. Lebih baik jadi peminta-minta daripada di sini, seperti orang tak punya harga. Lebih baik jadi gelandangan dari pada menggadaikan harga diri yang tak seberapa. Harusnya dengan seperti ini, kamu sadar, tanpa aku, kamu ini bukan siapa-siapa, semua hormat yang tertuju padamu adalah kemuliaan yang aku berikan, bukan kamu sendiri yang menciptakan. Ingat, Lea ... aku pernah menjadi bodoh, tetapi tidak lagi, yang kamu lihat bukan saudara kamu yang iya saja sama kamu, melainkan dirinya yang bersembunyi selama ini. Kamu yang membuatnya hidup dan menggilasmu kapan saja!"


Mayang menghujam Lea beberapa detik lamanya, seolah menantang Lea untuk menyerah atau melawan. Namun, keduanya hanya akan memiliki satu hasil yaitu Mayang tak akan gentar maupun berbelas kasih. Ikatan saudara telah putus, dan Lea yang sudah memutusnya sepihak.


Mayang meninggalkan Lea yang benar-benar sudah tinggal raga. Mayang telah membunuh semua semangat dan upaya yang diam-diam tumbuh dalam hati. Lea sudah tumbang bahkan ketika dia belum melakukan apa-apa.


"Le ...," panggil Marini.


Ferdi yang sedang memeriksa roda perlahan menoleh. Panggilan berat sang ibu membuatnya sedikit gelisah. Biasanya itu menandakan sesuatu yang serius.


Tatapan ibunya membuat Ferdi segera bangkit dan menghadap.

__ADS_1


"Ibuk tidak akan berkata apa-apa soal hubunganmu dengan Lea, asal kamu benar-benar mengakhiri hubungan pembawa sial itu secepatnya!" tegas Marini. Tanpa mengambil jeda untuk berkedip, Marini memperingati anaknya betapa serius masalah ini.


Ferdi terdiam, hatinya tersentak kecil, namun intens. Peringatan seperti ini tidak pernah bisa dianggap main-main.


"Dalam keluarga kita, tidak ada yang seperti kamu. Bapakmu tidak pernah mengajari kamu bersikap seperti pengecut. Ndak jantan kaya gini. Wanita itu dinikahi bukan untuk diduakan! Dalam hal ini, Ibuk ndak sepakat sama kamu ... maaf, Le, Ibuk dipihak Mayang. Sebagai sesama wanita," lanjut Marini.


Ferdi terpengaruh makin kuat, niatnya oleng makin kencang. Lea hanya debu yang akan ia kibaskan dengan mudah.


"Mayang, terlepas dari kekurangannya, dialah yang terbaik. Mantu ibuk paling baik. Tidak ada duanya dan tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun! Ngerti!"


"Ngerti, Buk!" Ferdi mengangguk paham. Sangat paham. Dia harus berterimakasih pada ibunya yang sudah memberikan pencerahan dan penguatan. Selamat tinggal, Lea!


*


*


*

__ADS_1


*


Sambil momong, sambil nyuci, sambil ketok-ketok panci🤣🤣🤣 bye Lea!🤣


__ADS_2