
Gian melepas masker usai membersihkan tangannya. Mata Gian tak henti menatap wanita yang terbaring di ranjang dalam keadaan tak sadar. Kehamilan sudah mencapai 18 minggu dan harus dilakukan tindakan kuret. Pendarahan hebat dan sebagian plasenta masih tertinggal.
Surprise sekali kejadian kali ini. Siapa yang sedang dikuret olehnya barusan, dan siapa yang sedang panik di depan ruangannya ini, membuat Gian ingin melupakan profesionalitasnya. Ingin menunjukkan kemesraannya dengan Mayang di depan mereka.
Gian keluar sesaat kemudian, menemui Ferdi yang langsung berdiri ketika melihat Gian muncul.
"Istri Bapak baik-baik saja, proses kuretase berjalan lancar, hanya tinggal menunggu istri anda sadar." Gian berkata seprofesional mungkin. Entah kenapa dia agak merasa kalau ini pantas didapatkan oleh Ferdi, meski ini tidak boleh. Gian berdehem, "tolong istrinya lebih banyak diperhatikan agar kejadian seperti ini tidak terulang. Jangan biarkan istri anda mengemudi sendiri, perhatikan lantai rumah, jaga agar tidak licin, dan tetap hati-hati. Keguguran akibat kecelakaan seperti ini amat sangat disayangkan, Pak."
"Saya pasti melakukannya," jawab Ferdi kaku. Bolehkan dia menonjok dokter ini? Sok sekali gayanya, apa ini karena dia berhasil menikahi Mayang? Ferdi mengabaikan kondisi Lea, terserahlah. Toh, Lea tidak menginginkan anak itu, jadi daripada nanti anak itu menderita, mungkin ini adalah jalan terbaik.
"Cepat sekali anda menikahi Mayang, Dok?" Ferdi tak bisa menahan mulutnya untuk tidak menyindir Gian. Alih-alih khawatir pada istrinya, ia malah memikirkan Mayang.
Gian merasa dipancing, mungkin gelarnya bisa ditanggalkan sekarang. Ini obrolan serius mantan dan suami sah yang berbahagia.
"Anda sendiri bagaimana? Cepat sekali nikahnya sama dia? Belum genap dua minggu loh, masa idah Mayang selesai, istri anda sudah hamil 18 minggu."
"Pria bisa menikah meski belum bercerai," kilah Ferdi.
"Oo ...." Gian merasa kalau pria ini sungguh keterlaluan. "Bagus kalau begitu, jika Mayang memutuskan pisah dari suami penipu dan brengsek seperti anda." Gian mencemooh.
"Anda juga, kan?" Ferdi membalas dengan sinis. "Saira dan anda belum berakhir, tapi sudah menikahi mantan istri saya."
Gian tertawa lirih, mengejek Ferdi yang tidak tahu menahu soal dia dan Saira. "Tolong, Pak ... jadilah pintar! Jelas anda hanya mendengar dari Saira yang tak tahu malu itu. Saya sudah menolaknya, tetapi dia terus mengejar saya. Lalu saya bertemu seseorang yang memiliki luka hati yang sama, dan merasa cocok. Salah saya dimana?"
Ferdi tercengang. Ia bingung mau menjawab apa. Saira bohongkah selama ini soal Gian yang cinta mati padanya?
"Saya tidak pernah membalas perasaan yang saya anggap merugikan. Jelas wanita yang baik tidak pernah menyodorkan diri pada pria, kecuali sudah halal menjadi miliknya. Mayang lah wanita yang menjaga diri dan kehormatannya, bukan Saira atau wanita yang menjadi istri anda. Seharusnya anda bisa berpikir jernih dan memilih. Tidak buruk mencampakkan wanita yang kurang baik akhlaknya, demi wanita pemilik sifat mulia. Anda tidak bisa menyalahkan saya, atas pilihan bodoh yang anda buat, Pak." Gian memaparkan untuk terakhir kali, sebelum berlalu dari hadapan Ferdi.
Ferdi jatuh terduduk, tangannya meraup muka dengan kasar. Baru terasa kalau Lea adalah jalan bodoh yang ia enyam dengan nikmat, yang ia banggakan dengan penuh sanjung, yang ia hargai dengan nilai tinggi. Ternyata Lea tak ubahnya bongkahan kaca yang memantulkan cahaya. Indah tapi palsu.
Yang baru terasa berbeda juga dialami oleh Mayang yang duduk gelisah di rumahnya. Boleh dia cuek dan tampak mengabaikan Gian, nyatanya, seharian tanpa Gian, Mayang merasa hampa. Memeriksa ponsel pun terasa percuma sebab mereka belum saling mengetahui nomor ponsel masing-masing.
"Apa dokter kandungan sama sibuknya dengan tentara? Yang bisa meninggalkan istrinya seharian penuh tanpa kabar?" Mayang meremas kedua belah tangannya dengan gelisah. "Apa yang kulakukan selama ini sampai nomer ponsel saja tak sempat saling menyimpan?" keluh Mayang.
Napasnya terbuang keras-keras setelahnya. "Aku telpon kliniknya saja sekarang, kali aja bisa mengetahui sedang apa dia di sana."
Mayang meraih ponsel dan menelpon klinik Gian. Diangkat yang langsung membuat orang-orang heboh dibuatnya.
"Akan saya sambungkan pada Dokter Gian, Bu ... tunggu sebentar," jawab di seberang dengan ramah.
"Makasih, ya, Mbak." Mayang menggigit bibirnya saking bingung mau menanyakan apa.
"Selamat malam!" sapa Gian dengan nada judesnya seperti biasa.
__ADS_1
"Pintunya mau saya kunci, Pak ... Bapak tidur di rumah Pak Hadyan kan?" tanya Mayang akhirnya.
Di seberang berdehem. "Apa saya masih harus puasa, Bu?" Sekalipun sudah tak lagi judes, nada suara Gian tetap terasa keras.
"Itu tergantung anda, Pak ... saya kan sudah bilang untuk tidak ngarep. Mungkin feeling saya benar, agar tidak usah berharap apa-apa soal malam ini." Mayang ingin menampar mulutnya sendiri yang malah menanggapi arah bicara Gian.
"Tolong jangan nguping," kata Gian keras keras, lalu pria itu diam sejenak, membuat Mayang bingung. Lalu tak lama kemudian Gian kembali bersuara.
"Anak-anak selalu kepo dengan siapa saya berbicara." Gian berhenti.
Mayang merasa lega, dia pikir Gian kesal padanya. "Mungkin sebaiknya jangan ditutup-tutupi, Pak ... mereka berhak tahu," saran Mayang.
"Besok mungkin, kalau sekarang agak aneh kedengarannya." Gian di sana tampak tidak tahu menanggapi seperti apa. Atau mungkin sedang menahan kecewa.
Mayang menggigit bibirnya lagi. "Karyawan Bapak yang masuk malam ini berapa?"
"Ada apa me—sekitar dua puluh sama satpam dan saya." Gian memilih menjawab saja, Mayang berhak tahu, mungkin dia cemburu. "Memang kebanyakan wanita, ta—"
"Bapak tidur di mess?" potong Mayang cepat. Namun hening menjawabnya.
Ya, Gian merasa bersalah meninggalkan pengantinnya di malam istimewa mereka, sehingga dia terdiam. Tak mampu menjawab luka hati wanita yang dicintainya. Gian ingin minta maaf, tapi dia terikat oleh pekerjaan yang ia punya.
"Iya!" jawab Gian akhirnya. "Mungkin saya akan pulang besok pagi." Ia tak mau membuat Mayang menunggu atau mengganggu tidurnya nanti jika dia pulang dini hari.
"Saya kunci pintunya, Pak." Mayang menutup telepon. Membiarkan Gian menggantungkan rasa bersalah sendirian di kantornya. Masih ada satu persalinan normal yang menunggunya, Ella pulang karena saudaranya meninggal, dokter lain sudah menggantikan Ella sejak semalam. Gian hanya bisa pasrah.
"Oke, saya ke sana sekarang." Mungkin lebih baik ia pulang nanti. Tak apa meski harus menunggu pagi di teras jika Mayang sudah terlelap.
Gian beranjak, mengekori Bidan Hani yang berjalan tergesa di depannya.
"Dokter ada masalah?" Hani bertanya.
"Tidak juga. Hanya sedikit lelah," jawab Gian datar.
"Saya mengerti, setelah ini Pak Dokter bisa istirahat, tapi tidak bisa pulang." Hani membuka ruang bersalin dimana seorang ibu sudah siap dalam posisi melahirkan.
Hani menoleh, "sekitar subuh nanti—paling lama, ada satu lagi yang akan melahirkan, Pak." Ia tersenyum.
Gian hanya menghela napas, lalu mulai memakai sarung tangan dan masker. "Status?"
Hani menyerahkan catatan, lalu ia menjelaskan kondisi ibu bersalin. Erangan menyela, membuat Gian dan Hani langsung bergegas menolong si Ibu yang di dampingi seorang perawat dan suaminya.
Gian tidak boleh mengeluh, Mayang harus mengalah, ada satu ego yang harus menyesuaikan dengan ego yang lainnya. Gian hanya berharap Mayang mampu mengertinya.
__ADS_1
Persalinan lancar, Gian bisa meregangkan juga menyegarkan badannya. Langkahnya terseok menuju mess yang entah kapan ia singgahi terakhir kali.
Gian membuka pintu mess, membiarkan cahaya redup menyambutnya.
"Selamat datang di rumah."
"Astagfirullah!" Gian benar-benar terkejut, matanya melebar, tubuhnya kehilangan rasa kantuk yang mendera. "Mayang!" serunya.
"Ka-kamu ...?" Gian tidak percaya pada matanya. Mayang ada di depannya dengan senyum yang manis dan wajah setengah menahan kantuk.
"Iya," jawab Mayang seraya melangkah ke depan Gian. "Saya sudah kunci pintu rumah, dan datang kemari."
Astaga!
Gian seperti terkena serangan jantung mendadak. Dia benar-benar terkejut, Mayang punya sisi yang seperti itu. Dimana dia sembunyikan sifatnya yang ini? Yang begitu pengertian dan manis.
"Pak Dokter tidak suka saya datang?" tanya Mayang masih dengan senyumnya yang itu—aih, Gian bisa gila dan tak mampu menahan gejolak di dadanya.
"Saya—"
"Saya sudah halal untuk Bapak. Bagaimana kalau saya—yang memulainya lebih dulu, tampaknya Bapak malu." Mayang mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Gian. Menatap dalam mata Gian yang tampak masih tak percaya.
Jakun Gian naik turun, pertanda ada cairan di sana yang terus mengalir. Mayang begitu dekat dengannya. "Mai ...."
Mayang memejamkan mata, Gian menyambutnya. Mayang memutuskan, dia menerima dan akan mencoba. Mungkin, Gian adalah jodoh sesungguhnya, yang Mayang pinta dalam setiap doa.
"Mai ...." desah Gian yang kembang kempis usai membalas ciuman Mayang. Gian takut ia terlalu bernafsu, namun mata Mayang begitu kuat menyakinkan.
"Tidak apa-apa, Pak ... saya bersedia memulai semuanya dengan Pak Gian." Akhirnya Mayang menunduk, keberaniannya sebatas itu. Ia sungguh malu.
Lalu Gian bisa apa? Selain membopong Mayang ke peraduannya. Ya, peraduan yang tak lebih indah dari bulan madu dimanapun di belahan alam bernama bumi.
*
*
*
*
*
Karena udah malam aku updatenya, takut besok baru sempat baca, jadi begitu aja, ya, nganunya🤣 bayangin sendiri aja lah itu yang imut dan unyu-unyu jadi naga🤣 wkwwkkwk ...
__ADS_1
Selamat malam, penuh cinta😘😘😘
Misshel🥰