
Rully dan Agung menuju bukit yang menghadap ke pantai. Perasaan Rully sedikit membaik kala menatap hamparan kota di bawahnya. Angin yang bertiup seolah mengaburkan semua perasaan sakit yang awalnya bercokol nakal di hati Rully. Benar ... healing lah yang dibutuhkan Rully, bukan melampiaskan pada bekerja. Sekalipun ia menghasilkan tumpukan pundi-pundi uang, tetapi kebahagiaan bukan semata soal uang.
Rully butuh sesuatu yang beda dan menyatu dengan sesuatu yang bisa meleburkan semua gundah di hatinya. Dialah alam.
Agung dari belakang merasa bahwa Rully terlalu berlebihan. "Ini hanya satu jam dari kota dan lima belas menit sebelum rumah makan adiknya, kenapa dia bersikap seolah ini adalah sesuatu yang istimewa?"
Rully merentangkan tangannya di ujung pagar, yang juga ujung dari bukit berupa tebing curam. Berteriak seperti tarzanwati yang baru dilepaskan dari kurungan. Tetapi Agung tak bisa memungkiri kalau wanita di depannya ini sangat cantik.
Agung bersedekap, matanya berhenti mengawasi Rully. Dia takut jatuh cinta pada sesuatu yang rasanya mustahil untuk diraihnya. Rully hanya akan menjadi kenalan biasa baginya. Tak akan pernah ia biarkan memiliki tempat istimewa dihatinya. Tidak akan!
"Tolong jaga sikap, Mbak ... aku malu lihat kamu kaya gitu." Agung mengerutkan hidung, seraya menyandarkan tubuhnya pada tiang penyangga pondok beratapkan tiruan daun kelapa yang dianyam. Ekor mata Agung melihat jelas kalau Rully kini sedang menatapnya. Wanita itu pasti tersinggung.
"Pergi sana kalau kamu malu," balas Rully dengan bibir menukik tajam. "Dasar bocah tengil!" Rully tak peduli, lalu kembali merentangkan tangan setelah sempat diturunkan demi membalas Agung. Dia sedang menetralisir suasana hatinya, menjernihkan pikiran. Ingin melunturkan pesona Djarot yang akhir-akhir ini membuatnya kecanduan.
Mata Rully perlahan memejam. Dia sedang berdiskusi dengan dirinya sendiri. Sedang menanamkan kalau cinta tidak boleh berlebihan.
"Aku lebih baik menahan malu ketimbang harus pulang jalan kaki." Agung duduk di sebuah bangku single, kakinya langsung saling menopang.
Bibir Rully sedikit terangkat. Dia mulai jelas maksud dan tujuan Agung. Tetapi dia tidak menyuarakannya. Biar saja Agung merasa dia telah berhasil memperdaya dirinya, nanti akan ada pembalasan untuk bocah tengil bau kencur itu.
__ADS_1
"Jauh-jauh saja dariku dan pura-pura tidak saling kenal jika kau malu melihat tingkahku. Yang sebenarnya, ini biasa saja, masih banyak yang bertingkah lebih absurd ketimbang aku."
"Aku ngawasin aja, siapa tahu nanti pas jatuh ke bawah sana, polisi butuh saksi." Agung mengeluarkan rokok dari sakunya, lalu menarik satu dan menyalakannya. Aroma tembakau ini membuat segalanya jernih. Pun makhluk di depannya itu, membuatnya terlihat makin indah di mata Agung. Pria itu mengumpat dan bersiap melemparkan rokoknya ke tanah, tetapi sungguh sayang belum habis setengah, jadi Agung mengurungkan niatnya tersebut dan mengisapnya kembali. Jauh lebih kuat dan lebih kencang, sehingga rasanya paru-parunya ikut terbakar.
"Sialan mulut laknatmu itu, Gung!" Rully segera turun dari pagar dan duduk di sebelah Agung, mengambil jarak yang cukup sekadar memberi kesan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman.
"Wanita yang patah hati biasanya mengambil cara instan untuk menghilangkan rasa sakitnya. Dan katanya mati itu jauh lebih mudah ketimbang hidup tapi merasakan sakit karena cinta." Agung mulai beropini. Dia jelas tahu kalau Rully sedang jatuh cinta tetapi kandas. Dilihat-lihat, Djarot dan Rully ada apa-apa, tetapi mustahil kalau mereka tidak bisa bersama. Mereka satu level.
"Itu survey abad pertengahan, ngawur dan nggak berdasar. Mereka belum cukup dewasa untuk merasakan cinta dan sakitnya. Terlalu muda untuk menerima perasaan yang compicated bernama cinta dan sebuah hubungan. Kalau aku sih, satu kandas, seribu muncul. Sakit hati biasanya sembuh dengan menerima hati yang baru, apalagi kalau yang baru itu menyayangi sepenuh hati. Kayak Mayang sama Gian." Rully benar-benar menunjukkan ketidak sepakatannya soal itu.
"Bu Mayang beruntung dapet Pak Gian yang bucin, bukan budak cinta tapi butuh cinta. Kalau diingat lagi, Pak Gian itu juga pernah menelan obat sampai dia meregang nyawa saat Bu Anggi meninggalkannya, tetapi aku tidak jelas alasannya apa benar karen Bu Anggi atau Pak Gian merasa tertekan karena dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Waktu itu sangat kacau, aku melihatnya, Mbak ...," kenang Agung.
"Yah, semua butuh waktu. Cinta itu hanya soal waktu, entah datangnya, entah sakitnya, entah sembuhnya ... pokoknya cinta itu misteri. Semakin kamu kejar, maka semakin terasa hampa ...," ucap Rully dramatis, tetapi tampaknya Agung setuju.
"Tidak ...." Agung menggeleng, tetapi dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Jelas Agung merasa kalau dirinya benar-benar terjerat permainannya sendiri. Memperdaya Rully, tetapi akhirnya dia sendiri yang tak berdaya.
"Aku belum pindah ke sebelah sana, kenapa kamu lihat ke arah lain sih? Apa wajahku terlalu buruk untuk kau lihat?" Rully bergegas mencari tasnya dan menarik kaca kecil untuk memeriksa penampilannya.
"Hei!" teriak Rully, "Kau ini perfeksionis sekali, ya ... hanya rambutku saja yang berantakan, wajahku masih oke, eyelash, mascara, eyeliner, dan shadingku masih utuh, woey!" Rully menepuk pundak Agung keras-keras dan berulang kali sampai Agung mejauh seraya mengaduh.
__ADS_1
Wanita ini bar-bar sekali dan tenaganya cukup kuat juga.
"Biasanya pria suka dengan wanita yang rambutnya berantakan begini, apalagi kalau menggigit bibir, katanya itu seksi. Masa kamu maunya cewek yang rapi ... kalau gitu sana, balik ke jaman Ibuku SD, katanya rambutnya harus rapi dan klimis juga dikepang dua. Cocok sama selera kamu." Rully berhenti menepuk setelah menghadiahi bahu Agung sebuah pukulan keras. Pria itu sampai meringkuk ke arah kursi saking kuatnya pukulan Rully.
Tawa wanita itu renyah dan khas. Agung benar-benar takut kalau menatapnya, dia akan jatuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita ini kuat sekali pesonanya, walau terkesan sombong. Sungguh, Agung mengakui kasta kecantikan Rully yang begitu tinggi itu.
"Gung, itu mie ayam kayaknya enak, deh ... rame banget pengunjungnya. Kita makan di sana aja, yuk!" Rully berdiri dan menggeret tangan Agung tanpa aba-aba, membuat Agung sesak napas dan tidak bisa merasakan kakinya.
"Tolong jangan gini, Mbak!" kata Agung spontan.
"Kenapa?" Rully berbalik, "kamu beneran malu jalan sama aku?"
Hah, apa-apaan itu ...?
"Bukan itu ...." Agung nyengir seraya mengusap tengkuknya, "jangan narik-narik maksudnya, Mbak. Tanganku agak sakit."
Rully menghembuskan napasnya lega. "Malu juga nggak apa-apa, sih ... jadi aku bisa ninggalin kamu di sini, sementara aku makan mi ayam pedas dan panas." Rully dengan tak acuh melanjutkan langkahnya, membiarkan Agung menjadi patung tambahan di tebing ini.
"Eh, tunggu Mbak!" Agung menyusul Rully dan berjalan di sebelahnya. Mereka terlibat saling dorong yang terkesan mesra.
__ADS_1
Sekalipun tempat ini luas, tapi bukan halangan bagi sepasang mata dengan kaca mata hitam lebar itu mengawasi setiap gerakan di sana tanpa terlewat satupun. Bahkan jika di suruh menceritakan ulang, dengan fasih ia bisa menjelaskan secara urut, detail, dan lengkap dengan tiap ekspresi yang memeta di wajah mereka.
Jelas mereka tidak sesederhana kelihatannya. Itu membuatnya sangat marah sehingga ia meninju jok mobil kuat-kuat.