Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Memaafkan Tetapi Tidak Untuk Berteman Kembali


__ADS_3

Mayang akhirnya mengerahkan anak buahnya untuk membersihkan toko Lea. Dalam hati, Mayang bergumam sedikit mendumel.


"Aku kalau jadi antagonis kok ndak konsisten, kemarin aja marah-marahin dia, eh, sekarang bantu dia kaya begini. Kok aku suka ndak tega lihat anak itu menderita, sih."


Mayang mengesahkan napasnya pelan, lalu mendekati Lea dengan sebotol air mineral dingin di tangannya. Dengan ketus, Mayang menyerahkan botol itu pada Lea.


"Minumlah!" kata Mayang, "aku ndak ada minuman lain, adanya cuma ini."


Lea menerimanya dengan tangan gemetar, butuh tetapi juga malu. Astaga, bagaimana bisa ia menerima bantuan dari orang yang belum lama ia buat jatuh usahanya. Lea masih manusia yang punya rasa sungkan.


"Sudahlah, ndak usah malu atau sungkan, minumlah. Kamu butuh itu." Mayang memilih beranjak dari hadapan Lea, agar Lea bisa menenangkan diri. Ibu-ibu tadi sungguh mengerikan, Mayang saja agak takut membubarkan mereka, tetapi jika tidak dibubarkan mereka pasti membuat kerusakan yang parah.


"Mbak Mayang," panggil Lea, yang membuat Mayang urung melangkah.


Lea menatap Mayang lekat-lekat. "Makasih buat semuanya."


Ada bibir dan tubuh berbincang saat mengatakan itu. Ada air mata yang tumpah penuh sesal.


"Sama-sama," jawab Mayang singkat. Ia melangkah tanpa menoleh maupun menanggapi Lea berlebihan.


Ya, memaafkan dan berteman kembali itu beda cerita. Mayang memaafkan bukan berarti dia akan bersikap sama seperti dulu. Ada bekas menganga pada jalinan persaudaraan mereka.

__ADS_1


Rupanya, Mayang sudah dinanti oleh Saira di tokonya. Kebetulan yang sangat pas sekali, ya.


"Ada perlu apa, Sa?" tanya Mayang saat Saira berdiri menyambutnya.


"Bu Mayang sibuk, ya?" tanya Saira agak takut. "Maaf, saya tidak mengenal Ibuk saat masih bersuamikan Mas Ferdi." Ragu, Saira mengulurkan tangannya.


Mayang menyambutnya, "Saya memang tidak pernah diperkenalkan, jadi tidak usah merasakan tidak nyaman."


Ketika Mayang mempersilakan Saira duduk kembali, Saira terlihat kesusahan bicara. Kenapa memangnya? Kadung sering mengabaikan Mayang meski pernah bertatap muka sebagai wanita yang biasa saja? Atau Saira tahu dimana posisinya sekarang?


"Kurasa kamu terlalu sibuk jika kamu kemari hanya untuk berkenalan dengan mantan istri pegawai kamu, Sa." Mayang mengatakan yang sebenarnya, bukan? Tetapi jika telinga Saira menafsirkan yang lain, Mayang tidak tahu.


Saira tersenyum canggung, lalu menyusun kata-katanya meski ia gugup sekali. "Bu Mayang ... ini masih berkaitan dengan penawaran kredit usaha yang Mas Ferdi tawarkan kemarin."


"Bukan ... tapi dokumen kemarin rusak, Bu, dan kami ingin memprosesnya ulang," jawab Saira gugup.


"Kok kamu yang datang, kan seharusnya Mas Ferdi yang ke sini?" cacar Mayang setengah melampiaskan rasa sakit hati atas pujian yang pernah Mayang dengar atas Saira.


Karena sebenarnya, Mayang mau mengambil kredit itu untuk membantu Ferdi yang menurut Ferdi akan menyelamatkan karirnya.


Saira tidak mampu menjawab. Ya, benar juga. kalaupun bermasalah kan, Ferdi bisa datang kemari lagi dan mengulang prosesnya. Itu harusnya jadi poin untuk Saira jika ingin membantu Ferdi tetap pada posisinya. Yang seperti ini malah kesannya, Saira membiarkan Ferdi dipecat, lalu ia mengambil keuntungan dari dipercatnya Ferdi.

__ADS_1


"Kalau Mas Ferdi tidak lagi kerja sama kamu, dan dokumen rusak, itu bisa dianggap pembatalan sepihak bukan, Sa?" Mayang menemukan jalannya. Biar saja dia sombong untuk sekarang. Tetapi sepertinya, Saira ini juga perlu diberitahu bagaimana menghargai orang lain yang tidak sesempurna dirinya.


"Tetapi ini kecelakaan yang diluar dugaan kami, Bu. Kami tidak berniat membatalkan apapun." Saira berkata cepat-cepat. Aduh pokoknya bagaimanalah semua ini bisa kembali ke tangan Saira.


"Saya yang membatalkan, Sa. Saya tidak berniat membeli ruko atau menambah modal lagi. Karena—"


"Karena Mayang sudah memiliki empat unit ruko lain," sahut suara berat di ujung pintu masuk. Gian berdiri dengan kaku di sana. Tatapannya tajam ke arah Saira yang gugup setengah mati melihat Gian di sini.


Saira bingung sendiri, mau mendahulukan yang mana. "Mas Gian," ucap Saira ambigu.


"Silakan reunian ... kalau mengganggu biar saya yang pergi." Mayang beranjak. Dia tidak marah, tidak juga cemburu, hanya membiarkan Gian mengatakan status mereka kini. Setidaknya, bukan bibir Mayang yang mengungkap hubungan mereka, yang mungkin akan menyakiti Saira. Kalaupun di benci, biar Gian saja.


"Seorang istri tidak akan membiarkan suaminya berdua dengan wanita lain, kan?" Gian menghadang langkah Mayang. Mayang harus tahu kalau Saira bukanlah mantan yang harus reunian. Tidak ada kenangan yang dapat diceritakan, karena Gian tidak pernah merasa memberi harapan. Saira saja yang cinta, Gian tidak. Saira saja yang mengharap, Gian sudah memberi jawab.


Gian meraih tangan Mayang dan menggenggamnya erat. "Istriku sepertinya tidak butuh tambahan modal, Bu Saira ... karena saya sudah membelikan apa yang dia butuhkan. Bukan bank atau lembaga pinjaman yang akan menjadi tempat Mayang menggantungkan keinginannya, tetapi saya yang akan selalu ada saat Mayang membutuhkan bantuan."


Jika ada saat paling rendah dalam hidup Saira, tentu saat inilah titik itu terjadi. Saira sungguh ingin tidak terlihat saja saat ini. Sungguh. Selain patah hati, dia juga sangat malu. Dua orang itu membuat Saira tidak punya muka.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2