Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Gadis Pemberani


__ADS_3

Semalam, Rustina tidak menemukan Rully dan Djarot melakukan apa-apa. Malah matanya dibuat nyaris jatuh saat melihat Djarot tidur di sofa depan kamar. Lalu tingkah canggung keduanya saat saling berpisah, membuat kecurigaan muncul.


Jadi mereka belum sedekat kelihatannya, ya?


Pagi ini senyum Rustina mengembang tak terkendali. Pemandangan semalam, membuatnya tidur dengan nyenyak. Ini adalah celah yang tak terduga, dia bisa memanfaatkannya.


Namun, hingga matahari nyaris memecahkan setiap jengkal tanah, Rully tak kunjung keluar menemuinya.


Rustina menjadi tidak sabar. Ia buru-buru merapikan diri dan memeriksa sudut rumah. Barang kali, wanita muda itu mengelap debu di sana.


Sayang sekali, bahkan aroma tubuhnya saja tidak tercium di sini. Kemana wanita itu, ya?


Rustina menuju dua pembantunya yang menyiapkan sarapan.


"Tamu kita ndak turun membantu, ya, Yun?"


Rustina meneliti satu persatu menu makanan yang sudah siap, tinggal membawanya ke meja makan, tetapi pikirannya sudah menduga. Dia tidak akan mau repot-repot kemari, kan?


"Tadi nyapa kami, Bu ... tapi setelah itu dia pergi menemani Mas Lingga jalan-jalan." Yang namanya Yuyun menjawab.


"Jalan-jalan, ya?" gumam Rustina dalam hati dengan seringai kesenangan yang keluar dari bibirnya. Segera saja, batinnya dipenuhi bermacam rencana.


"Ya, sudah ... kamu lanjutkan masak. Siapkan naget sama mi goreng kesukaan cucu-cucu saya, ya ...," ucap Rustina seraya tersenyum. Senyum yang paling manis yang pernah dia punya. Hohohoho ... rupanya banyak sekali yang bisa dia lakukan. Gadis itu tidak selamanya punya apa yang diagungkan orang. Terlalu sempurna itu tidak bagus.


Rustina melihat jam, sebentar lagi semua orang akan berkumpul, dan seharusnya, Rully sebagai 'calon' harus menunjukkan itikad baik pada keluarga ini.


"Kenapa senyum-senyum begitu, Buk?" Murdyo menyapa, bibirnya juga tersenyum, meski keningnya mengerut. Setelah semalam sangat galak, sekarang wajah istrinya terlihat berseri-seri. Pasti sesuatu yang baik telah terjadi.


Rustina semakin lebar tersenyum. "Yang pasti sesuatu yang baik sedang memihak Ibuk, Pak."


Tangan wanita itu menyodorkan kopi, lalu ia menyusulinya dengan satu piring menu sarapan low karbo.


"Asal bukan cara baru yang Ibuk temukan untuk menjatuhkan Rully, Bapak ikut senang. Kebahagiaan Bapak adalah melihat Ibuk tersenyum." Murdyo menyesap kopinya. Seorang asisten, dan dua orang lain yang biasa mendampingi Murdyo muncul bersamaan dengan itu. Lalu Murdyo dengan muram tidak melanjutkan sarapannya.


"Buat apa aku menjatuhkan orang, Pak? Kaya ndak punya kerjaan aja." Rustina melirik Murdyo, kemudian ia menaikkan wajahnya. "Oh, kalian sudah datang."

__ADS_1


Ia sudah biasa diganggu seperti itu saat sarapan. Jadi dia santai saja menanggapi.


"Bapak berangkat, Buk ... nanti Bapak pulang malem, ada rapat perencanaan anggaran." Murdyo berdiri dan mengulurkan tangannya.


Rustina menyambut, "jangan hanya anggaran belanja daerah saja yang dirapatkan, Pak ... anggaran Ibuk juga perlu dibicarakan ulang. Cucu makin besar, jajannya pada nambah."


Murdyo tertawa. "Tunggu Bapak gajian, nanti Bapak kasih ke Ibuk semua, kalau perlu."


Murdyo mencium kening Rustina, lalu berjalan mendahului ketiga orang bawahannya.


Rustina menyiapkan sarapan untuk anak cucunya setelah suaminya berangkat. Selalu begitu setiap hari, tidak peduli akhir pekan, suaminya bisa dicomot sewaktu-waktu. Rustina tidak bisa mengeluh soal itu.


Hari semakin siang, tetapi tidak ada tanda-tanda Rully akan segera ke meja makan. Anak cucu Rustina juga makan di berbagai tempat mengingat mereka mengurus anak sendiri-sendiri tanpa bantuan pengasuh.


Rustina sungguh berharap Rully akan turun dan makan. Namun justru Djarot yang turun seraya mengancingkan lengan kemejanya.


"Sarapannya siap, Ngga."


Djarot hanya melihat ibunya sekilas, lalu mengambil nampan untuk memboyong beberapa menu ke kamarnya.


Rustina menunggu, sembari melakukan pekerjaan hariannya. Sampai saat Rully terdengar turun, ia baru kembali ke dapur. Mengusir dua pembantunya, lalu dia mengambil alih pekerjaan pembantu tersebut.


Ekor mata Rustina melirik ke arah Rully datang, ia bersuara keras-keras. "Biasanya calon itu bangun pagi dan bantu-bantu mertuanya di dapur, bukan keluyuran ndak jelas begitu. Keganjenan nempel sama anak orang ... tak tahu malu."


Rully menaikkan alisnya yang runcing alami. Dia mengerti kemana arah bicara Rustina, tetapi dia tidak menjawab. Mempertimbangkan dapur yang terbuka, ia khawatir ada yang mendengar perdebatan mereka dan akan merusak citra Rustina.


Rully meletakkan nampan pelan-pelan lalu segera mencuci semua perkakas bekas makannya yang kotor. Dia melakukan itu dalam diam.


Rustina melihat gerakan Rully yang sama sekali tidak canggung saat mencuci piring. Tidak tampak kalau dia sama sekali tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga. Sebenarnya, agak tidak mungkin kalau seorang wanita seumuran Rully tidak bisa melakukan pekerjaan mudah seperti itu. Tetapi melihat tingkah, raut muka, ukuran tubuh, dan juga sorot wajah, Rully memang terlihat bagai ABG.


Itu sangat mustahil.


"Apalagi kalau usia sudah cukup matang, hal-hal seperti itu, juga tidak perlu lagi diberitahu kan? Sudah tiga puluh tiga kok masih kaya bocah," sindir Rustina keras-keras.


Yah, memang dia ingin mengeluarkan semuanya. Entah mengapa, ia masih belum bisa terima kalau pilihannya kalah oleh pilihan Djarot sendiri yang ... luar biasa. Sebagai sesama wanita, Rustina mengakui Rully memang sangat mempesona. Wajar jika Djarot langsung terbuai.

__ADS_1


"Mohon maaf sebelumnya kalau apa yang akan saya katakan ini membuat Ibuk tersinggung. Tetapi saya berhak membela diri saya jika ada orang yang merendahkan saya tanpa dasar."


Ucapan Rully membuat Rustina berjengit dalam hati. Ia mengalihkan pandangannya pada Rully yang terlihat lain saat serius. Auranya sangat dewasa.


"Yang Ibuk Rustina Murdyo tidak tahu adalah, saya telah bangun pagi-pagi. Tetapi saya memang tidak segera ke dapur, membantu pembantu yang saya rasa lebih dari cukup dan mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Buat apa juga punya pembantu kalau majikannya masih harus bekerja?" Rully berkata keras-keras sampai Djarot yang sedang berkoordinasi soal kasus yang ditanganinya, menoleh dan melangkah turun ke dapur tergesa-gesa.


Rustina terpaku di tempat. "Namanya menjaga adap dan sopan santun, menghargai pemilik rumah. Kamu hanya tamu di rumah ini."


"Ya, baiklah! Dimana-mana, tamu itu dihormati, dihargai, bukan disuruh menjadi pelayan tambahan, Buk Rus. Dan kalau memang jodoh mengizinkan, saya adalah calon menantu, yang harusnya Ibuk perlakukan dengan baik, bukan malah wanita lain Ibuk sambut seperti ratu. Setidaknya, saya harusnya diperlakukan sama dengan dirumah saya sendiri."


Djarot di tempatnya memandang Rully dan Ibunya bergantian. Dia membiarkan saja. Ibunya harus mengerti, dan Rully harus meluruskan. Baginya, keduanya sebenarnya tidak perlu sampai sebegitunya, tetapi tidak masalah jika mereka ribut dulu. Toh, tidak ada ayam yang akur di saat pertama kali dimasukkan dalam kandang yang sama.


"Karena wanita lain itu layak mendapatkan penghargaan. Beda sama kamu yang tiba-tiba masuk ke rumah ini, cengengesan, dan berperilaku seperti bocah." Rustina membalas, masih dalam mode kesal karena Rully terus mendebatnya.


"Oh, jadi begitu? Baiklah, Mas Djarot memilih saya, dan Ibuk memilih calon Ibuk ... Jadi siapa kira-kira yang jadi pemenangnya, ya?" Rully berkata sarkas. Ia sampai mengendik kesenangan membayangkan ini.


"Saya yang akan dinikahi Mas Djarot, Buk. Kami akan punya anak yang banyak dan lucu-lucu, yang akan kami pamerkan di setiap potongan media sosial kami. Lalu akan banyak orang yang gemas, dan menyebut-nyebut mereka cucu keluarga Murdyo. Belum lagi mereka yang tahu menggunjingkan Ibuk. Ibu yang tidak merestui pernikahan anaknya. Dan Ibuk dapat apa dengan wanita pilihan Ibuk itu? Bahagia? Nggak kan? Memisahkan saya dan Mas Djarot? Itu perlu usaha yang lebih kuat dan keras, karena sekarang saja Mas Djarot sama sekali tidak tertarik melirik wanita pilihan Ibuk itu!"


Rustina membelalak, berani sekali wanita ini berkata kasar dan mengancam. Dia belum tahu di depannya ini siapa?


"Kamu kalau bicara yang sopan! Mana ada wanita kasar dan menghardik Ibuk dari calon suaminya? Apa kamu tidak tahu cara menghargai orang tua? Apa kamu tidak tahu saya ini wajib kamu hormati? Kamu wajib mematuhi apa yang dikatakan oleh calon mertuamu! Mendengarkan, bukan mendebat sampai urat-urat lehermu keluar semua!" bentak Rustina.


"Saya hanya akan patuh dan mengabdi pada suami saya, Buk. Saya hanya wajib menghormati Ibuk. Saya hanya akan mendengarkan omongan suami saya, sedangkan Ibuk, tetap nomer dua bagi saya. Sekalipun saya hanya menantu, tetapi saya juga punya hak untuk menyuarakan apa yang tidak sesuai dengan prinsip saya. Saya hargai dan menghormati Ibuk sebagai orang tua Mas Djarot, tetapi saya tidak bisa menurut dan diam saja jika saya diperlakukan tidak baik!"


Rully menatap Rustina sejenak, lalu tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Rustina, dia segera meninggalkan tempat itu. Cukup sudah dia menjelaskan dirinya. Jika masih tidak bisa diterima, dia sudah tidak peduli lagi. Baginya, lebih baik menjadi diri sendiri saat ingin bertemu dengan orang yang selamanya bersama kita, daripada pencitraan seolah semuanya baik dan sempurna, tetapi ternyata semuanya palsu belaka.


Rully tidak dendam, tetapi juga tidak akan mudah memaafkan. Ini hanya ujian untuk saling mengenal. Ini tahap awal sebuah perjalanan. Mereka hanya sedang saling mengenal, meski caranya tidak biasa.


Rustina terpaku. Dia sedikit tergelitik dan lebih banyak tertampar. Gadis muda yang cukup berani.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2