
Paket souvenir telah selesai di buat. Mayang dan Gian memang klop kalau soal peluang. Basic pengusaha tetap menguasai setiap langkah mereka. Ibarat kata, keluar satu masuk sepuluh. Itu harapan mereka.
Semakin mesra ... jelas! Itu tak terbantahkan. Namun, Rully masih tetap membuat Mayang khawatir. Sejak kejadian itu, kakaknya bertingkah aneh. Dia tampak bahagia, lepas, dan lega.
Seperti pagi ini, Rully datang dengan wajah ceria. Jejogetan tidak karuan, menghampiri Mayang yang duduk di meja makan dengan semangkuk stroberi potong di tangannya.
"Udah nggak sakit hati lagi sama kita?" Mayang menerka. Rully sering kemari dan sudah ceria lagi. Ini baik, tapi ya ... agak aneh. Jangan-jangan mau nikung Gian lagi.
"Mau rebut Gian dari aku, Mbak? Udah nemu kelemahan kami?" Mayang mencecar. Patutlah dia waspada.
Rully mencibir sampai bibir Rully bisa dijadikan pijakan. "Kepedean!" cibirnya sengit.
Mayang tetap melihat itu sebagai perlindungan.
Rully membuang napasnya keras-keras. "Kamu pikir, setelah jatuh cinta sendiri ... terus aku harus meratap-ratap menyedihkan?" Bibir Rully mencebik sinis. Masih menyuarakan betapa Mayang ini terlalu percaya diri. Meski memang benar, tapi bukan lagi masalah.
"Pokoknya aku lagi seneng!" Rully menyomot storberi di mangkuk Mayang, mengunyahnya dengan dramatis. "Dan rahasia!"
Mayang kesal. "Baik! Main rahasia sana sama aku, awas nanti kalau kepentok masalah! Jangan datang ke aku!"
"Siapa takut!" Rully menantang. Lagian dia sudah membuang jauh-jauh masalah dan teror yang mencekiknya. Dan Rully yakin, sebentuk masalah botak itu akan butuh waktu lama buat memenuhi syarat dari Rully yang maha berat.
Keduanya saling tatap penuh permusuhan. Dan tidak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Sorot mata penuh permusuhan juga menyelimuti mata Djarot yang beradu pandang dengan dirinya sendiri di cermin. Sudah seminggu ini dia menahan rindu untuk mengapel ke rumah pujaan hatinya. Hanya melihat dari jauh, dan tidak boleh sampai terlihat di mata Rully.
Berat memang syarat Rully, syarat yang terkesan ingin menghalau Djarot dari Rully. Tapi, Djarot sudah menjatuhkan pilihan, dan dia bersumpah, akan membalik keadaan bila semua syarat Rully terpenuhi.
Seperti kisah Mahabarata, dimana Pandawa tidak boleh terlihat di mata Kurawa, Djarot pun demikian. Jika sampai Rully melihatnya, ia harus mengulang tiga puluh hari menjauh dari hidup Rully. Djarot bisa, sisa tiga minggu lagi saja.
Menumbuhkan rambut itu sangat susah, karena terlanjur klimis ia membotaki kepalanya. Dan Rully tentu mengeluarkan segala antisipasi, dengan tidak boleh menumbuhkannya dengan sulam atau bantuan alat apapun.
"Dia tidak bilang ramuan kan?" Tangan Djarot kesal saat mengoleskan minyak kemiri ke kepalanya. "Sialan wanita itu!"
Jika ini berjalan lancar, tentu Djarot tidak akan segusar ini. Setidaknya butuh dua bulan untuk mencapai panjang rambut yang diinginkan Rully.
"Kalau sampai dia menolakku, pasti akan kupelet sampai dia tidak ada yang mau selain sama aku!" Mata Djarot tak ramah, ia bahkan meninju cermin yang setiap hari menjadi pelampiasan kemarahannya. Djarot agak mengerikan.
Memang, dia keras hati jika ingin mencapai sesuatu. Sial nasib Rully, ketika ia menguji Djarot yang terkesan lembek. Namum, Djarot memang tipe pecinta wanita meski sifatnya sangat kasar.
"Roni!" panggil Djarot pada sopir sekaligus orang kepercayaannya.
"Ya, Pak," jawab Roni yang muncul di balik mobil Pajero hitam milik Djarot.
"Ingat tanggal yang ku katakan?" tanya Djarot penuh intimidasi. Namun, Roni tampak biasa menghadapi hardikan keras dari bosnya itu.
"Ingat, Pak ... tanggal dua belas bulan depan." Roni menjawab dengan lancar. Bagaimana dia lupa, jika Djarot selalu mengingatkan Roni akan tanggal itu dan apa yang harus dilakukannya pada hari itu.
__ADS_1
"Kamu harus apa?" Nada tak terbantahkan menyusul.
"Saya harus bawa penghulu, dan Pak Sigit untuk datang ke rumah Bu Rully."
"Karena apa?" cecar Djarot dengan mata tajamnya.
"Hari itu, Bapak akan menikahi Bu Rully. Baik terpaksa atau suka rela."
"Bagus!" Djarot baru tersenyum puas. Lalu mengambil sisi sebelah kemudi untuk menuju Gym. "Yang harus kamu ingat, carikan saya ramuan yang bisa menumbuhkan rambut dengan cepat!"
"Baik, Pak!" Roni menunduk, menyembunyikan betapa pusing kepalanya memikirkan ramuan yg dimaksud.
Djarot memacu mobilnya ke jalan raya bersama mobil lain. Menyisakan Roni yang membuang napas keras-keras.
"Kemana lagi, toh, cari ramuan ajaib penumbuh rambut?" gumam pria dua puluh lima tahun itu seraya memijat keningnya. "Dari mak erot sampai dukun beranak sudah aku sambangi, tapi nggak nemu."
"Lagian aneh banget syaratnya orang buat nikah aja! Pake harus tumbuh rambut segala. Kan bagus kalau foto manten kepalanya glowing."
Roni menatap jalan dimana Djarot baru saja berlalu. "Dari hawanya yang mistis, Pak Djarot akan membalas yang namanya Bu Rully itu nanti dengan telak. Belum tau saja wanita itu betapa dahsyatnya pesona perjaka tua."
"Doa yang banyak, Bu Rully ... semoga sampean sehat dan diberkahi tulang pinggul yang kuat!" Roni membayangkan sesuatu. Astaga.
*
__ADS_1
*
*