
Mayang yang pergi secara tiba-tiba, membuat Hadyan heran.
"Kamu apakan dia, Yan?" Hadyan masih menatap kepergian Mayang, Gian masih di dalam. Entah apa yang dilakukan pria itu di dalam sana.
"Bapak kalau mau nikah lagi, saya tidak melarang loh." Gian muncul dengan wajah sendu.
Hadyan terkejut, lalu menoleh, memandangi anaknya yang tampak aneh hari ini. Perkataannya halus dan banyak bicara. Hadyan suka, hanya merasa berbeda saja.
"Saya tau, saya nggak bisa ada di dekat Bapak, karena tuntutan pekerjaan, dan Bapak juga sudah tau hal itu, kan? Kata Bapak, apa yang kita sukai harus ditekuni, jadi itu yang sedang saya lakukan sekarang. Jadi kalau Bapak kesepian, Bapak saya izinkan nikah lagi." Gian melanjutkan.
"Kamu ndak dalam kondisi tertekan, kan, Nak? Apa kamu melalukan kesalahan saat operasi? Kamu dituntut sama pasien kamu?" Hadyan menerka, sedikit bercanda, tetapi kata-kata Gian itu, membuat Hadyan heran. Bijak banget Gian hari ini. Ada apa?
Gian membuang napas, "Mayang cocok sama Bapak."
"Ya, jelaslah ... Bapak itu kapan toh, ndak cocok kalau cariin kamu calon? Kamu aja yang demennya cuma sama Saira ... kaya wanita hanya Saira aja, Yan!" Hadyan kembali duduk. Ini yang ingin Hadyan katakan sebenarnya. Meski ada sedikit perasaannya dilibatkan, tetapi tidak apa-apa. Hadyan tidak bisa memiliki Rianti—ibunya Mayang—kini bisa memiliki anak Rianti yang akan meneruskan keturunannya. Aneh memang, tapi Hadyan pernah patah hati sampai berjanji. Jika tak bisa berjodoh hari ini, di masa depan, harus ada jodoh yang mengikat antara Hadyan dan Rianti.
__ADS_1
Dan itu Gian dan Mayang.
Mayang secara fisik memang cenderung mirip dengan bapak kandungnya, tetapi Hadyan langsung jatuh cinta pada Mayang. Tutur kata dan keberanian Mayang mirip sekali dengan Rianti. Itu yang membuat Hadyan langsung berniat dekat dengan Mayang. Kalau mengandalkan Gian, pasti kacau. Lihat saja sekarang, Mayang kabur karena ulah Gian.
Ruangan itu hening. Mungkin nyawa Gian sudah melayang jauh entah kemana, mungkin berlari mengejar Mayang, karena pria itu berdiri kaku dengan mata melebar.
"Bapak bantu Mayang biar cepat lepas sama suaminya yang kurang ajar itu, dan kamu tugasnya meluluhkan Mayang. Bapak yakin, Mayang akan susah ditaklukkan setelah dikhianati habis-habisan sama suaminya, jadi kamu harus sabar. Eh, malah jadinya kayak gini." Hadyan tampak sewot.
"Kamu ini jadi anak udah ndak peka, ngeyelan, galak juga. Bapak jadi bingung mau nyariin wanita yang kaya apa? Kamu alasannya selalu ingin cari sendiri, belum siap berumah tangga lagi, masih trauma, atau apalagi lah, bikin Bapak pusing mikirin kamu terus. Mana dapetnya Saira yang sifatnya sebelas dua belas sama Anggi. Yang ada nanti Bapak jantungan lagi kalau kamu sama Saira." Hadyan mengomel dengan suara keras. Mungkin Hadyan sudah lama memendam semua itu.
"Makanya pulang! Biar kita bisa ngomong bebas. Kalau di sini, Bapak baru mau ngomong, udah dipanggil sama rekan kamu, ada pasienlah, apalah. Bapak sampek kesel sama kamu Gian," sembur Hadyan. "Kamu itu kerja gantian, meski kamu yang punya, bukan berarti apa-apa harus kamu! Apa gunanya sistem kerja shif kalau kamu dua puluh empat jam di sini terus?!"
Gian melipat bibir. Ya, mau bagaimana, Gian masih mencari nama dengan melayani pasien sendiri, karena Gian adalah dokter spesialis yang masih muda dan belum banyak dikenal, meski sudah punya klinik sendiri. Klinik ini juga baru jalan satu tahun, Gian ingin memajukannya lebih dulu.
"Mayang tetanggaan sama kita, peluang kamu deket dia jauh lebih banyak. Bapak pikir, kamu ini udah ndak bisa pisah sama Saira, makanya ndak pulang-pulang biar ndak ketemu Mayang. Makanya Bapak ndak ngoyo lagi buat jodohin kamu sama Mayang ... terserah kamu mau sama siapa, asal kalau ada apa-apa, jangan libatkan Bapak. Bapak sudah nasehatin kamu sebelumnya." Hadyan memungkasi pidatonya.
__ADS_1
"Sekarang semua terserah sama kamu, Gian ... Bapak udah nyerah sama kamu." Hadyan bangkit, lalu meninggalkan Gian yang mematung sendirian. Tetapi hatinya senang.
*
*
*
*
3 bab done😄 selamat membaca sambil rebahan🥰
Dearly
Misshel😘
__ADS_1