
Ya, tentu beliau sangat perfeksionis dan teliti. Seleksinya pasti sangat ketat sehingga Djarot memilih melajang jika tidak bertemu Rully. Ibunya harus benar-benar punya lawan yang sepadan, soal apapun.
Sementara, bukan tanpa alasan kenapa ia membiarkan Rully memakai pakaian kasual, tanpa buah tangan berarti, dan mereka berkunjung dengan memakai mobil Rully.
Ibunya harus menerima pilihannya tanpa embel-embel gelar dan sebagainya. Ini adalah pilihannya.
Praktis rumah orang tua Djarot berada di kabupaten lain, yang memakan waktu satu setengah jam lebih, bahkan Rully sempat tertidur. Dan Djarot harus menahan diri untuk tidak mencuri lagi ciuman dari gadis itu saat Rully dalam mode jinak.
"Rully, kita sudah sampai." Djarot berbisik alih-alih meneruskan niatnya mencium Rully.
Itu bagai sengatan listrik yang membuat bola mata Rully langsung melebar. "Beneran?" Ia langsung melihat sekeliling, dan itu adalah sebuah rumah yang luas sekali. Halamannya bahkan bisa untuk bermain sepak bola, lengkap dengan pohon kamboja di beberapa sudut.
"Mas aku harus cuci muka. Wajahku pasti berminyak, perlu pasti banyak, dan badanku ... astaga, aku butuh mandi." Rully menciumi ketiaknya yang masih menguarkan bau wangi.
Djarot tersenyum. Ini awal yang bagus dengan membiasakan Rully memanggilnya begitu. "Nanti saja di dalam. Itu Ibuk udah nongol di depan pintu."
Rully menatap ke depan. Nampak olehnya wanita berumur dengan rambut putihnya sedang mengawasi mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Kaca mata berbingkai emas itu sepertinya tidak membantu.
Rully turun, dan serta merta berjalan ke arah sang calon mertua.
"Halo Ibu Rustina ... saya Rully. Saya calon istrinya Mas Djarot. Senang bertemu dengan Ibu Rus."
Rully menyalami paksa sang wanita tua, lalu memeluknya erat-erat. Gayanya yang pecicilan membuat wanita tua itu mengerut tidak senang. Jantungnya dibuat hampir copot karenanya.
"Masa kamu calonnya Djarot?" Kerutan beserta ekspresi tidak percaya itu membuat Rully segera sadar, kalau ibunya Djarot bukan wanita yang menyenangkan, tetapi apa boleh buat, kesan pertamanya sudah sangat buruk pastinya.
Rully tidak bisa menjadi anggun tiba-tiba ... Itu hanya akan membuatnya tampak tidak asli dan pencitraan.
"Benar, Bu Mertua ... Jadi dimana kamar calon suami saya? Saya ingin mandi."
__ADS_1
Wanita tua itu sampai menjatuhkan rahangnya. Tidak mungkin Djarot dan gadis ini sudah jauh, kan? Dan apa itu tadi. Tatapannya seperti gadis yang benar-benar genit dan kecentilan.
Rully mengabaikan itu lalu masuk ke dalam rumah dengan bersenandung, kakinya berjingkrak lucu, mirip dengan anak kecil. Meski ia sedang meringis menahan malu.
"Assalamualaikum, Bu." Djarot menyalami ibunya dengan tenang. Seolah dia tidak memahami semua yang barusan dilihatnya.
"Kamu itu pilih istri kok goblok!" Rus melepaskan tangannya, lalu menatap tajam sang putra. "Kamu ini loh, pengacara, mapan, dan tampan ... mana bisa calon istrimu itu anak tamatan SMA? Ndak tau sopan santun, tata krama, dan masa iya langsung masuk ke kamar pria? Kamu apakan dia sampai gila begitu? Kalian berdua pasti gila! Doyan sama anak kecil, kamu ini kelainan!"
Djarot ingin tertawa, ibunya yang jeli bisa tertipu oleh sikap Rully yang kekanak-kanakan. "Saya normal, Bu ... dia kan wanita. Cantik pula ... Dan saya cinta mati sama dia."
"Wong Edan!" Rus menyembur anak lelakinya seraya membenarkan letak kacamatanya. "kamu ndak takut dituntut sama orang tuanya? Kamu ini ... kenapa ndak milih Melly, Cintya, Maharani, atau Putri? Mereka matang dan mapan, Ngga!"
Djarot tertawa sekarang. Ia segera memeluk ibunya. "Cinta ngga bisa dipaksakan Buk, saya hanya cinta sama Rully. Dan tidak akan ada tuntut menuntut kok, kami suka sama suka. Ibuk sing tenang penggalihe."
Rustina tau, Djarot bukan anak yang akan membuatnya kerepotan atau kepikiran, tapi apa kata orang nanti. Istrinya lulusan SMA setelah menolak wanita bergelar Magister, bahkan Doktor. Ia menolak berlian demi setetes tinta.
"Tolong pikirkan lagi, Ngga!" Pinta Rustina dengan mata berkaca-kaca.
Djarot mengusap pipi ibunya, "Bapak mana, Buk? Ini sekalian mau ngenalin sama keluarga besar. Mereka bisa diminta datang malam ini, kan, Buk? Urusan katering udah Lingga siapkan."
Di rumah, Djarot biasa dipanggil Lingga, jadi akan kesulitan jika mencari rumah dengan menyebutkan nama Djarot.
Ia mengecup pipi Ibunya lalu berjalan ke arah kamarnya. Ia bersiul seraya memasukkan tangan ke saku. Pria itu terlihat senang.
Rustina menggigit bibir. Perih sekali hatinya membayangkan anak lelakinya menjadi budak anak baru gede semacam itu.
Rully hanya berjalan menuju bagian belakang rumah ini, jalur lurus yang dia ambil dari ruang depan. Akhirnya dia tersesat, dan berakhir di dekat kolam ikan hias warna warni.
Matanya menatap sekeliling, ada bangku panjang di sudut, dinaungi atap transparan. Baru saja Rully ingin duduk dan membenamkan malunya di sana, Djarot sudah menginterupsinya.
__ADS_1
"Susah cari kamarku?"
Rully menoleh dan langsung menunduk. "Saya mengacaukan semuanya, ya, Pak?"
"Tidak ... malah bagus sejauh ini." Djarot mendekat, lalu menuntun tangan Rully ke bagian tersembunyi di balik kamar mandi untuk pembantu. Djarot mempersilakan Rully naik lebih dulu, tangganya tidak muat untuk berjalan barengan.
Dari kelihatannya, tangga ini merupakan tangga susulan. Dibangun karena menyesuaikan kebutuhan dan perubahan yang ada.
"Tapi, Pak... ibumu tampak tak suka denganku."
"Yang penting kan aku, siapa peduli dengan orang lain?" Djarot rasanya tidak mengerti beban tidak di sukai mertua. Djarot sih enak, Rully tinggal sendiri. Tidak perlu menghadapi mertua dan segala keribetannya.
"Dia ibumu, Pak ... bukan orang lain? Jika orang lain pasti saya cuekin saja." Rully sampai berbalik, dan karena dia belum terbiasa dengan tangga ini, kaki nya terantuk tangga. Ia nyaris jatuh jika tidak ditopang Djarot.
Posisinya sangat canggung sekali, tetapi tidak ada yang mau bergerak menjauh. Praktis Djarot hanya menahan agar punggung Rully tidak menabrak bagian tangga yang tajam.
Lalu posisi yang membuat salah paham karena posisi kaki Djarot yang menguasai kedua kaki Rully, ternyata dilihat oleh sang Ibu.
Wanita itu ingin berteriak, memaki, dan memarahi anak-anak yang tak tahu malu itu. Bisa-bisanya mereka melakukan itu di tempat terbuka? Astaga!
Namun, ia segera memikirkan cara lain untuk membuat Rully tahu siapa yang sedang di hadapinya.
"Jangan kacaukan masa depan anakku, Bocah kecil!" Rustina berlalu dari tempat itu, lalu mulai menjalankan niatnya.
Bayangan gadis bertubuh mungil dan ramping itu menari di benak Rustina. Apa fantasi anaknya sebatas seragam SMA yang dikenakan Rully sehari-hari?
Tak memungkiri, Rully cantik dan membuat siapa saja gemas. Jika itu untuk dijadikan anak asuh, Rus akan dengan senang hati menerima dan menganggapnya seperti anak sendiri. Manis dan tidak membosankan. Pasti tidak akan lagi sepi menemani hari-harinya.
"Ah, opo seh, sing tak pikir. Orang bocah ingusan gitu kok, opo sing tak harapne?" Rustina mengibaskan tangannya seraya melirik ke arah belakang dimana tangga sialan itu berada.
__ADS_1