
Yang membuat acara ini meriah selain karena hidangan mewah, band pengisi acaranya serba bisa, juga karena gedung yang Gian sewa jauh lebih besar dan elegan. Gedung dengan galeri seni ini memang menawarkan suasana nyaman dan tenang. Gian tentu telah menyiapkan acaranya agar berkesan diingatan mantan—eh, maksudnya tamu undangan.
Souvenir yang berkelas juga akan menemani tangan para tamu saat pulang nanti. Mini Gold satu gram, voucher makan senilai dua ratus ribu di seluruh rumah makan Mayang dan Arumndalu, paket perawatan dari Salon Rully, dan check kesehatan gratis di Klinik Gian dengan dokter spesialis terkemuka yang Gian rekrut untuk bekerja sama membesarkan kliniknya. Prospek check kesehatan sangat cerah untuk bisnis Gian, dengan begitu, Gian tak perlu promo di radio-radio, banner di perempatan, atau selebaran-selebaran. Seribu undangan tersebar, tanpa menerima sumbangan, hidangan mewah dan melimpah, tentu membuat mereka berpikir dua kali melewatkan servis Gian satu ini.
Mantan yang terus memperhatikan Gian dari panggung dimana band berada, rupanya masih memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan harapan yang besar. Meski ia tidak akan menjadi istri Gian lagi, tapi membuat istri sah tidak tenang hidupnya, sudah lebih dari cukup untuk membuat hati Anggi senang.
Pembawa acara memanggil Anggi untuk giliran menyanyikan lagu selanjutnya, membuat Anggi kembali menyusun fokusnya pada acara siang ini. Tangan kanannya meraih ponsel, sudah ia siapkan beberapa lagu untuk Gian.
Anggi pada kesempatan ini sengaja memakai pakaian panjang dengan belahan kaki tinggi berwarna hijau klasik yang ketat membalut tubuhnya. One off-shoulders, membuat tulang selangkanya yang kurus terlihat seksi. Bahunya tegak mulus cukuplah membuat Gian ingat kembali kala bibir seksi pria itu menciuminya.
"Halo, Mas Gian ...," sapa Anggi dengan suara merdunya yang mendayu. "Satu lagu saya akan saya persembahkan untuk pengantin yang berbahagia."
Terdengar biasa saja dan tegar. Sebagai mantan, Anggi terlihat sportif saat melihat Gian tak henti tersenyum melayani tamu undangan yang datang bersalaman. Anggia dikagumi, sebagai single parent yang mandiri dan kuat. Gian memahami itu, kendati ia tak dituduh mantan yang jahat, tetapi Gian terganggu dengan semua tatapan memuja itu.
"Ku rindu gayamu ketika bercanda ...." Anggi yang bernyanyi tanpa iringan musik, menjeda sejenak suaranya yang merdu mendayu untuk menarik perhatian tamu yang sibuk dan bising. "Kenapa Bapak? Kenal lagunya?"
Anggi berinteraksi dengan tamu yang paling dekat dengan panggung. Tentu saja pria itu menatap Anggi karena jarak mereka yang dekat. "Bisa nyanyi lagunya, Pak?" Anggi memancing dengan gaya profesionalnya yang khas. "Nyanyi bareng saya yuk, biar saya nggak sendirian."
Pria itu salah tingkah, tak bisa menolak lebih jauh karena Anggi sudah dituntun turun panggung yang tak seberapa tinggi itu. Anggi dengan luwes menggandeng bapak-bapak itu ke dekat pelaminan seraya melanjutkan nyanyiannya.
__ADS_1
Gian tersenyum sinis, matanya sama sekali tak menatap Anggi. Ia tahu kalau Anggi hanya mencari cara agar dia bisa mendekat padanya.
"Ku rindu gayamu ketika bermanja ...." Tepat pada saat itu, Anggi sampai di depan Gian, memberikan pria itu tatapan penuh rindu dan terkesan genit. Ia menyalami Gian dan menggenggam tangan pria itu lama.
Meluluhkan segenap jiwa
Kurindu bagaimana engkau membujuk
Ketika 'ku merajuk
Kurindu bagaimana engkau mengasihi
Ketika kubersedih ....
Lagu Anggi telah selesai, tetapi Anggi masih di pelaminan berbincang dengan Gian.
"Samawa, ya, Mas ... oh, ya, tadi udah ketemu Qila? Dia nyariin Mas terus karena Mas sibuk dan nggak jenguk dia." Anggi malah menautkan kedua tangannya pada lengan Gian yang membatu.
"Sudah, Mbak ... Mas Gian udah ketemu tadi. Dan setelah ini, kami akan ke rumah Mbak buat jenguk Qila. Kami mau kenalkan calon adik Qila pada kakaknya yang cantik. Qila pasti seneng adiknya kembar," tukas Mayang santai seraya menempelkan perutnya ke sisi tubuh Gian. Mayang sengaja bermanja-manja di lengan yang dipegang Anggi itu.
__ADS_1
Anggi mendengus kesal, tetapi ia tersenyum manis. "Maaf, ya, aku lagi ngomong sama Ayahnya Qila—"
"Dan saya istrinya yang sah, Mbak ... Qila boleh tetap anaknya Mas Gian, tapi Mbak sudah tidak pantas lagi menggelayut seperti itu pada suami saya. Kelihatan sekali Mbak hanya akan cari masalah sama saya." Mayang berkata sangat cepat, Gian saja sampai terbengong karena setiap dia mau berkata, Mayang lebih dulu menyerobotnya.
"Kamu percaya diri sekali?!" Anggi berkata dengan sengit. "Bagaimanapun kami pernah dekat dan saling mencinta dulu. Tidak apa-apa kami kembali dekat sebagai sahabat, partner yang baik untuk membesarkan Qila."
"Aku hanya tidak mau kamu memaksa reunian, padahal suami saya tidak ingin melakukan itu, Mbak! Jaga harga diri dan martabat janda. Mbak sudah baik dengan imej ibu tunggal yang bekerja keras tanpa dukungan ayah kandungnya. Jangan Mbak rusak yang itu, agar rezeki manggung Mbak tetap lancar. Kalau Mbak bersikap kayak gini, yang ada imej Mbak jadi buruk, masa depan Qila dipertaruhkan jika ibunya tidak lagi bekerja." Mayang mengomel panjang lebar. Beruntung, acara sudah hampir usai sehingga tamu undangan sisa sedikit saja.
"Sok pintar kamu! Tau apa kamu soal Qila?" ujar Anggi ketus.
"Mayang tau semuanya, Nggi ... baiknya kamu berhenti selagi bisa. Mayang benar, aku nggak mau lagi terhubung dengan kamu dalam bentuk apapun setelah ini. Aku punya keluarga baru yang harus aku utamakan. Saranku, kamu segera cari ayah Qila yang sebenarnya. Kamu nggak kasihan sama anak kamu, dibohongi dan dicekoki kenyataan palsu? Kamu bisa kasih uang dan kemewahan, tapi kamu menyakiti hati anakmu dengan luka penuh kebohongan."
Anggi mendadak panas. Matanya berganti-ganti menatap Gian dan Mayang dengan tatapan terluka. Bisa-bisanya mereka berdua kompak dan saling mendukung. Malah Mayang tak terlihat marah dengan pancingan lagu yang harusnya membuat kecemburuan Mayang terpercik bara.
"Sialan! Aku harus pakai cara terakhir agar kedua orang ini tak punya muka lagi!" Anggi bergumam dalam hati. Tangannya meremas gaun hingga menggumpal dan kusut. Kebencian menyeruak memenuhi pandangan wanita itu. Kalian berdua harus jatuh di depan mataku, batin Anggi
*
*
__ADS_1
*
Lagunya gala-gala, dalam versi Kang Sound dan seperangkat alat soundsistem, lagu ini sangat khas dengan nada yang menghentak nan manja. Dalam makna tertentu, ini bisa menjadikan otak kita mikir oleng ke kiri.🤣🤣🤣