Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Jadi Begitu Ceritanya


__ADS_3

"Mayang ...! Kita belum selesai bicara!" Ferdi mengejar, tetapi Mayang keburu menutup pintu. "Mayang!"


Suara Ferdi bersambut hampa. "Sial!" umpatnya seraya menendang udara kosong di depannya. Tangannya terlipat di pinggang, sebelah lagi mengacak rambut hingga berantakan.


Seorang Ferdi merasa kalut.


Di tengah kesibukannya di kantor tadi, Ferdi mendapat tamu tak terduga. Seorang pengacara yang membuat selusin karyawan lain memasang telinga lebar-lebar.


"Bu Mayang secara resmi mengajukan gugatan cerai pada Anda, Pak Ferdi," tegas pengacara yang memperkenalkan diri dengan nama Djarot. Dialah Djarot Putranto, pengacara kondang yang Ferdi dengar selentingan 90% kasus yang ditanganinya menang.


"Silakan Pak Ferdi pelajari, dan jika anda ingin semua cepat selesai tanpa campur tangan pihak berwajib ...." Djarot mengulurkan lembar lain yang membuat Ferdi syok. "... sebaiknya anda segera menandatangani surat ini tanpa banyak syarat."


Ferdi gemetar, ia tidak tahu jika proses perceraian akan seperti ini. Mayang dengan detail menyertakan bukti kecurangan dan juga perselingkuhannya. "Ini tidak benar, Pak ... saya tidak akan menandatangani apapun. Mayang hanya ingin memberikan saya waktu untuk berpikir, kami memang bertengkar, tetapi tidak untuk perceraian," kilah Ferdi memekik.


Ruang tamu ini tak seberapa luas, tak juga memiliki pelindung privasi, sehingga omongan Ferdi jelas terdengar oleh rekan yang lain.


"Saya hanya melakukan apa yang diminta klien saya, Pak ... tidak mungkin saya mempunyai ini semua tanpa perintah Bu Mayang." Djarot sedikitpun tak terpengaruh ucapan Ferdi. Ia melanjutkan setelah melihat gelagat Ferdi yang bingung. "Sebaiknya anda bekerja sama, mengingat Bu Mayang bisa saja menuntut anda dengan pidana."


Djarot bangkit. "Saya rasa apa yang ingin saya jelaskan sudah saya sampaikan semuanya, Pak Ferdi, saya mohon undur diri." Melihat gelagat Ferdi yang tak ingin membalas salam pamitnya, Djarot tersenyum sebelum meninggalkan temoat ini.

__ADS_1


Ferdi tertegun beberapa saat lamanya, entah enggan atau tidak mau memercayai apa yang dilihat dan di dengarnya. Ferdi telah dicampakkan secara sepihak. Bagaimana bisa Mayang begitu mudahnya merayu dan meninggalkannya begitu saja? Dan lebih membingungkan lagi, Ferdi terperdaya dan masuk permainan Mayang dengan mudahnya, bagaimana dia yang bermain, malah dia yang terjebak?


Ketika Ferdi lelah menekuni rasa kesalnya, ia bangkit dan kembali ke meja kerjanya.


"Gais, Gais ... jadi pertanyaan kalian soal kenapa pas makan di Selera kita harus bayar kini sudah terjawab, ya ...," celetuk salah seorang rekan perempuan Ferdi. Mendadak ruangan itu penuh dengan aroma pergunjingan yang kental. Ferdi menebalkan telinga, abai dan berlalu begitu saja tanpa menanggapi.


Tawa menggema sebagai sambutan. Namun, sisa hari itu Ferdi lalui dengan suasana hati yang panas. Ocehan mereka semakin ngawur dan menyakiti.


"Besok kalau ke Selera, bawa duit sendiri, restoran itu mau cari untung, bukan tempat sedekah."


"Lagian, ya ... kita makan gratis di sana itu nggak berkah, orang dihasilkan dari cara yang haram."


"Yang dikasih tumbal juga milih-milih kali ... mana mau dikasih bangkai busuk, orang kalau mau numbal aja sesajennya harus yang bagus-bagus."


"Besok aku juga mau ngaku-ngaku sebagai pemilik Arumndalu, ah ... biar Bu Saira naksir sama aku."


Dan setelah semua itu di sinilah Ferdi berada, jam kantor belum juga usai tapi Ferdi sudah kabur dengan telinga sepanas bara. Niatnya mengancam Mayang, menakut-nakuti wanita itu, tetapi malah dia yang kembali mendapat tamparan malu.


Ferdi masuk ke mobil, tawa rekan-rekannya masih jelas terngiang, tekatnya luntur, Mayang sudah kabur. Sisa dia dengan setumpuk beban baru. Hidupnya jauh lebih mengenaskan dari kehidupan sebelum setahun lalu.

__ADS_1


"Mayang ...!" erangnya mendendam. Tetapi tak pernah bisa ia lampiaskan. Mayang sudah jauh tak tersentuh, selang beberapa waktu mereka berjauhan. Mayang sudah tak lagi sama dengan Mayang yang dulu.


Sementara itu dari dalam, Mayang menyaksikan tingkah polah calon mantan suaminya sembari bertelepon dengan Djarot.


"Terima kasih bantuannya, Pak ... hasilnya sangat memuaskan." Mayang sesekali menyesap jus buah yang menyegarkan badannya.


Yah, demi mendapatkan efek yang dramatis, Mayang meminta bantuan Djarot untuk menyampaikan surat gugatan itu ke kantor Ferdi. Hal itu juga menegaskan siapa istri Ferdi dan bagaimana rumah tangganya. Selanjutnya, Mayang akan lebih sering tampil dan menyebut mantan suaminya itu agar semakin jelas siapa Ferdi di mata semua orang yang sempat menyanjungnya.


Mayang tersenyum puas, lalu menyudahi panggilannya. Memutuskan untuk pulang ke rumah barunya, Mayang segera mengemasi barang-barang.


"Hidup kadang tak adil, Mas ... bersabarlah. Andai kamu ndak jahat sama aku, aku pasti tidak akan seperti sama kamu," gumam Mayang.


*


*


*


*

__ADS_1


Dua bab aja, ya, gais😄 aku dah ngantuk😄


__ADS_2