
Seketika kehebohan lamaran Djarot terdengar ke telinga Mayang. Pagi-pagi sekali, Sigit telah tiba di rumah Mayang, seolah tak sabar memberitahu Mayang kejadian kemarin. Sigit telah lengkap dengan seragam kebesarannya, saat duduk di ruang tamu rumah Mayang. Ia menantikan Mayang turun.
Secangkir kopi sengaja dia minta dari Martina, pembantu Mayang yang baru, sebab ia tak sempat ngopi lebih dulu sebelum kemari, lagipula, istrinya sedang mengunjungi saudaranya, dan belum bisa pulang dalam waktu dekat.
"Paklik ... Assalamualaikum." Mayang berseru seperti meluapkan kerinduan pada sosok pria yang sudah seperti ayahnya sendiri. Ia mengulurkan kedua tangannya di depan perutnya yang bulat dan menggembung.
"Waalaikumsalam," jawab Sigit sembari bangkit. Tatapan Sigit yang berseri-seri jatuh pada gundukan di perut Mayang, sebelum menyambut tangan Mayang, dan mengusap rambut hitam Mayang saat menyalaminya seraya menunduk. "Berapa bulan, toh, Nduk? Kok gede sekali perutmu."
"Karena yang di dalam ada dua, jadi lebih gede dari usia seharusnya, Paklik ... masih sangat kecil sebenarnya." Mayang kemudian duduk setelah Sigit duduk dan menyesap lagi kopinya.
"Gedene kok ndak umum." Sigit meletakkan cangkirnya, dan menatap Mayang yang terlihat segar. "Ndak nyidam, toh?"
"Masak, sih, Paklik ... biasa aja menurutku." Mayang menunduk menatap perutnya sendiri. "Hanya muntah tapi ndak ingin apa-apa, semuanya masuk, Paklik ... Hanya harus telaten makan kalau abis muntah. Dipaksakan lah pokoknya meski itu agak susah."
"Sing sabar, hamil emang ndak mudah. Apa-apa bicarakan sama suamimu yang lebih paham. Kamu jangan semaumu sendiri, selagi ada yang bisa perhatiin kamu setiap waktu." Sigit menasehati.
"Inggih, Paklik ... Aku ngerti kok." Mayang tersenyum, seraya melihat ke arah kamar yang terbuka pintunya.
Sigit juga menoleh saat mendengar suara pintu di buka di belakangnya. "Loh, Gian ... kok kamu tidur di situ?"
Sigit menatap dua manusia di depannya bergantian. Ada sesuatu yang tidak beres terjadi. "Kamu berdua bertengkar, toh?"
Gian masih setengah mengantuk setelah semalam berbicara melalui telepon dengan Dokter Yoga. Bersyukur, sebab Dokter Yoga berpikiran sama seperti yang Gian pikirkan. Selama Mayang tidak mengalami gejala yang tidak wajar, semua masih dalam tahap aman. Kemungkinan bukan sesuatu yang serius.
__ADS_1
Gian menggaruk kepalanya seraya menguap, lantas menyapa Sigit seolah pria tua itu 'bro-nya'. Terlepas bagaimana kondisi pria itu, tetap saja, Gian tampan dan mempesona.
"Dah lama Paklik?" Gian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Sigit.
"Udah ... jadi—"
"Aku hanya ndak tahan sama bau badan Mas Gian, Paklik ... kami baik-baik saja, sebenarnya." Mayang buru-buru menyela tanpa mengurangi kesan hormat pada sang Paklik, ia malah terlihat malu akan hal itu. Tampak Mayang berusaha untuk memperbaiki semuanya, tetapi sepertinya gagal.
"Oh, bawaan bayi toh." Sigit manggut-manggut, lantas menatap Gian yang tidak bisa berbuat banyak. "Kamu yang sabar, itu ndak akan lama."
Wajah tertekan Gian menjelaskan kalau sebenarnya Gian tidak ingin seperti ini. Hanya dia tidak mau semua berantakan, sehingga ia mengalah.
Sementara Gian mengangguk, Mayang segera mengajukan pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya, ia hanya melambai pada Gian, mengisyaratkan agar Gian ikut bergabung bersamanya, dengan jarak yang ditetapkan.
Sigit mengatakan 'ah' seperti ada balon kecil meletus di dalam kepalanya, membuatnya segera ingat tujuannya kemari. "Jadi kemarin, Pak Ketua DPR kabupaten sebelah dateng ke rumah Paklik. Beliau melamar Rully untuk anak lelakinya," ucap Sigit berbinar-binar.
Mayang dan Gian saling pandang, "Ndak salah, Paklik? Ketua Dewan?"
Ada-ada saja Rully ini, pikir mereka.
"Tapi kenapa kalian terlihat terkejut? Paklik pikir kalian malah udah tahu, dan Paklik mau nanya-nanya sejauh mana hubungan mbak mu itu, May."
"Ya, memang Mbak Rully sekarang deket sama seseorang, tapi bukan anaknya Ketua DPR juga, Paklik," jawab Mayang bingung, ia lantas menatap Gian. Meminta saran, baik tidak nya mengatakan dimana Rully sekarang.
__ADS_1
"Waduh, Paklik kadung setuju sama hari dan tanggal pernikahan yang diajukan Pak Murdyo, loh ... gimana ini, May? Malah katanya kemarin Rully di rumah Pak Murdyo itu sama anaknya." Sigit juga tak kalah bingung. Ini orang terkenal di kota sebelah loh, tidak main-main jika ingin membuat mereka malu. Imbas ke keluarga ini pasti tidak bagus juga.
"Biar saya luruskan, Paklik." Gian akhirnya angkat bicara ketika Mayang dan Sigit kebingungan sendiri.
"Jadi Mbak Rully kemarin ke rumah kekasihnya, untuk kenalan sama calon mertuanya di kota sebelah—itu benar, tapi dia tidak mengatakan kalau punya hubungan dengan anak Pak Ketua Dewan dan akan menikah secepatnya. Lagipula, Paklik ... saya rasa, Mbak Rully baru saja kembali dekat setelah sempat renggang. Dan Rully sudah mengikuti kemana perginya pria itu sejak beberapa bulan terakhir, agak aneh jika tiba-tiba ada lamaran mendadak."
Sigit dan Mayang memahami, "Jadi siapa yang Rully pilih sebenarnya?" tanya kedua orang itu hampir berbarengan.
Gian hanya mengendikkan bahu.
Ditengah kebingungan itu, yang dibicarakan muncul dengan aura luar biasa bagus. Riak wajah nya begitu halus dan bersinar-sinar. Semua mata sedang menatapnya, berani sekali dia datang tanpa rasa bersalah, setelah membuat mereka kelimpungan sesaat.
"Kenapa melihat akunya seperti itu?" Rully bahkan mengabaikan kalau diantara mereka ada Paklik yang menjadi walinya. Baru kemudian ia mendekat dan mencium tangan Sigit.
"Kamu benernya serius sama siapa, sih, Mbak?" Mayang langsung mencecar. "Pak Djarot apa anaknya Pak Ketua DPR kota sebelah?"
Rully mendadak menyeringai jahil. Jika tidak ingat Mayang tengah hamil saja, Rully pasti senang membuat mereka kebingungan. "Dua-duanya." Bibir gadis itu tersenyum.
"Kamu jangan ngawur, Rull ... ini masalah hidup dan mati kita, Nak ... Kamu mau kalau kamu tidak memutuskan untuk menerima pinangan Pak Murdyo, kita berakhir jadi perkedel? Hancur kita, Nduk, hancur! Kaya blenderan ebi kering." Sigit mendadak bingung mau bagaimana menjelaskan betapa bahayanya situasi mereka.
"Ya, emang saya mau nikah sama anak Pak Murdyo yang bernama Kalingga Djarot Putranto. Apa salah kalau saya menikah dengan dua nama yang disebutkan diatas?"
Yasalam! Sigit seketika melemparkan sepatu bootnya ke arah Rully yang terbahak-bahak kabur dari ruang tamu. Sementara Mayang meringis, menahan sakit akibat gerakan spontannya melempar bantal sofa ke arah Rully.
__ADS_1
Wasem tenan arek ini!