
Mayang meradang sore itu. Kepalanya mau pecah memikirkan bagaimana mengatasi Lea. Ini sudah kali ke dua Lea melakukan ini padanya.
"Kurang ajar bener, Lea ini, ya!" Mayang menggebrak mejanya dengan kasar. Dia butuh ide yang benar-benar bisa membuat Lea tutup mulut selamanya.
Tapi apa?
Mayang memang menolak barang yang datang, tetapi jika ini terus yang dijadikan Lea sasaran, Mayang tetap harus melindungi dirinya. Dia butuh sesuatu yang mutakhir untuk membungkam Lea.
"Sampai kapan kamu mau melamun, Mai?" Gian muncul di pelupuk mata Mayang dengan wajah menyenangkan seperti biasa. Tangannya yang hangat mengusap rambut Mayang, lembut. "Ada masalah?"
Mayang menggeleng, "hanya lelah, Mas ...!" Mayang menegakkan tubuhnya. "Pulang, yuk!"
Mayang menarik tasnya, lalu meraih tangan Gian agar membersamainya. "Ngga ada operasi dadakan lagi, Mas?"
Selalu begitu Mayang pada Gian. Perhatiannya tak pernah dibuat-buat, membuat Gian makin sayang pada istrinya ini. "Ngarep Mas ada operasi, biar kamu bisa tidur tanpa gangguan, ya?"
Ketika mereka saling merapat saat berjalan, Gian mengecup rambut Mayang dengan sayang.
"Iya juga, sih ... biar aku ada waktu benerin mahkotaku. Biar nggak longgar kaya abis lahirin anak sepuluh." Mayang merengut, agar Gian merasa tidak enak hati padanya, lalu meliburkan Mayang barang semalam. Mau iya terus ya, capek ... mau nolak ya, sayang ... aduh, Gian bikin Mayang dilema. Anu banget soalnya.
Gian geli sendiri mendengar ucapan Mayang. Wajar Mayang minta libur, orang Gian selalu hidup jika dekat Mayang. Baru memikirkan Mayang saja, sianu sudah kalang kabut tak karuan, jika punya kaki saja, dia sudah lari duluan ke arah Mayang. Dasar, si unyu.
__ADS_1
"Iya, nanti libur, deh ... kamu kayaknya capek banget hari ini." Gian merapatkan tubuh Mayang ke dadanya.
"Ooh ... makasih dokter cintaku." Mayang mencium pipi Gian, tepat ketika sampai di mobil.
"Semalam cukup, kan?" Gian mencoba menawarkan, cinta selalu mengerti dan menahan. Gian harus bisa.
"Cukuplah, Mas ... lebih dari cukup malah." Mayang masuk ke mobil yang telah dibuka oleh Gian. Dalam hati Mayang berkalkulasi. Setidaknya sejak terakhir bercinta, sampai bercinta lagi nanti Mayang punya waktu empat puluh delapan jam. Sebab, terakhir mereka melakukannya jam dua belas tadi malam.
Yah, cukuplah, buat ngelurusin kaki.
"Oke ... ambil waktumu, gunakan untuk tidur dan relaksasi. Mungkin setelah itu kamu akan hamil, Mai ...." Gian mengecup kening Mayang, sebelum menutup pintu dan mengambil posisi duduk di kursi kemudi. Mereka sepakat untuk pulang dan pergi bersama, karena Gian sekarang hanya melakukan tugas dari pagi sampai sore, atau siang sampai jam sebelas malam. Selebihnya, Gian di rumah, menemani Mayang.
"Apa Mas nggak ngerasa bosen begituan mulu tiap hari?" Mayang memutuskan bertanya. Dulu, dia jarang-jarang, kini diserang habis-habisan. Agak goyah juga jalannya.
"Kan seumur hidup itu lama. Mas Gian ganteng, banyak yang suka, nanti kalau aku udah ada anak, udah kebanyakan dipake pas muda, Mas Gian nya berpaling lagi. Jadi kenapa tidak diirit, Mas? Biar tetep awet sampe tua." Mayang berceloteh seperti tidak fokus.
Gian tertawa kecil seraya mengusap rambutnya, " Mana ada begituan, pake ngirit segala, Mai ... justru masih muda dipuas-puasin, nimbun kenangan yang banyak, tua nanti kita tinggal mengenang, dan saling mengasihi, mengingat bagaimana kita berkeringat. Dan ...." Gian menoleh.
"Aku nggak akan berpaling, Mai ... aku udah mentok sama kamu. Mau aku sodok lebih jauh udah nggak bisa. Pokoknya, cintaku mentok sama Bu Mai yang jutek." Gian terkekeh lagi.
Mayang kepanasan lagi ditengah udara dingin yang keluar dari AC mobil. "Dasar tukang gombal."
__ADS_1
"Nggak usah boong, aku tau kamu suka gombalanku, kan?" Tangan Gian bergerak untuk mencubit pelan pipi Mayang, lalu meraih kepala istrinya itu menyadari di pundaknya.
"Selamanya itu akan terasa lama jika aku miliki kamu, tapi waktu kaya dibebani batu jika aku jauh sama kamu. Kerja aja sekarang cuma nengoki jam mulu. Kok lama banget sih, jam empat itu."
Mayang menaikkan pandangannya, "Aku kayaknya jatuh cinta sama kamu, Mas ... kamu romantis banget."
Kaki Gian pasti terkena serangan jantung dan juga kakinya menjadi batu. Tiba-tiba ia menginjak rem dengan sangat cepat hingga menimbulkan bunyi berdecit.
Gian segera menoleh, menatap Mayang tak percaya. "Kamu bilang apa barusan?"
"Mas ini apa-apaan, sih ... aku kejeduk ini." Mayang mengusap keningnya yang terantuk dashboard. Sakitnya bukan main. Gian ini kenapa sebenarnya? Bibirnya sudah tak karuan menggerutu mengomeli Gian.
"Bener kamu cinta sama aku, Mai?" Gian pasti sudah lupa kalau mereka di tengah jalan. Pria itu histeris mengguncang tubuh Mayang hingga wanita itu pusing. "Bener, Mai?"
Suara klakson mobil lain dan umpatan harusnya di dengar jelas oleh Gian. "Mas ... kamu ini berhenti di tengah jalan, loh ... kamu minggir dulu apa nggak bisa?"
"Jawab dulu, Mai!" Gian mengalihkan tangan Mayang yang hendak mendorongnya ke arah kemudi lagi.
Mayang membuang napas jengah. "Iya, Mas ... aku kayaknya udah beneran jatuh cinta sama kamu. Puas?!" Mayang akhirnya mengulangi kalimat yang sebenarnya ia sesali sekarang. Bisa saja mereka tertabrak mobil lain karena perkataan konyolnya itu. Sungguh dia menjadi agresif dan terbuka saat bersama Gian. Gian yang terlalu menghargai apa kata Mayang, meski konyol sekalipun, dan sikap Gian yang terbuka, yang Mayang suka. Nyaris tak ada yang tidak Gian katakan setelah mereka serumah.
"Mai, kamu minta dibelikan apa?" Gian mewujudkan rasa syukurnya dengan mendekap Mayang erat-erat. "Apa yang kamu mau akan Mas belikan, berapapun harganya."
__ADS_1
Mayang berdecak malas. "Cukup cintai aku saja, Mas ... tanpa terbagi dengan wanita lain."
Uh, sudah cantik, seksi, pinter cari duit, rendah hati pula, Gian meleleh gila karena Mayang. Ia segera melerai pelukannya, dan menangkup pipi Mayang, sebelum mencium Mayang sampai kehabisan napas.