Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Tak Ada Wanita Lain Lagi


__ADS_3

Djarot kembali menyesap rokok di jarinya kuat-kuat. Pria itu sedang membakar tubuhnya, memadamkan seluruh perasaan yang membara dan panas. Jika dulu dia kelabakan menyelesaikan pekerjaan, meski sedang senang atau sedih, setelah bertemu Rully, bahkan imajinasinya berubah liar. Dia yang selama ini lurus, akhirnya bengkok karena bayangan Rully yang terus menari dibenaknya. Sekarang semakin menjadi gila, setelah pecahnya percintaan diantara mereka.


Sisa rokok itu segera menjadi penghuni dasar asbak, kembali bengkok karena tekanan Djarot yang cukup sadis. Pria kaku itu berdiri tanpa permisi melewati temannya. Ini sudah malam, mereka harus istirahat, kan?


Ketika sekarang, perhatian sedang tertuju pada mereka, Djarot hanya bisa tersenyum saat berhadapan dengan Rully yang masih ngos-ngosan. Djarot mengusap punggung Rully dengan lembut.


"Maaf, Mas ...." Rully menatap Djarot degan wajah memerah karena malu. Ini kacau, dia telah lepas kendali.


"Kamu yang terbaik. Jangan minta maaf karena itu—yang kamu lakukan itu sudah benar. Setiap orang punya batas, aku tahu kamu sudah berusaha tidak melawan." Djarot mencium pipi Rully dengan lembut, alih-alih meluapkan hasrat membara di dadanya dengan sebuah ciuman yang brutal.


Rully langsung menunduk setelah itu. "Dilihat banyak orang, Mas ...," katanya pelan.


Djarot tertawa, "Kamu lupa, tadi kita sudah melakukan first kiss di depan banyak orang?"


Rully menengadah seraya nyengir. "Itu tadi kan permintaan formal, dan ini kita terlihat sedang memberi sinyal agar mereka bubar. Hehehe." Mata Rully melirik sekeliling, dan benar, satu per satu mereka mulai saling mengucapkan selamat tinggal keras-keras.


Djarot mengerling sekitar karena ucapan Rully, "oke, kalau begitu, biar saja. Toh ini sudah malam. Kamu juga harus tidur setelah tadi tidak sempat istirahat, kan?"


Djarot menunduk. Matanya fokus pada lautan bening yang sedang menggodanya. Kepuasan Djarot akan Rully terpancar di wajahnya yang berseri.


"Cuma tidur aja? Nggak malam pertama duluan?" Rully mengigit sudut bibirnya, senyumnya menggoda.


"Kalau kamu bisa menggodanya, aku milikmu malam ini, Sayang." Djarot mencubit lembut dagu Rully dan menggoyangnya pelan.


"Tantangan di terima," ucap Rully dengan seringai lebar. "Tapi, Mas ...." Rully menelusupkan tangannya di pinggang Djarot, "makasih untuk semua hadiah di kamar tadi, ya ... yang dari kamu dulu aja belum aku pakai. Ini sudah di tambahin."


"Yang dulu masih kamu simpan?" tanya Djarot penasaran. Dulu, memang tidak ada berlian atau bahkan emas, hanya tas, jam tangan, atau baju, tapi tetap saja harganya mahal-mahal. "Nggak kamu buang?"


Rully mencebik, "itu bisa dijual kalau aku nggak suka! Enak aja dibuang! Aku masih ingat uang jika harus buang-buang barang."


"Dasar kamu, ya ...!" Djarot hanya menggeleng. Ada ya, wanita kaya masih doyan uang sampai sebegitunya.

__ADS_1


"Dulu aku hanya nggak suka cara kamu deketin aku," sahut Rully seolah ingin meluruskan yang terjadi, sejauh ini, mereka hanya bicara soal pernikahan dan bercinta. "Kaya pria lembek dan kekanak-kanakan. Kamu terlihat cupu, Mas. Gak macho!"


"Karena kupikir kamu nggak suka pria kasar dan kaku kaya aku. Aku takut kamu lari pas didekati, aku kan buruk rupa." Djarot menunjuk wajahnya. Ya, memang dulu dia tidak terlihat tampan karena wajahnya selalu serius sepanjang waktu, dia tidak punya kulit putih yang seperti kebanyakan pria yang disukai wanita seperti Rully.


Rully mengangguk, membenarkan kalau Djarot memang kurang good looking karena satu dua hal, terutama botaknya. Rully tidak mempermasalahkan soal tampan atau apa, dia hanya malu kalau jalan dengan pria berkepala licin dan memantulkan cahaya lampu.


"Kamu tuh bukan buruk rupa, menurutku kamu tetap cakep, Mas ... hanya bocin itu yang bikin aku agak gimana gitu. Beda kalau ada rambut, walau warnanya silver begini, tapi kan ada yang dijambak-jambak kalau lagi enak!"


Djarot membeliak, dia tidak habis pikir. Darimana wanita itu tahu soal itu? Jelas dia masih perawan ... apa mungkin?


Djarot mengemas pertanyaan itu untuk nanti. Dia memilih menggelengkan kepalanya saja untuk sekarang sebagai tanggapan.


"Kita pulang sekarang." Djarot membawa Rully pada orang tuanya, lalu berpamitan secara singkat. Toh mereka masih agak canggung untuk ngobrol terlalu lama.


"Minggu depan, Bapak mau syukuran pernikahan kalian di rumah Bapak, Nak ... tolong sempatkan waktu kalian, ya." Murdyo masih menggenggam tangan menantunya. Tatapannya penuh permohonan sebagai tutup rasa malu yang menyelimuti wajah.


"Saya akan datang Jum'at malam, Pak ...." Rully menjamin dengan kepastian yang tak tergoyahkan. Dia tidak akan membalas mertuanya dengan cara yang sama. Cukup menjadi tak tersentuh saja, rasanya dia sangat puas. Lihatlah ibu mertuanya yang terlihat canggung.


"Saya serius, Pak ... dimanapun, asal bareng sama anak Bapak, rasanya bahagia. Jadi, rumah megah Bapak lebih dari hotel selama dia ...." Rully menyenggol lengan suaminya. "... bersama saya."


Djarot merasa tersentuh akan ucapan Rully. Dia tersenyum penuh arti seraya membuang muka.


Murdyo seumur hidup baru melihat sekali ini ekspresi Djarot yang seperti itu. Rasanya, dia sedang diliputi berkah bisa diberi kesempatan menyaksikan anaknya merasakan cinta.


"Bapak akan menyiapkan yang terbaik untukmu, Nak ... selama di sini, titip anak Bapak, ya. Jaga dan sayangi dia, jangan sungkan cubit dia kalau dia nakal." Murdyo merasakan hatinya penuh. Melepaskan anak lelakinya dengan perasaan lega dan bangga. Dia menepuk pundak Rully pelan, menepis rasa ingin memeluk menantunya sebagai bentuk rasa terimakasih yang tak terhingga.


"Saya tersanjung, Pak ... terimakasih," ucap Rully sopan. Dia masih tersenyum. Menolak pun percuma. Mungkin dengan begini, semua orang tahu, termasuk Rustina, kalau dia telah memenangkan drama mertua menantu ini.


"Saya pulang duluan, Buk." Rully menyalami Rustina santun, dia membungkuk untuk mencium punggung tangan surga sang suami. "Jangan tidur terlalu larut, ya, Buk ... di sini udaranya dingin banget kalau tengah malam."


Rustina merasakan tangannya gemetar. Ada getar-getar aneh di dadanya. Hatinya mendadak haru. Beginikah rasanya punya menantu perempuan? Wanita yang akan dia perlakukan sebagaimana anak perempuannya yang lain. Dia bungkam, tetapi tidak bisa menyembunyikan sudut matanya yang basah. Jadi dia mengangguk sebagai ganti.

__ADS_1


Djarot menuntun Rully ke mobil dengan Roni sebagai pengemudi. Pria itu langsung menodong bosnya dengan satu pak telur bebek dan bungkusan bersampul kertas payung.


"Maaf, Bos ... saya ndak punya apa-apa untuk acara penting anda." Roni nyengir di ujung kalimatnya.


Rully menerimanya dengan rasa penasaran. Dia cepat-cepat berkata. "Kami mau tidur, Ron, bukan mau masak telur asin."


Djarot menyadari apa itu dan segera menyambarnya. "Ini buat lauk besok pagi, Sayang ... emak Roni pertenak bebek."


Mata Djarot menghujam Roni dengan kejam. Sejuta ancaman dan sumpah serapah bahkan mampu Roni rasakan dari tatapan itu, tapi dia tidak peduli. Dia terkekeh, lalu menyalakan mobil, membiarkan dua orang itu membisu saking tak bisanya menjelaskan apa yang sebenarnya tujuan kado telur bebek itu.


Hotel hanya berjarak sepuluh menit dari gedung tempat resepsi, sehingga tak sampai keheningan menjeda terlalu lama, mereka telah mendarat di depan hotel yang sudah sepi, hanya sisa beberapa orang yang bertugas mengatur kedatangan tamu Djarot.


Ketika sampai di kamar, Djarot segera menarik Rully dalam rengkuhannya. Mendekap sebelah hatinya yang kini bergelung di dada.


"Aku senang akhirnya kita bisa menikah, Mas."


Djarot tersenyum kecut. "Harusnya aku yang bilang begitu, kan yang diuji kamu, aku tidak seberapa."


"Semua wanita pasti diuji sebelum nikah. Mungkin ujianku tidak seberapa dibanding yang lain. Putri misalnya." Rully bergerak kecil, seperti tidak nyaman saat bicara seperti itu. Sebenarnya, semua yang terjadi membuatnya lelah dan tertekan. Hanya di mengemasnya dengan baik, mengatur dirinya agar tidak tampak kalah.


Djarot menempatkan Rully di belahan dadanya yang keras. Dagunya menyandar lembut di atas kepala Rully. Tatapannya kosong, tetapi isi kepalanya berpikir keras.


"Maafkan Ibuk dan Putri, ya ... kamu boleh tidak menyukainya."


Rully memejamkan mata dan tersenyum lemah. "Aku tidak bisa membenci wanita yang melahirkanmu, Mas. Dia surgamu, dan aku wajib menghormatinya sebagaimana kamu menghormati dia. Aku memang tidak terima perlakuannya, tapi membenci juga bukan pilihan yang bijak. Kurasa Ibuk sudah tau kalau salah saat mengecap aku seperti apa yang dipikirkannya. Itu saja sudah cukup. Dengan aku bersikap baik dan Bapak mau menerima, siapapun pasti bisa menilai, aku tidak layak diperlakukan buruk."


"Kamu benar ...!" Djarot mengecup kepala Rully berulang-ulang. "Makasih sudah mengerti aku dan menerima semua kekuranganku. Kamu memang terbaik, Sayang."


Rully membelit tubuh Djarot ketat, "kuharap tidak ada lagi yang membuatku kesal, Mas. Aku lelah menghadapi wanita yang menyukaimu."


"Tidak akan ada lagi setelah ini, Sayang." Djarot tersenyum, lalu meraih Rully agar sejajar dengannya. Setelahnya hanya ada ciuman panas yang menyatukan dua manusia dimabuk cinta itu.

__ADS_1


__ADS_2