
Sehubungan dengan pernikahan dadakan itu, Sigit memutuskan untuk tinggal di rumah Mayang. Malam ini juga, Djarot akan menemui Sigit untuk berkenalan. Acara dadakan itu membuat semua orang sibuk, tetapi tidak dengan Mayang. Dia asyik rebahan, karena muntah membutuhkan tenaga ekstra dan dia selalu kelelahan karenanya. Meski merasa tersiksa, Mayang santai saja menghadapi morning sickness yang entah kapan akan berakhir.
Acara perkenalan itu tidaklah begitu resmi, sehingga selain keluarga, hanya ada beberapa orang yang merupakan perangkat kelurahan dimana Rully akan menikah, tetua dan juga saudara yang masih dianggap dekat. Selebihnya tetangga sekitar rumah Mayang juga turut di undang.
Hanya sekitar dua jam saja pertemuan itu berlangsung, dan Djarot tampak buru-buru karena dia ada pekerjaan yang harus segera selesai. Dia bahkan hanya mengobrol singkat dengan Gian, itupun soal proyek yang mereka jalankan.
Sigit duduk seraya merebahkan punggungnya di sofa, matanya menatap Rully yang hari ini rajin sekali mengurus acaranya sendiri.
Mayang duduk dengan kaki menjulur memenuhi sofa. Ketika ia ingin menurunkan kakinya, Sigit melarang, seolah ia memaklumi beban Mayang yang berat.
"Dua ponakanku nikahnya kaya kena grebegan, yang satu kaya mau ngerampok, yang satu lagi kaya orang ndak punya nyali untuk melamar. Malah minta bapaknya, dan bikin orang bingung."
Mayang tersenyum menanggapi ucapan Pakliknya.
"Pas Gian datang, aku hampir kena serangan jantung. Malam-malam, mana kamu itu masih keweh-keweh(baru saja cerai) kok ya, udah ada yang ndeleki(mengincar). Paklik jadi mikir, jangan-jangan Gian itu sudah naksir kamu tapi keduluan Ferdi."
Sigit seolah sedang mengingat kembali apa yang terlewat sebelum Mayang menerima Ferdi. "Tapi kayaknya, kamu itu dulu pendiam dan pemalu juga hanya ngintil di belakang Rully terus, ndak mungkin juga kamu sampai punya kenalan lelaki. Jadi pikiran Paklik satu-satunya, kamu dan Gian selingkuh—"
"Pantas Paklik galak sama aku hari itu!" potong Gian yang muncul di belakang mereka, entah dari mana pria itu tadi.
Sigit tertawa malu. "Siapa juga yang ndak mikir begitu, kan? Mayang baru habis idah dalam hitungan hari, dan tiba-tiba kamu datang, ndak ada itu ... basa basi atau apalah, langsung bilang mau nikahi Mayang besok hari. Ya untung Paklik sehat, jadi ndak kena serangan jantung. Coba kalau Paklik penyakitan, bukannya nikah malah ngelayat orang mati."
"Paklik ini bicara apa," sungut Mayang tidak suka saat Sigit membicarakan kematian.
"Loh, ini serius, May ... kamu ndak lihat gimana ngototnya Gian pas dateng. Dia kaya orang kesambet setan." Wajah Sigit mengendik pada Gian.
Gian tertawa saja. Ingat saat itu sungguh membuatnya malu. Tapi tidak masalah juga, namanya perjuangan dan takut keduluan mantan ngajak balikan. Ya panik lah, masa enggak?
"Yang pasti, Paklik senang terlepas bagaimana perjuangan kalian ketemu jodoh. Ndak apa-apa kan kalau awalnya ndak mulus, namanya juga hidup, tapi akhirnya kalian bahagia. Paklik harap Rully juga, sebab si Djarot tampaknya bukan orang yang punya banyak waktu main wanita."
Sigit menatap Rully yang telah selesai membantu berkemas dan berjalan ke arah mereka.
"Ngomongin aku, ya?" Rully melemparkan badannya ke sofa seberang Mayang, bersebelahan dengan Gian. Mata wanita itu menyipit ke arah ketiga orang di depannya bergantian.
"Ih, ge er!" Mayang mencibir seraya memalingkan wajahnya ke arah jam berbentuk rumah burung di dinding.
__ADS_1
"Paklik segera istirahat, jangan ngopi lagi. Ini sudah malam, katanya besok harus bangun pagi biar bisa joging di pantai." Mayang berkata pada Sigit yang sedang mengawasi isi cangkirnya, lantas pria itu menyeringai sebab ketahuan kalau akan meminta kopi lagi.
"Nanti tak adukan Bulik, loh." Rully mengimbuhi. Dia juga lelah, lagian dia ingin video call dengan Djarot sesuai janji mereka tadi. Ada beberapa hal yang ingin mereka padukan untuk acara nanti. Sebab sampai sekarang, mereka belum menentukan tempat yang pas. Tentu karena Ibu Rustina Murdyo yang ngotot ingin pernikahan diadakan di kediaman Murdyo.
Rully berpikir, kalau menikah itu ditempat pihak wanita biar sesuai adat yang berlaku, tetapi Rustina mengatakan kalau memboyong keluarga besarnya ke sini, akan membuat biaya yang dikeluarkan membengkak. Lagian, Rustina berpikir, kerabat Rully jauh lebih sedikit dan tidak masalah jika Rully yang harus mengalah.
Sementara, Djarot sepakat dengan pendapat Rully, dan itu membuat Rustina makin kesal, sebab merasa Djarot tidak lagi memihaknya. Duh, Bu Rus.
Akhirnya, semua meninggalkan ruang tengah dan menuju kamar masing-masing, setelah mengucapkan selamat malam.
Yang kemudian menjadi agak canggung adalah ketika Gian harus meninggalkan Mayang usai mengantarkannya sampai ke ranjang.
Gian menghela napas. Ia terus memenuhi batinnya dengan kata-kata penghiburan. Toh mereka belum diizinkan karena kehamilan Mayang.
"Ini hape nya, kalau ada apa-apa kamu langsung telpon aku, ya, Mai." Ia mengulurkan ponsel ke meja sisi ranjang. Senyumnya masih menghiasi.
"Mas ndak tidur di sini aja?" Mayang menatap Gian penuh harap. Sebenarnya, Mayang tidak pernah meminta Gian tidur di kamar lain, hanya minta berjauhan, tetapi Gian semalam memilih tidur di kamar lain.
"Aku minta Mbak Mar buat siapkan kasur lain, ya," pinta Mayang seraya berdiri kembali. "Mas kesel ya, karena keadaan ini sampai Mas semalam milih tidur di kamar lain?"
Gian menggeleng cepat. "Tidak, bukan seperti itu. Semalam, aku masih harus membicarakan pekerjaan dengan orangnya Pak Harris dan aku tau kamu capek, makanya aku pilih tidur di tempat lain biar kamu bisa istirahat tanpa gangguan suaraku."
"Yang hamil kembar 3 kemarin aku, ya, Mas?"
Sedetik lamanya Gian menahan napas dan membeliak. Mayang mengupingkah kemarin?
"Apa kembar 3 itu bahaya? Terutama keadaanku saat ini membahayakan mereka?"
Gian mengangguk. "Bukan gitu," katanya seraya membawa tangan Mayang ikut bersamanya.
Mayang mengerutkan alis. Tindakan dan ucapan Gian bertentangan.
"Aku hanya rindu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena dedek bayi kita masih rawan. Jadi cairan dariku bisa memicu rahim kamu berkontraksi sebelum waktunya, dan jika itu terjadi itu sangat berbahaya. Bisa jadi kita akan kehilangan mereka."
Gian sengaja mengatakan itu bahkan sebelum pantatnya menyentuh tepian kasur. Ia tidak sanggup mengatakan praduganya.
__ADS_1
"Ini sudah empat bulan, jadi kenapa itu masih rawan?" Mayang masih ingat untuk menjaga jarak, lalu menatap suaminya lekat-lekat.
Gian membuang napas sampai bahunya turun. "Aku hanya nggak mau ambil resiko yang berakhir dengan kamu nyalahin aku karena kenalan sama baby kita."
Gian menghadap Mayang. "Aku ingin, aku mau, aku yakin akan aman, tetapi ada keadaan yang perlu di pertimbangkan sebelum aku hanya menuruti mauku. Aku akan tahan, setidaknya sampai bulan depan."
Yah, begitulah, setidaknya memasuki bulan ke lima, mereka akan memeriksakan kehamilan Mayang ke Dokter Yoga.
"Maaf, ya, Mas." Mayang merasa perlu melakukan ini. Mengatakan hal kecil yang mungkin bisa membuat Gian mengerti kalau sebenarnya ini bukan maunya.
"Jangan minta maaf, tapi usahakan ... setidaknya aku ingin cium kamu."
Mayang mendadak cerah. "Aku akan usahakan menyenangkanmu dengan cara lain, Mas."
Gian membeliak, Mayang menunduk dengan bibir tergigit. "Apaan itu? Bau badanku aja kamu nggak suka, masa mau ...?"
"Aku bisa tutup hidung ... hehehe."
"Nggak ah, mending aku maksa kamu aja dari belakang. Kalau dengan cara itu, takutnya ...." Gian menjeda. "Belum sampai, kamunya udah muntah-muntah, nanggung, Mai."
Gian cemberut. Mayang terbahak-bahak.
"Sabar ya, Mas ... dua-duanya bermasalah ya. Satu boleh tapi ndak diizinkan, satunya lagi dikhawatirkan bikin nanggung."
Gian tersenyum kecut. Ya, siapa yang nggak mau sebenarnya, tapi kalau ujung-ujungnya berakhir sendiri, ya buat apa?
"Kapan-kapan boleh cobalah, Mas ... biar nanggung juga lumayan lah. Aku akan belajar, hehehe."
Mayang hanya sok berani dan sok agresif, padahal dia merona dan panas sampai ke telinga.
Itu terlalu liar bagi Mayang yang kurang pengalaman.
*
*
__ADS_1
*
Em👉👈 aku kaboor