
Mayang malam ini memutuskan untuk membeli sayuran ke kota sebelah yang merupakan sentra perdagangan sayur mayur dan biasa didistribusikan ke pasar di kota Mayang. Bagaimanapun usahanya tetap harus jalan, sementara untuk pelakunya, Mayang masih enggan mencari tahu. Itu bisa diurus nanti-nanti, asal rumah makannya tak sampai tutup.
Bermodal mobil pick-up gadaian ini, Mayang sudah rapi dengan jaket dan celana panjang membalut tubuhnya. Terkesan trendy dan muda. Sedikit demi sedikit Mayang sudah pandai memadu padankan penampilannya. Setelah memghubungi Yudi agar bersiap, Mayang keluar dari rumah.
"Nduk, mau kemana?"
Mayang terperanjat saat hendak masuk ke mobil pick-up putih yang terparkir di halaman rumah. Hadyan bagai satpam komplek yang setiap hari berkeliling dan memastikan komplek perumahan ini aman, tapi mungkin hanya rumah Mayang saja. Jika lampu masih menyala, Hadyan masih setia mengawasi rumah calon menantunya itu.
Mayang memutar tubuhnya, meski agak kurang nyaman karena merasa terus diawasi, Mayang tetap tersenyum manis. Namun senyumnya pudar kala tak jauh dari posisi Hadyan berdiri ada Gian yang memakai hodie putih dan celana training memegang kantung plastik berat.
Mayang menimbang, namun akhirnya ia memiluh jujur. Toh, tidak ada salahnya kalau dia berkata yang sebenarnya, lagian Mayang tak punya alasan lain yang masuk akal. Keluar malam bagi wanita-wanita muda di kota ini biasanya ke bar yang berada tak jauh dari Selera. Jelas wanita tersebut dicap bukan wanita baik.
"Saya mau ke kota sebelah, Pak ... mau belanja sayur dan perbumbuan." Mayang mengurungkan niatnya masuk ke mobil dan memilih menghadap Hadyan.
"Sendirian?" tanya Hadyan dengan mimik penuh kekhawatiran. Jalan ke kota yang dimaksud Mayang jelas melewati berkilo-kilo meter jalan sepi berliku, dan rawan longsor. Hadyan tentu tak akan membiarkan Mayang jalan sendiri.
"Sama Pak Yudi, Pak ... saya juga ndak berani kalau ke sana sendirian." Mayang terkekeh garing. Dikhawatirkan oleh orang lain, membuat Mayang agak risih.
Gian dari posisi itu mendekat, menguping, menyimak tanpa menginterupsi. Kendati tengil, Gian tetaplah pria sopan.
"Siapa itu Yudi? Pacar kamu?" Hadyan menyelidik. Gian tak boleh sampai keduluan orang lain. Hanya Gian saja yang boleh memiliki Mayang. Duh, Rianti ... tolong bantu anak-anak kita berjodoh, pinta Hadyan dalam hati.
Mayang kali ini tak bisa untuk tidak jengah, "Bukan, Pak ... Pak Yudi supir Mbak Rully yang saya pinjam sebentar."
"Halah ...." Hadyan menukas seraya mengibaskan tangannya, decakan jelas mengikuti gerak pria itu. "Tetap saja dia bukan siapa-siapa kamu, Nduk ... saran Bapak hati-hati, kalau bisa ajak orang terdekat dengan kita yang bisa dipercaya, yang bisa jagain kamu, bawa kamu pulang dengan selamat."
"Iya ...." Mayang menggaruk tengkuknya, "saya ndak punya orang terdekat selain Mbak Rully, Pak ... hehehe, Pak Yud juga orang yang dekat sama saya, Pak."
Sesaat kemudian, Hadyan seolah memutuskan untuk melepaskan semua kekhawatirannya, ia membiarkan Mayang segera berangkat. "Yo wes ... cepet berangkat dan hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa bilang sama Bapak. Oh ya, nanti kalau sampai di pasar sana, cari pedagang yang namanya Pak Gito, dia langganan Bapak. Bilang saja kamu anak saya, pasti dikasih harga lebih murah."
Mayang manggut-manggut saja. Pasar kan luas, memangnya Mayang mau absen satu-satu yang namanya Pak Gito yang mana?
__ADS_1
"Baik, Pak ... makasih sarannya. Saya pamit berangkat dulu, Pak."
Hadyan langsung mengulurkan tangannya minta disalami. Mayang lagi-lagi tercengang. Apa-apaan sih? Namun, Mayang tetap menyalami Hadyan dengan takzim. Lantas matanya mulai bergerilya ke posisi Gian berada.
"Lah, kemana perginya si dokter tengil itu?" batin Mayang.
Mayang tersenyum sekilas, lalu bergegas menuju mobilnya. Ia takut Yudi kelamaan menunggunya.
"Astagfirullah!" Jantung Mayang serasa copot dari tempatnya, saat melihat Gian sudah duduk di kursi kemudi dengan posisi siap menyalakan mesin mobil. "Bapak ngapain disini?" Mayang tak tahan untuk tidak mengeraskan suaranya. Juga tak mampu menahan matanya untuk tidak melotot saking kesal dan terkejut.
"Saya akan anter Ibuk." Gian menjawab ringan, "saya nggak mau Ibuk jalan sama pria lain selain saya."
Gusti, makhluk apa di depan hamba ini?
Mayang tergelagap. Bingung mau bagaimana terhadap Gian. Posesif dan entah apa itu lagi namanya?
"Saya harus jaga calon istri saya ... apalagi jalannya malam-malam begini," oceh Gian tanpa dosa.
"Saya ini bukan orang yang mudah buat dirayu-rayu, dan Pak Yudi itu sudah seperti keluarga saya sendiri, jadi—"
"Kalau saya bilang nggak boleh, ya, nggak boleh, Bu Mai ... sudah yok! Jalan sama Mas Gian saja. Dijamin setirannya kalem tapi tetap cepet." Gian mengedipkan sebelah matanya. Senyumnya sangat manis.
Apa itu tadi? Yang tersenyum tadi malaikat dari mana? Lalu ... Mas? Astaga ... Mayang ingin tersenyum saking menggemaskannya pria ini.
Mayang membuang muka. Dasar pria penggoda! Mayang mana bisa berkata-kata lagi, lagi pula waktunya sudah terbuang sangat banyak hanya karena Gian.
"Inget, ya, Pak Gian, saya ndak minta buat dianter sama Bapak—"
"Mas dong, Sayang ...," pinta Gian seraya menyandarkan puncak kepalanya di sandaran jok mobil. Lagaknya sangat manja.
"Ndak ... selama belum ada ikatan apa-apa, saya tetap manggil Pak!" kata Mayang tegas. Dia berlalu memutari mobil dan duduk di sebelah Gian.
__ADS_1
Gian menyeringai ke arah Mayang, memerhatikan Mayang yang memakai sabuk pengaman. "Jadi kapan kamu mau aku ikat, Mai?" Gian mulai tak formal memanggil Mayang. Merasa langkahnya mendekati Mayang makin terang benderang. Hanya soal waktu. Tetapi Gian tetap tak sabar menunggu hari itu.
Mayang berpikir sembari terus mencoba mengaitkan sabuk pengamannya. Apa kira-kira yang bisa membuat Gian ini diam, atau setidaknya tidak mencecarnya soal menikah atau apa.
"Pak Gian kan masih suka makan torpedo, nah, sembuhin dulu sakitnya yang itu, baru saya mau pertimbangkan Pak Gian. Saya ndak mau loh, punya suami yang loyo." Mayang menaikkan alisnya sekali. Bibirnya mengeriutkan senyum menggoda.
Gian mendadak pias dan panas. Itu—kejadian di restoran Arumndalu, kenapa Mayang masih ingat? Padahal itu tidak ada hubungannya sama keperkasaannya yang begitu gentle. Ah, Mayang ... rasanya ingin sekali Gian men-treat Mayang dengan sianu agar dia tahu rasanya megap-megap dalam sekali serang.
"Kalau kamu mau, boleh kok di test dulu, kalau nggak bikin kamu melek merem dan mesam-mesem seharian, bolehlah kamu mundur dan nolak aku." Gian berkata serius. Ini soal kejantanannya yang dipertanyakan. Gian yakin, dibanding Ferdi, dia jauh lebih unggul segalanya.
Kini giliran Mayang yang diam seribu bahasa. Adegan itu melintas begitu saja. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Apa itu megap-megap? Paling dia hanya berkedip doang, lalu bersih-bersih seperti biasa. Tidak ada yang istimewa baginya.
"Jangan penasaran, Buk ... nanti bisulan dan jerawatan kalau dipikirkan terus." Gian menatap lurus jalanan. "Kapan aja Bu Mai mau, saya siap men-treat Bu Mai ... dan nikmati sensasi tak terlupakan."
Gerakan Gian yang itu membuat fantasi Mayang langsung buyar berganti kesal. Narsis bin kepedean sekali pria ini ya?
"Fokus nyetir saja, Pak ... saya ndak begitu kepikiran, paling bentuknya imut, kecil, dan unyu-unyu," balas Mayang sinis.
*
*
*
*
*
Nama bakul sayur terinspirasi dari bakul sayur yang ada di sekitar saya😄
Oh, ya ... kepoin karya othor temen saya juga, yuk ... yang demen novel religi. Yang pastinya nggak akan bikin kalian kecewa, ya, gengs. Cus meluncur ke lapak Ayuwidia😍.
__ADS_1