Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Penegak Adat


__ADS_3

Pada akhirnya, Rus hanya bisa menatap keakraban Rully dengan keluarga besarnya dari meja makan. Wanita itu sama sekali tidak canggung atau merasa perlu membujuknya. Malah terkesan membiarkan Rus terus merasa disingkirkan.


Atau dia saja yang merasa tersingkir. Karena sebenarnya, Rully tidak berniat begitu. Ia duduk di antara saudara perempuan Djarot yang antusias mendengarkan ceritanya. Sebab, begitu Murdyo menyetujui Rully, saudara Djarot seperti mendapat izin dan perlindungan untuk mendekati Rully secara personal. Selain bapak Murdyo, tidak ada yang bisa menaklukkan ibu mereka.


"Kita perlu suasana baru, Bu ...," celetuk Murdyo dari arah belakang. Kemudian ia berdiri sejajar dengan Rustina.


"Dia akan membawa kita pada karakter baru yang unik. Ceria seperti kita ada di musim penuh bunga. Lihatlah saat berdiri berdampingan dengan anakmu yang kaku, dia seperti mengeluarkan cahaya sendiri. Terlihat mandiri dan kuat. Bapak suka wanita yang seperti itu."


Murdyo melirik istrinya yang terdiam, tetapi terlihat sedang mengamati Rully.


"Belum terlambat untuk membuka diri dan menerima."


"Kita lihat saja nanti, Pak ... kualifikasi Ibu minimal Melly lah, yang setidaknya Ibuk sudah mengenal dia sampai ke keluarga besarnya."


Rustina, sebenarnya sedang menyangkal, kalau kata-kata suaminya itu benar. Kadang Rus merasa heran, bagaimana bisa Rully terlihat sangat serasi bersanding dengan anak lelakinya, dibandingkan seluruh pilihannya bahkan jika mereka dijadikan satu. Apa ini karena kata-kata suaminya, benar-benar ia pikirkan? Merasuk sampai ke alam bawah sadar dan membuatnya terus memperhatikan.


"Jangan terlalu keras pada pilihan diri sendiri, Buk ... nanti sakitnya lebih dalem. Bisa kok Ibuk mengenal Rully melebihi Ibuk mengenal Melly. Tinggal deketin saja, tanyakan yang perlu Ibuk ketahui. Masa sama wanita yang jelas ditolak Lingga, Ibuk mau repot-repot cari tau, tapi calon mantu malah diabaikan? Kan aneh?"


Rus menatap suaminya lekat-lekat, ia kesal dikatakan seperti membuang-buang waktu untuk hal tidak berguna. Bibirnya siap melontarkan sanggahan, tetapi seketika itu juga, ia mendapatkan ide.

__ADS_1


"Yang aneh itu Bapak, ndak ada angin, ndak ada hujan tiba-tiba main setuju saja sama pilihan Lingga." Rustina melengos seraya meninggalkan meja makan yang sudah bersih.


Murdyo menggeleng. Membiarkan saja semua tindakan istrinya. Lama-lama dia akan menerima, hanya mungkin Rully harus lebih kuat berusaha. Atau mungkin tidak juga. Rustina bukan penghalang besar untuk anak sulung mereka. Toh lelaki tidak perlu wali untuk naik ke pelaminan. Apalagi Djarot juga sudah begitu mapan tanpa dukungan mereka. Jika di negara barat, Djarot dan Rully bisa menikah bahkan tanpa memberitahu mereka.


Malam semakin larut, kediaman Murdyo mulai sepi, hanya sisa dua pembantu yang masih duduk di belakang rumah sedang memainkan ponsel. Rustina tak kunjung tenang, sehingga ia memutuskan untuk menemui anaknya. Matanya lekat mengawasi jalan ke arah kamar Djarot dengan pikiran krmana-mana.


"Ndak boleh mereka tidur sekamar. Bisa kena musibah sampai tujuh turunan kalau itu terjadi."


Rustina langsung ke belakang dan meminta pembantunya menyiapkan kamar tamu. Kemudian ia melangkah ke ruang tengah dimana biasanya Murdyo menghabiskan waktu untuk bekerja.


Namun kali ini, tidak ada tanda-tanda suaminya di sana, membuat mata Rustina mencari-cari keberadaan Murdyo. "Pasti dia ke pos ronda, main catur sama tetangga."


Samar-samar ia mendengar suara orang tertawa, lalu aroma asap tercium setelahnya. Rustina mendadak tahu bapak sama anak itu sedang dimana. Ia lupa kalau saat anak lelaki satu-satunya itu pulang, pasti mereka akan seperti kawan lama yang saling ngobrol panjang lebar.


Langkah Rustina tertuntun ke lokasi mereka di samping rumah. Bermain catur, ngopi, dan merokok. Satu lingkar hubungan erat yang luar biasa sempurna.


"Kok kamu di sini, Ngga? Apa kamu ndak takut Ibuk bakal ngapa-ngapain calonmu kalau kamu tinggal sendirian?"


Baik Murdyo maupun Djarot menoleh bersamaan lalu alis mereka naik tanpa aba-aba.

__ADS_1


"Jadi Ibuk maunya aku sekamar sama Rully dan membuatkan Ibuk cucu, begitu?" Djarot sengaja balik menggoda ibunya. Ini akan jadi sesuatu yang seru.


Dia tahu, Rully pasti tidak akan membiarkan yang meremehkannya menang. Sekalipun itu calon mertuanya. Sementara Rustina, akan punya banyak cara untuk membuat semuanya rumit.


Ia berani bertaruh.


"Enak saja! Suruh dia tidur di kamar tamu bawah. Kalian tidak boleh sekamar sebelum halal! Kecuali kalau kamu mau Ibuk Bapak kamu menderita seumur hidupnya!"


"Oh, jadi udah boleh, nih ... udah setuju sama Rully? Udah lampu hijau nih?" Djarot menggoda, sementara Murdyo hanya tertawa kecil melihat perdebatan ibu dan anak itu. Selalu seru kalau dua manusia pandai membolak-balik perkataan sedang berselisih.


"Enak saja!" Teriak Rustina dengan mata melebar. "Ndak ada setuju-setujuan, ndak ada lampu hijau atau apapun. Tidak artinya tidak! Cepat suruh calon mu itu pindah!"


"Ndak mau!" Balas Djarot. "Nanti sama Ibuk diapa-apakan lagi! Saya yang repot karena gagal nikah! Biar dia saya awasi pakai mata kepala saya sendiri. Saya ndak percaya pengaturan Ibuk!"


Rustina membeliak kala melihat Djarot meninggalkan teras samping dan berjalan tergesa-gesa ke kamarnya dimana Rully sedang berasa di dalamnya.


"Walah-Walah! Bocah ini kalau dikasih tahu tidak boleh masih saja nekat!" Rustina siap mengejar tetapi ditahan dari belakang.


"Mereka bukan anak kecil, Buk ... Bapak yakin anak kita tidak sepeti itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita lihat besok saja. Kaya Ibuk ini ndak pernah muda saja."

__ADS_1


Rustina membeliak. "Jadi Bapak akan biarkan anak kita berhubungan sebelum resmi menikah? Bapak bisa dituduh membiarkan perbuatan tercela terjadi di rumah Bapak! Ingat status Bapak! Harusnya bapak itu jadi contoh yang baik, bukan malah mendukung begini?"


Rustina melepaskan tangannya dan menyusul Djarot. Tidak peduli kalau Djarot akan marah karenanya, ia hanya mau kebenaran dan juga adat ketimuran tetap tegak.


__ADS_2