
Di sinilah Ferdi berada. Di rumah Haryadi yang menjadi saksi pernikahan siri Lea dan Ferdi beberapa bulan lalu.
"Saya ingin mengembalikan Lea sama Bapak, saya sebagai suami, tidak mampu menjalankan tugas saya secara penuh, Pak." Ferdi sedari tadi tak mampu membalas tatapan Haryadi yang tampak pasrah. Sepertinya cepat atau lambat, Haryadi akan menerima ucapan itu dari menantunya. Haryadi sudah siap. Toh, itu juga salahnya. Salah mendidik Lea.
"Saya bukan pria yang baik, saya juga bukan pemimpin keluarga yang diharapkan Lea, Pak." Ferdi melanjutkan. "Saya tidak ingin menyakiti Lea dengan kata-kata saya, makanya saya serahkan kembali Lea kepada Bapak, selaku wali Lea."
Haryadi menghela napas. Ia mengerti beban yang ditanggung Ferdi. Anaknya yang merepotkan dan tidak tahu diri. "Saya menerima atur pasrahmu atas Lea, Nak ... Bapak mengerti kalau sulit bagimu mendidik wanita seperti Lea. Bahkan membuat mu bercerai dari Mayang. Bapak tahu, kamu menderita karena ulah anak Bapak. Tapi Bapak harap, kita tidak putus tali silaturahmi. Bapak juga berharap agar kau dan Mayang bisa kembali bersama lagi."
Haryadi menepuk pundak Ferdi yang menitikkan air mata. Dia tidak mampu berkata sejujurnya. Dia hanya tidak ingin masa depan mereka menjadi tidak jelas dan runyam. Berliku dan penuh duri. Ferdi tidak siap dengan semua itu.
"Sampaikan salam maafku untuk ibumu, juga Mayang. Lain hari bapak akan datang jika pikiran bapak sudah tenang. Sekali lagi maaf atas sikap buruk dan kurang ajar Lea sama kamu, Fer."
Ferdi sejenak menyadari, betapa siapnya Haryadi dengan pilihan Ferdi memulangkan Lea. Pria muda itu menatap Haryadi heran.
Haryadi tersenyum, "Bapak sudah tau semuanya, Fer ... Bapak maklum sama keputusanmu. Nanti biar Bapak jemput Lea pulang."
Ferdi mengangguk, "Kapan Bapak datang?"
"Kemarin, kayaknya jam sembilanan," jawab Haryadi dengan senyum lemahnya. "Bapak buatkan minum dulu, ya ... kita ngobrol sebentar. Kamu nggak sibuk, kan?"
__ADS_1
Ferdi menggosokkan kedua belah tangannya, mengangguk dengan sungkan karena merepotkan. Tetapi rasanya dia ingin berbincang sejenak dengan ayah mertuanya ini.
Perbincangan penuh nasehat dan peringatan juga Lea dapatkan dari petugas dinas pariwisata dan lembaga perlindungan konsumen agar tidak menaikkan harga juga menerapkan biaya parkir seenaknya sendiri.
"Saya minta maaf, Pak ... dan saya nggak akan mengulangi perbuatan saya lagi," kata Lea sambil menunduk. Ia sungguh takut jika mendapat sangsi dari pihak berwenang.
"Untuk sekarang, kami masih memberikan peringatan saja, Bu ... tapi jika lain kali ibu mengulanginya lagi, kami akan memberikan peringatan tegas." Pria dari dinas pariwisata berkata dengan santun.
"Saya mengerti, Pak ... saya pasti akan mengingat ini. Kemarin saya sedang ada masalah, makanya saya emosi sendiri," aku Lea semakin malu.
"Dan kami dari lembaga perlindungan konsumen, mengundang ibu untuk datang ke seminar yang kami adakan seminggu lagi, Bu ... untuk memberikan pengarahan dan penjelasan pentingnya menghargai konsumen. Kami mengharapkan kehadiran Ibu di sana. Akan ada banyak pedagang lain yang berpartisipasi, jadi nanti ibu bisa bertukar pikiran dan pengalaman. Menambah wawasan dan ilmu, juga, Bu."
"Saya pasti datang, Pak." Lea membacanya sekilas, kemudian menyimpannya dengan aman.
"Kalau begitu kami pamit, Bu ... Sekali lagi, mari kita hargai wisatawan yang datang, yang memberikan pemasukan besar bagi kemajuan daerah kita. Mari kita sama-sama membangun kerja sama yang baik, demi tercapainya tujuan bersama." Pria itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Kemudian mereka pamit di bawah tatapan sendu Lea.
Selepas kepergian orang dari pemerintahan, Lea ambruk dan jatuh di kursi. Dia menangis. Dan entah sampai berapa lama, terdengar suara riuh dari luar.
"Ini tokonya tukang palak yang membuat kita kesusahan." Suara teriakan yang di dominasi wanita itu membuat Lea bangkit tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ya, gara-gara dia, kita jadi kena sidak. Kita harus merugi karena dianggap memeras pembeli!"
"Keluar kamu, Lea! Keluar!"
"Kalau tidak kuta lempari pakai telur busuk saja."
Dan suara lain yang menakutkan mendukung tindakan itu. Suara telur terpecah membuat Lea merunduk takut. Ciptakan berbau busuk mulai menyengat, membuat toko Lea sangat kotor dan dikerubuti lalat.
"Ya Allah, Ibu-ibu ... tolong hentikan!" Suara Mayang terdengar menghentikan keributan diluar. "Jangan membuat keadaan makin kacau, Ibu-ibu sekalian. Ini harusnya membuat kita sadar dan saling bersaing dengan sehat. Jangan dicontoh yang buruk, mari kita mulai semua dengan awal yang baik."
Mendengar itu, Lea menangis tersedu-sedu. Satu hal yang tak bisa Lea tiru dari Mayang adalah ketulusan pada orang lain. Sekalipun Lea telah menyakiti hingga berdarah-darah, tetaplah Mayang bersikap dewasa dan tidak berlebihan.
"Maafkan aku, Mbak Mayang."
*
*
*
__ADS_1
Nanggung lah, sekalian ajađź¤