
Secara kasat mata, acara itu sangat kaku dan formal. Rully bosan dibuatnya, hingga saat acara dengan tamu sekitar tiga ratusan orang itu, menyentuh ujung. Rully yang kelaparan langsung turun dari pelaminan dan duduk tak jauh dari stan prasmanan yang tersedia.
Sementara Djarot memilih berbincang dengan rekannya. Memang ini acara Djarot, Rully sengaja tidak mengundang siapa-siapa selain keluarga besar dan dekat. Yang pasti, Rustina dan Murdyo dibuat kicep oleh setiap penjelasan atau pun tamu yang datang dari pihak Rully.
Rustina masih belum tahu harus bagaimana meminta maaf pada menantunya itu. Dia hanya mampu menatap Rully dari jauh. Dia terlalu angkuh saat berpikir; tidak apa-apa kalau dia mengabaikan semua saran dari Djarot, toh yang membiayai pernikahan ini adalah anak lelakinya.
Ternyata, ketika satu per satu saudara Rully datang, dan diperkenalkan oleh Sigit, Rustina baru sadar, menantunya cukup terpandang di kota ini. Dan, baik Rully maupun adiknya, tidak banyak show off, mereka lebih suka berkarya.
"Buk ... Ibuk!" Murdyo menepuk lengan Rustina, sehingga lamunan Rustina buyar. Wajahnya yang muram saat menatap Rully seketika berganti gelagapan matanya terbentur sepasang sosok yang tersenyum ke arahnya, sewaktu menoleh.
Mayang dan Gian tersenyum sopan kepada Rustina, "kami mohon diri untuk pulang, Bu Rustina ... istri saya kelelahan." Gian berkata mewakili Mayang yang sudah merasakan pegal di punggung hingga kaki.
Rustina gagap. "Oh, ya ... si-silakan, Pak Dokter. A‐em-itu—"
"Saya mewakili keluarga saya minta maaf kalau sudah membuat acara ini tidak berjalan semestinya." Murdyo dengan sigap menukas perkataan istrinya. Dia tahu, Rustina menjadi gagu saat harus minta maaf. Itu yang membuat Murdyo sedari tadi sore terus mengancam Rustina, agar merubah sifat sombongnya.
Gian tersenyum lebar, pun dengan Mayang. "Keseluruhan acara kakak istri saya, berjalan sangat lancar, Pak ... tidak ada yang menghambat, kok. Kakak ipar saya itu kalau soal pesta nikahan yang mengalami hambatan, ditanggapi santai. Dia pernah menghadapi situasi lebih buruk daripada ini, Pak."
Murdyo manggut-manggut, "seharusnya saya lebih siap untuk nikahan anak pertama saya dan laki-laki satu-satunya. Bukan malah terlambat dan tidak bisa melihat acara tersebut berlangsung."
Murdyo tampak kecewa dan menyesal. Rustina menggigit bibir demi menahan rasa panas yang mulai merembet ke telinga sampai kini membuatnya berkeringat. Obrolan mereka berdua membuatnya merasa tersindir, tanpa bisa membalas atau melakukan apa-apa. Dia masih takut ancaman dimadu jika tidak menurut pada suaminya. Astaga, dia hanya punya modal berani saja, tanpa punya ketrampilan apa-apa jika harus bersaing dengan istri kedua, lebih buruk menjadi janda. Gusti ...!
"Sayang momen seperti itu hanya akan terjadi sekali seumur hidup, Pak ... tidak bisa diulangi lagi. Kalaupun mereka bukan jodoh, tetap kurang berkesan kalau sudah yang kedua, ya ... beda vibes-nya, kalau mantennya sama-sama menggebu seperti sekarang." Gian memanas-manasi.
__ADS_1
Murdyo menangkap maksud Gian. Ya, mereka kelabakan mencari dua orang itu, dan ketika kembali, mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi. Walaupun, kata dua orang itu, mereka habis kerampokan. Ya, benar, Djarot habis merampok istrinya yang masih ting-ting. Lagian mana ada orang dirampok tapi mobil masih utuh, hanya baju mereka yang compang-camping. Apa rampoknya pindah selera; merampok baju nikahan?
"Mereka terlalu lama menjadi bujang kesepian. Wajar kalau mereka begitu. Dan bagus mereka tidak terpengaruh oleh apapun yang terjadi."
"Benar, Pak. Tapi ngomong-ngomong, besok kalau Bapak ingin merasakan masakan apa-apa ndeso, boleh main ke gubuk kami atau kalau datang ke warung makan istri saya, Bapak kabar-kabar, saya akan menemani," tawar Gian murah hati.
"Oh, baik, Mas ... saya akan mampir ke rumah Mas Gian." Murdyo menundukkan kepala. Dia boleh punya jabatan terhormat dan umurnya banyak, tapi kalau sekarang, dia tidak lebih baik dari siapapun di sini. Dia malah jauh dibawah Gian soal berkeluarga. Dia malu dan rendah diri.
Rustina diam seribu bahasa melihat keramahan Gian dan kerendahan hati Mayang. Mereka punya segalanya, tetapi tidak merendahkan siapa-siapa. Terlihat sekali, mereka terbiasa hidup tanpa batasan, jadi bergaul dengan siapa saja, bisa dengan mudah akrab dan tidak canggung. Sekalipun pada suaminya, bahkan dirinya yang nyata-nyata membuat keluarga mereka malu. Rustina merah sampai ke leher dan telinga. Sungguh dia ingin mengulangi keputusannya semalam. Dia menyesal.
Putri Segera berlalu dari samping Rustina, dia menuju Rully. Sepertinya, bukan kekayaan yang akan dia adu di sini, tapi kecerdasan. Wanita cengengesan itu pasti tidak mampu kalau diadu soal itu.
"Boleh gabung di sini?" Putri tersenyum ramah saat berdiri di depan Rully yang sedang makan. Yah, walau anggun, tapi itu tidak berkelas. Mari kita ajari wanita tua ini cara makan yang berkelas.
Rully menyeka mulutnya dengan lap yang terhampar di atas pangkuan. "Silakan Mbak Putri, atau Putri saja. Secara umur saya jauh lebih banyak dari kamu." Ia tersenyum saat mengatakan itu.
Rully menenggak minumnya pelan, dan berkelas, walau dia sedang kepedasan berat. Duh, kalau saja tidak ada Putri, dia sudah minum dari botol langsung.
"Aku harus nanggepin ini serius atau bercanda?" Rully tertawa dengan tangan menutupi mulutnya. "Aku baru makan sekali hari ini, dan sejauh ini, aku baik-baik saja walau makan sepedas apapun."
Rully tahu, bukan itu yang jadi perhatian Putri melainkan betapa banyaknya porsi makannya. Dia hanya tersenyum, "Aku ambil minum dulu, ya."
Ia menggoyangkan gelas seraya berdiri, dan mengambil botol air minum yang berada di stand khusus minuman. Ia mengambil dua dan berniat membuat Putri tahu siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.
__ADS_1
Rully kembali tak lama kemudian. "Ini untukmu, kelihatannya kamu haus banget."
Putri kaku mengulurkan tangannya, mau dan tidak mau. Tetapi akhirnya, dia menerimanya. "Tidak terlalu juga, tapi terimakasih, ya."
Rully membuat gesture semua itu bukan apa-apa. "Jadi ku pikir, pasti ada sesuatu yang penting untuk kamu bicarakan sampai kamu repot-repot datang kemari. Katanya, kamu sibuk dengan pekerjaan dan ... mempelajari bahasa asing."
Putri dengan bodoh menyambar umpan yang dilemparkan Rully. "Ya, kamu taulah, aku menyempatkan diri. Tante Rustina yang mengabariku, jadi tidak ada salahnya aku datang. Walau aku harus segera kembali ke Jakarta secepatnya setelah ini."
Dia melihat jam tangan Bonia yang berwarna keemasan di tangan kirinya, seraya menghela napas. "Aku hanya mau bilang padamu agar bisa menjaga sikap saat bersama Mas Lingga, dia berkumpul dengan kaum yang berkelas."
Rully sedari tadi menunggu saja tanpa melepas tatapannya dari setiap gerak gerik Putri. Cantik, tapi terkesan memaksa. Menyadari dia dinilai tidak berkelas, Rully menyisihkan juntaian rambut yang mungkin menghalangi pandangan mata Putri. Jika berkelas maksudnya memakai barang mewah sekelas jam tangan kepunyaan Putri, maka Rully punya yang jauh lebih berharga.
Jemarinya yang panjang berhias hena merah tua itu meluncur cantik di sisi kepala hingga ke leher, mempertontonkan cincin berkilau berlian dan kalung pemberian Djarot sebelum resepsi.
"Aku yakin Mas Lingga-mu itu, paham bagaimana harus menyelaraskan penampilanku saat bersamanya, Put ...."
Putri melihat itu dan mengerti. "Itu urusan luar, Rully ... maksudku, kau harus pintar ketika bertemu orang yang beragam."
"Kata Mas Lingga-mu, aku hanya harus jadi istri pengertian, setia, dan yang bisa menyenangkannya. Aku punya kesibukan, meski tidak sesibuk kamu, dan—"
"Mas Lingga butuh banyak usaha untuk sampai di posisinya, Rully ... kau tidak tahu itu. Tidak cukup hanya dengan kamu kaya dan setia, tapi kamu juga harus pintar dan mengerti banyak bahasa. Aku seperti ini karena Mas Lingga, aku berusaha menjadi apa yang dinamakan setara dengan keluarga Mas Lingga."
Rully mencibir. "Kasihan sekali kalau begitu."
__ADS_1
Dua wanita itu saling tatap, sementara Rully menanggapi santai dengan tangan memegang botol air mineral. Mata Rully meremehkan Putri yang kembang kempis karena Rully sama sekali tidak terpengaruh.
"Aku hanya cukup menjadi diriku sendiri agar Mas Djarot mengejar-ngejar aku. Tidak perlu memaksa diri menjadi pintar dalam berbahasa asing yang rumit, bekerja di luar negeri, atau memaksa diri untuk dicintai. Toh pada akhirnya, Mas Djarot hanya butuh bahasa sederhana yang mampu memahami karakternya. Intinya, kalau tidak cinta, kamu hanya memiliki cangkangnya. Silakan kamu berusaha, tapi aku sudah dapat keduanya."