Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Its All About Love! Bukan Harta Atau Yang Lain.


__ADS_3

Di sinilah Rully berada. Napasnya masih tak beraturan, pun dengan debaran jantung di dalam dadanya. Mata kecoklatan itu menoleh ke belakang, memindai setiap sudut jalan, seakan apa yang ditakutkannya dikhawatirkan mengejar.


Baru bisa bernapas teratur kala jalanan pagi itu normal seperti biasanya. Hembusan napas itu sungguh tak bisa membohongi, Rully lega sekali.


"Mending aku lihat kemesraan Gian dan Mayang saja daripada di teror Si Botak nggak nyadar diri itu!" gerutu Rully dalam hati. Dalam bayangannya, pasti hanya romansa pengantin baru yang lumrah saja yang akan dia saksikan di rumah adiknya ini nanti. Setidaknya beberapa hari kedepan, dia harus pura-pura jadi orang buta dan tuli.


"Aku akan ambil kamar bawah saja, yang mengamankan perasaanku nantinya." Rully mengantisipasi. Mengambil tindakan preventif sebelum dia benar-benar remuk. Mencintai seseorang itu tidak mudah, apalagi hanya sepihak begini. Rully melangkah seraya membuang napasnya kasar.


Djarot sepagian datang. Menunggu Rully keluar sejak ia baru bangun—Rully bangun sekitar jam tujuh pagi—pria itu sabar menanti. Bahkan sampai level kelewatan dan terlihat bodoh. Rully yang tidak suka pada Djarot sampai level ingin muntah saat melihat kepala botak itu, beralasan mandi, padahal ia menyelinap dari pintu belakang, lalu kabur kemari dengan menggunakan ojek. Persetan dengan Djarot yang seperti orang bodoh di teras rumahnya.


"Kejam nggak sih aku sama dia?" Tangan Rully menggantung di handel pintu rumah Mayang. Pikirannya terus tertuju pada pria botak yang mungkin senyum-senyum di teras rumahnya.


"Tas dan perhiasannya udah aku terima, tapi orangnya aku tinggal kabur." Kendati dua benda itu masih teronggok manis di atas kasur princessnya, tetap saja Rully merasa telah menerima pemberian Djarot. Bukan tanpa sebab, jika Rully menolak, Djarot akan memaksa dengan merendahkan diri hingga level menjijikkan. Mengatakan kalau barang pemberiannya kurang mahal, nggak prestise, atau mau dibuang saja.

__ADS_1


No! Bukan Rully tidak suka dengan pria yang memperjuangkannya. Tapi ... ayolah, Rully seumuran Gian. Dan Djarot? Dia bapak-bapak. Mungkin empat puluh lima. Ayolah, berapa sih umur produktif manusia? 50-60 tahun? Itu artinya dia akan menjalani romansa memabukkan yang selama ini Rully bayangkan berapa lama?


Bukan soal harta, sekali lagi Rully tegaskan. Dia mampu menghasilkan, dia punya segalanya dengan keringat yang mengalir di tubuhnya setiap hari. Dia ingin punya pasangan yang benar-benar melengkapi dirinya. Dia butuh cinta. Pria yang dia cinta. Bukan Djarot dengan segala kekayaannya yang selalu unjuk gigi di depan Rully.


"Datang padaku, cukup dengan seikat bunga. Bukan barang-barang berharga." Rully menggerutu, kakinya menghentak karena kecewa. Kenapa dia mesti mengalami yang seperti ini?


Suara mesin mobil berhenti di depan rumah Mayang, membuat Rully urung mendorong pintu. Ia menoleh dan membuang napasnya keras-keras. "Tuhan, ambil saja nyawaku sekarang!" keluh Rully kala melihat adiknya itu dengan suka rela menyosor Gian. Membiarkan bibir mereka saling bersilaturahmi.


"Sejak kapan Mayang jadi punya paruh kaya bebek? Hobi kok nyosor." Tak tahan melihat kemesraan mereka, Rully masuk ke rumah dan menuju kamar di samping ruang tamu. Dia memilih tidur dan tidak terlihat saja.


Tawa Mayang dan Gian menjadi melodi yang mengusik di telinga Rully, namun bukan sebuah rengutan masam yang muncul di bibir wanita itu, melainkan sebuah senyuman yang tak kalah bahagia.


"Setidaknya, bebanku berkurang satu. Tanggung jawabku membahagiakan Mayang diambil alih oleh Gian. Dan Ibuk sama Bapak pasti bahagia melihat Mayang sekarang." Rully berguling dan memejamkan mata. Di luar sana, Mayang terdengar mencarinya.

__ADS_1


"Perasaan tadi aku lihat Mbak Rully di depan, deh, Mas ... kok nggak ada? Kemana perginya dia, ya?"


Gian menjawab, "Dia sedang menutup wajahnya yang merah karena malu lihat tingkah agresif kamu, Mai."


"Hahaha ... benar! Habisnya aku seneng banget punya baby twin di dalam perutku. Mas. Kamu bikin aku jadi sempurna, dan aku bisa menunjukkan pada dunia, kalau aku bukan wanita mandul."


Rully tersenyum lega. Dia juga bahagia mendengar ini. "Kini aku akan kejar bahagiaku sendiri, May ... selamat, ya atas kehamilanmu," gumam Rully yang sudah setengah melayang ke alam mimpi.


*


*


*

__ADS_1


Halo salam jumpa kembali🥰, maaf kelamaan liburan🙏😄


__ADS_2