
"Ibuk ...!"
Ferdi begitu terkejut melihat keadaan ibunya yang makan soto belepotan. Seperti tidak makan dalam waktu yang lama sekali. Dan aroma soto ini begitu melekat di ingatan Ferdi. Ya, dia mengenali dengan jelas siapa pembuat soto yang begitu khas ini.
Ferdi menelan ludah begitu getir, memandang betapa lahapnya sang ibunda tercinta makan. "Buk, pelan ya, makannya."
Ferdi menahan mangkuk plastik yang menjadi wadah makanan Marini setiap hari. Semua demi keselamatan Marini sendiri, sebab tak sekali dua kali dia memecahkan piring maupun gelas dan sering melukai dirinya sendiri.
"Jangan direbut!?" Marini mendelik seraya menarik mangkuk dari tangan Ferdi.
"Buk ...." Ferdi tercengang. Dia tak bisa bohong, kalau jelas melihat ibunya sendiri tidak mengenalinya sama sekali. Aura permusuhan jelas terlukis di sana.
"Ini makanan kiriman mantuku! Kamu ndak boleh mintak!" Marini mulai mengibaskan tangannya seolah menepis Ferdi yang tangannya menggantung di depan Marini.
Ferdi menarik tangannya, lalu menarik napas kuat-kuat. "Ini Ferdi, Buk!"
Tiba-tiba bibir Marini meliuk sinis. "Ngaku-ngaku kamu!"
Wanita tua itu beranjak dari duduknya, memaksa Ferdi ikut-ikutan setengah berdiri.
"Anakku itu di rumah istrinya ... lagi nemenin Mayang yang hamil besar! Kamu pasti wong edan yang punya niat jahat untuk menculiku, toh? Biar nanti anakku bayar tebusan?!" Marini begitu galak dan juga congkak saat mengatakan itu, lalu mundur perlahan sebelum masuk ke kamarnya di ruangan paling belakang. Kamar yang dulunya hanyalah sebuah gudang.
Ferdi menangis melihat Ibunya seperti ini. Syok dan keputusasaan menyebabkan pikiran wanita itu mengalami erosi. Pikiran warasnya terkikis oleh tamparan kenyataan yang menyakitkan.
"Mas ...."
Tangan Ferdi dengan cepat menyeka matanya yang basah. Perlahan dia menoleh dan tersenyum.
"Ibuk udah tidur, Le ... besok saja kita bawa pulangnya."
__ADS_1
Ferdi segera menghampiri Lea. Merangkul wanita yang sudah resmi dia nikahi ini dengan lembut. "Udah ku bilang tunggu di depan aja, kamu masih sakit."
Lea tersenyum. "Aku udah sehat kok, Mas."
Ferdi menatap miris Lea. Suara yang dulunya energik itu sekarang terdengar lirih dan lemah. Kenyataan bahwa Lea berkali-kali menderita sakit yang tak lazim, membuat kesehatan wanita itu semakin memburuk. Terakhir, Lea menderita polip rahim, beruntung diketahui sejak awal jadi bisa disembuhkan. Kini, Ferdi tidak punya apa-apa selain rumah ibunya.
"Bagus kalian sudah datang!" Nungki mendadak muncul dari arah belakang. Memaksa Ferdi dan Lea memutar badannya.
"Bulek!" Ferdi bergegas menyambut tangan adik kandung ayahnya tersebut. "Maaf merepotkan Bulek."
"Sudah tau merepotkan, masih saja ndak diambil-ambil!" Nungki menarik tangannya lalu membuang muka untuk melihat kekacauan yang Marini buat.
"Lihat kan! Ulah ibumu koyo opo? Ini belum seberapa ... bayangkan kalau dia pipis dan buang kotoran sembarangan! Yang bersihin aku, yang mandiin aku, yang repot aku! Mana kamu ndak pernah muncul lagi ... apa mbok pikir rumah ini panti sosial?"
Lea menunduk tanpa berani menjawab. Dia merasa bersalah.
"Maafkan saya, Bulek. Nanti saya bawa pulang Ibuk. Lea sudah sembuh juga." Ferdi seolah mengingatkan Nungki, alasan kenapa dirinya menitipkan ibunya di sini.
"Bagus kalau gitu! Sekarang kemari barang mertuamu, Lea. Biar bisa pulang sekarang." Nungki menunjuk lemari dekat pintu kamar Marini, "selain baju, dia ndak bawa apa-apa kemari."
Lea menunduk dengan perasaan rendah diri, lalu berjalan pelan menuju lemari, mengemas beberapa potong kain milik mertuanya.
Ferdi ingin menangguhkan kepulangan ini sebenarnya. Tetapi tentu pengusiran halus ini seharusnya membuat Ferdi tahu diri.
Pas ketika Lea kembali dari mengambil pakaian Marini, Nungki berkata dengan suara yang begitu keras dan sarkas.
"Sekarang aku tahu, Fer ... yang menjadi musibah itu sebenarnya kamu dan juga dia dalam hidup kami." Nungki mengarahkan bola matanya ke arah Lea.
"Pas ada Mayang dulu, hidup kami terjamin. Sekarang apa? Boro-boro terjamin, ndak rusuh aja udah untung."
__ADS_1
Ferdi dan Lea kaku kemudian saling lirik disertai tarikan napas yang dalam. Desa mereka sesak setiap kali orang-orang menuduhnya begitu.
Nungki bersedekap. Matanya tajam menghina Lea. "Bulek kena karma atas ucapan Bulek pada Mayang dulu."
Lea menelan ludah. Dia ingat dengan jelas, saat dimana Nungki mengatakan; Mayang adalah musibah untuk Ferdi. Entah terdorong setan sombong dari mana saat itu sehingga dirinya dengan senang hati ikut menertawakan. Bahkan prang buta juga tahu, Mayang adalah wujud berkah yang sedang meliputi keluarga besar mereka.
Ferdi pun demikian. Rasanya sesal itu bagai gundukan batu yang memenuhi jalan napas. Seperti lava panas yang selalu mendidih tiap detik di sisa umurnya. Tuhan bahkan tidak butuh waktu lama untuk menarik kelopak mata Ferdi lebar-lebar agar melihat betapa bodohnya dia telah mengkhianati wanita lugu nan polos semacam Mayang.
Seharusnya Ferdi sadar, terlepas dari betapa tidak sukanya dirinya ketika melihat calon istrinya adalah seorang wanita dengan tubuh yang tidak seideal gadis pada umumnya, bahwa jodoh itu punya cara untuk menemukan jalannya. Dan seorang ibu—walau caranya terkesan licik, selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Seharusnya Ferdi tidak mengabaikan peringatan ibunya.
"Kini kalau lihat Mayang, kayak ada tangan yang nampar-nampar mulut Bulek."
Kedua orang itu tersadar dari pikiran yang menghanyutkan barusan. Ferdi menaikkan wajahnya memandang Nungki.
"Semua kesempurnaan hidup ada pada Mayang." Nungki tidak berhenti walau dia tahu Ferdi terluka, dan Lea semakin rendah diri. Biar saja! Biar mereka berdua sadar betapa menjijikannya mereka berdua. Nungki geram jika ingat kelakuan busuk dua manusia di depannya ini.
"Bahkan Mayang hamil dengan pria yang tampan dan subur. Hah ... aku jadi ragu dengan kata-kata ibumu dulu. Astaga, Gusti ... aku kok makin ndak tahan kalau ingat jahatnya mulutku waktu itu." Nungki kini histeris sendiri saking malunya.
"Ngatain Mayang kebalut lemak, ndak taunya sekarang punya sodara yang kebalut penyakit! Gusti, Gusti ... sampun toh! Kulo mpun tobat."
Mendengar dan melihat Nungki begitu larut dalam deklamasinya, Lea dan Ferdi menangis tanpa suara. Ditambah saat Nungki jatuh terduduk dengan air mata bersimbah, mereka berdua seperti dijatuhkan dari ketinggian tertentu dan menimpa bebatuan yang lancip. Yang langsung menusuk di jantung mereka.
Andai boleh ... waktu akan diputar ulang. Lalu Ferdi dan Lea memilih menjadi pasangan yang seharusnya bagi Mayang.
Lea sebagai saudara yang begitu dianakemaskan Mayang. Tangan kanan terbaik yang mendukung Mayang menuju kesuksesan.
Dan Ferdi ... dialah pria beruntung yang memiliki istri bertangan emas. Beristrikan wanita yang ngrejekeni adalah anugrah terbesar seorang pria. Jelas ... rezeki disini bukan hanya soal harta yang kasat mata begitu melimpah, melainkan wanita terbaik di spiesnya.
Sayang yang tersisa dari semua itu adalah kini mereka hanya bisa meratapi sesal. Padahal ... jika mereka mau tetap berhati baik, kenikmatan dunia sedang mereka dekap.
__ADS_1