
Ferdi rasanya enggan sekali pulang ke rumah. Di dalam rumah yang harusnya menjadi tempat melepas penat itu tiap hari hanya ada keributan. Semenjak Mayang pergi, ratu di rumahnya menjadi seperti iblis. Yah, Lea telah dinikahinya setelah dia dan Mayang resmi bercerai, meski masih secara siri.
Sore ini tampak lain rumah yang dihuni Ferdi sejak lahir, tampak tenang dan sunyi, meski sepertinya ada tamu. Ada sepeda motor terparkir di depan rumahnya.
"Mas ...." Lea langsung bangkit melihat Ferdi muncul di ambang pintu, lalu mendatangi Ferdi dengan raut wajah muram. "Ada orang dari Mahkota—showroom mobil," ucap Lea lirih.
Ferdi mengerutkan kening, tetapi ia segera masuk, tanpa menjawab ucapan Lea.
"Sore, Pak Ferdi," sapa pria berseragamkan Mahkota. Pria tersebut berdiri dan tersenyum ramah.
Ferdi menyalami. "Ada apa ya, Pak?" Jelas Ferdi menyuarakan apa yang menjadi pertanyaan dalam hatinya, sebab selama tiga bulan berlalu tidak pernah terjadi apa-apa dengan kredit mobilnya. Mungkinkah Mayang sudah berhenti membayari kreditan mobilnya?
"Bapak sudah menunggak cicilan mobil selama empat bulan." Pria itu menyodorkan bukti bahwa cicilan tersebut memang masih belum terbayarkan.
Ferdi menerima lembaran kertas itu dengan perasaan jumpalitan, ada sedikit rasa ngilu yang menyayat. Empat bulan?
"Pak, cicilan ini atas nama istri saya, Mayang ...."
__ADS_1
"Benar, Pak ... tetapi kata Bu Mayang, beliau tidak lagi mau membayar cicilan karena sudah bercerai. Lagipula, mobil dan surat-surat berada di tangan bapak," terang pria itu sedikit ngeyel. "Kami mohon kerja samanya, Pak ... kami beri waktu satu minggu untuk membayarnya."
"Mas ...." Lea menginterupsi dengan nada rendah. Sedari tadi Lea ikut menyimak obrolan mereka, ikut resah dan bingung kemana mencari uang sebanyak itu.
Ferdi menghela napas, menulikan telinga seolah Lea tidak sedang di sana. "Baik, Pak ... akan saya usahakan."
"Kalau begitu saya pamit, terima kasih atas kesediaan Bapak menyanggupi pembayaran." Pria itu bangkit, lalu menyalami Ferdi dan Lea sebelum benar-benar meninggalkan rumah ini.
"Mas kok main iya-iya saja, sih?" sembur Lea saat pria itu sudah lenyap dari halaman rumah.
"Terus mau gimana lagi? Menolak bayar? Memangnya kamu mau kemana-mana jalan kaki?" jawab Ferdi ketus.
"Bisa diam nggak, sih?" bentak Ferdi. "Jangan ngomel-ngomel terus ke aku! Bikin kepalaku pusing tau nggak! Sekarang itu yang penting gimana cara ngelunasin cicilan itu!"
"Mas!" Lea tak terima bentakan Ferdi. "Kamu bentak aku? Kamu berani bentak aku?" Lea melotot sampai matanya mau lepas.
"Kamu nggak inget kamu masih bisa kayak gini, karena siapa, ha? Hidup kamu aku yang nanggung! Tanahku terjual semua itu karena kamu! Karena kebodohan kamu! Kamu masih berani bentak-bentak aku kayak gini? Astaga, Mas ...!" Lea menggeleng. Pikirnya, dengan menjual penuh tanah yang digadaikan Ferdi, itu akan mengurangi beban hidupnya, akan membuat Ferdi sayang padanya, nyatanya? Setelah tiga bulan menikah, pria itu seakan lupa siapa yang telah meringankan beban akibat dari tindakan bodohnya.
__ADS_1
"Kalau kamu terus-terusan ngomel, aku juga nggak tahan, Lea! Mayang saja nggak pernah marah sama aku, nggak pernah bentak-bentak aku seperti ini? Mayang selalu punya solusi untuk semua masalah yang kami hadapi dulu. Nggak kayak kamu!" balas Ferdi berang.Dadanya sejak tadi berdenyut-denyut mengerikan. Telinganya berdengung sampai kepalanya penuh.
"Jadi kamu nyama-nyamain aku sama si gendut bodoh itu? Kenapa kamu nggak balikan saja sama dia, ha? Kalau dia lebih baik dari aku? Kenapa? Kenapa kamu nikahin aku kalau kamu masih mikirin si gendut jelek mandul itu?" tantang Lea seraya maju ke depan Ferdi.
"Ceraikan saja, aku kalau begitu! Nikahi Mayang kesayanganmu itu! Tapi kembalikan semua uang yang aku keluarkan untukmu!" sambung Lea masih dengan kemarahan juga rasa cemburu yang membakar. "Sudah bagus aku nggak bikin kamu jatuh miskin, masih saja nglunjak!" Lea membuang muka dengan kasar meninggalkan Ferdi. Dia tidak takut jika Ferdi menceraikannya meski dia tengah mengandung darah daging pria itu.
Ferdi termegap, darimana uang sebanyak itu jika benar Lea ia ceraikan? Namun, apa dia tahan dengan tingkah Lea yang suka uring-uringan seperti itu? Jika Mayang mau kembali, tentu ini bukan lagi masalah.
"Ah, sudahlah! Yang penting gimana bayar cicilan itu dulu."
*
*
*
*
__ADS_1
Selamat pagi kesayangan Misshel😘😘😘 lancar terus puasanya ya, dear😘😘😘
Peluk dari jauh😘