
Mobil terparkir di depan kos rupanya yang membuat kos-kosan ini heboh. Maklum, di sini hanya ada motor NMax kreditan, paling banter. Kos yang hanya terdiri dari pekerja pabrik, pegawai supermarket, atau pegawai toko biasa. Jadi selain gebetan, tidak ada yang memarkirkan mobil di sini, apalagi itu mobil keluaran terbaru, pasti akan sangat langka bin jarang.
Lea langsung jadi sorotan mata penghuni kos yang kegiatannya sempat tertunda rasa penasaran. Ada yang menunjukkan kekaguman, ada juga yang mencibir dan berpikiran buruk. Namun, Lea tak pernah ambil pusing soal itu, dia berjalan bagai peri yang melayang. Anggun dengan rambut ditarik ke satu bahu. Sungguh ia menikmati momen dipuja banyak mata begini.
"Mas, pokoknya mobil nggak boleh dijual! Titik!" kata Lea setelah dia duduk di samping Ferdi yang sudah siap melajukan mobilnya. "Kamu usaha pokoknya gimana caranya biar kita bisa pindah, tanpa jual mobil ini."
Padahal, mobil ini menggunakan sebagian besar uang Mayang. Bisa dianggap sebagai harta gono gini. Lea secara praktis dan teknis tidak berhak sama sekali atas mobil ini sekalipun dijual nanti.
Ferdi tak menjawab, pikirannya malah tergiring pada permintaan Lea yang menyuruhnya mencari cara lain agar mendapatkan uang. Dari mana coba uang tambahan berasal? Dia saja bekerja dari pagi sampai malam, pikiran dan tenaganya tercurah untuk melakukan yang terbaik bagi kantor. Mana bisa dia membagi pikirannya bercabang.
Perjalanan berlalu tanpa obrolan sama sekali dari kedua orang tersebut, sampai mereka tiba di toko Lea, baru Lea berbicara kembali.
"Nanti jemput aku jam empat sore, Mas. Jangan sampai terlambat." Lea menyandang tas kecilnya di bahu sebelum turun. Lea tak membutuhkan jawaban Ferdi, dia hanya mau jawaban iya tanpa mau ada penolakan.
Lea berjalan masuk ke tokonya, selintas lalu ia melihat bayangan Mayang dan Dokter itu. "Mau apa mereka di sana?" Lea terus mengawasi gerakan Mayang yang sedang melihat bangunan di sebelah ruko yang Lea tempati.
"Cih, mental miskin dan pelit, beli bangunan aja yang rusak parah kaya gitu. Nggak kelas kalau saingan sama aku." Lea mencibir seraya mengibaskan rambutnya dengan lagak kemayu dan sombong.
"Nah, ini bosnya datang—kebetulan sekali."
__ADS_1
Lea agak terkejut melihat bos pemilik produk olahan makanan yang memasok tokonya.
"Buk ... kayaknya dagangannya laku keras ini, belum sebulan omsetnya udah puluhan juta. Baru Bu Lea loh, yang mampu berprestasi seperti ini. Biasanya paling banter—mencapai puluhan juta—dalam waktu dua bulan. Ibuk mencapainya dalam waktu dua mingguan saja." Bos berpakaian serba oren tua itu mengacungkan jempolnya ke udara. "Keren!"
Lea melayang mendengar itu. Baginya itu adalah prestasi pencapaian yang luar biasa besar. Jarang loh, dia dipuji begini, Mayang sekali pun tak pernah.
"Biasa aja Pak, saya kan memang ahlinya dalam berjualan. Pengalaman saya hampir seumur hidup, Pak ...," kata Lea genit. Ia begitu tersanjung dengan pujian tersebut hingga ia kehilangan pikiran warasnya dan terlena.
"Ehm ... jadi kalau saya menagih sekarang tidak jadi masalah, kan?" Pria itu mencapai tujuan dari obrolan basa-basi ini. Dia berani menggelontorkan produknya tanpa uang muka, dan memang ini cukup menjanjikan sebenarnya, hanya jika sudah jadi uang lebih baik diputar kembali jadi modal.
Lea mendadak terpeleset hingga tubuhnya terhuyung. "Ah ... oh, itu ... tidak jadi masalah. Uangnya ada, tidak perlu khawatir."
Ia menyeka keringat yang memenuhi dahi, sambil berjalan ke arah meja kasir yang ditempati Rena. "Ren, bayar dagangannya sekarang. Masa kamu dari tadi bengong aja? Inisiatif bantu kek," bisik Lea di depan Rena.
"Nih, uangnya. Adanya cuma segitu meski kamu nggak masuk seminggu." Rena menyodorkan uang sekitar sepuluh jutaan pada Lea, yang langsung mengundang kerutan penuh tanya dari Lea.
"Kok cuma segini?" Lea menghitung tatakan uang itu dengan cepat. "Kurang lima belas lagi lah, Ren ... kamu apakan uang dagangan?"
Rena memutar manik mata saking jengkel sama tuduhan Lea. "Kamu itu keguguran, bukan kepentok batu. Jadi jangan sok berlagak amnesia, lupa kemana uangnya lenyap! Kamu pasti tahu kemana uang dagangan hilang!"
__ADS_1
"Ya, tapi kan, nggak sebanyak itu juga, Ren ... palingan aku ambil berapa ratus ribu." Lea berkata keras, ia tak mau terlihat kalah di depan bos makanan ini.
Rena menggeretak kesal. "Promo yang kamu buat itu, yang menyebabkan kita rugi, Bego!" Wanita itu sampai membanting pulpennya ke meja hingga terpelanting entah kemana. "Kerja sama kalau sama orang bego ya begini, jadinya. Bikin luntur semir rambutku aja!"
"Ya udah, sih, gitu aja kok marah. Kan bisa di jelasin baik-baik!" Lea sedikit takut melihat kemarahan Rena, ia sampai menggeser kepalanya mundur, takut ketempat pulpen Rena.
"Kamunya juga nyolot pas nuduh!" balas Rena dengan mata membelalak lebar.
Lea berdecak sambil berlalu menemui pria itu lagi. "Pak ini ada sepuluh juta, sisanya saya transfer. Saya lupa kemarin ambil disini karena atm saya bermasalah pas mau bayar biaya rumah sakit. "
"Wah ... gimana dong, ini? Saya pikir dibayar cash." Pria itu menghitung kembali jumlah uang yang sampai di tangannya.
"Saya nanti malam bakal transfer deh, Pak ... nggak bohong." Lea meremas jemarinya sendiri. "Tapi, saya tetap minta dikirim lagi barangnya, ya, Pak ...."
Pria itu menghela napas. "Nggak janji, Buk ... saya mau nawarin ke orang lain dulu."
"Oh ...!" Lea menjentikan jari, "Saya tahu tempat yang bisa nerima dagangan Bapak. Yah, meski nggak secepat saya, jualnya. Tapi biarlah Bapak coba tawarkan ke sana."
"Mana itu, Buk?"
__ADS_1
Lea tersenyum jahat sebelum menunjukkan siapa yang dia maksud.