Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Soal Amplop


__ADS_3

Gaun yang dipilih Gian untuk Mayang adalah kebaya berwarna dusty pink dan dress yang lebih modern untuk malam harinya. Gian mengundang secara khusus teman-temannya yang berada di luar kota untuk hadir pada malam resepsi. Biasalah, acara khusus anak-anak muda katanya.


"Kalau temen kamu ada yang berhalangan hadir pas siang bisa dateng pas malem nya, Mai. Kita fleksibel aja lah, jangan terlalu banget undangan siang harus datang siang, dan undangan malam nggak boleh hadir pas siang." Gian begitu bijaksana saat beberapa teman Mayang tidak bisa hadir di jam yang ditentukan.


"Padahal aku dah ambil hari libur loh, kok ya, masih ndak bisa dateng. Aku aja selalu nyempet-nyempetin dateng loh, masa mereka ndak mau usahain dateng. Apa takut aku minta dibales uang sumbanganku dulu, ya, Mas?" Mayang tetap tidak bisa terima begitu saja. Mereka yang diistimewakan Mayang, seolah sibuk di hari itu dan tidak bisa meluangkan waktu.


Gian tersenyum seraya menakutkan jari-jarinya ke jari-jari Mayang. "Sayang, dengerin Mas, ya ... Mereka itu ada yang punya kerjaan dan nggak bisa ditinggal, kan udah jelas tadi mereka jelaskan. Kalau kamu mah enak, kantor punya kamu, warung makan milik kamu, kerja suka-suka kamu, jadi waktu kamu banyak buat teman-teman. Ya, nggak?"


Mayang hanya bisa mengangguk karena itu benar.


"Soal uang sumbangan, kamu jangan suudzon deh, mereka itu kaya orang yang berada menurutku, jadi uang sumbangan mah berapa, mereka pasti mampu kok. Jadi jangan mikir aneh-aneh ya." Gian menenangkan Mayang dengan mengecup punggung tangan Mayang berulang-ulang.


Mayang menghela napas, dia tidak bisa berpikir sejernih dan sepositif Gian. Dia suka mikir negatif dan berlebihan. Tapi ....


"Mas bilang uang sumbangan berapa?" Mayang yang mencari celah, menatap Gian penuh tanya.


Gian hanya mengangguk malas.

__ADS_1


"Lima ratus sampai dua juta, Mas ...," kata Mayang sedikit sok. Ia pikir sumbangan segitu sudah wow banget.


"Aku pernah sampai lima juta, tapi pas nikahanku hanya sejuta dia balikinnya." Jawaban Gian membuat Mayang menganga.


"Ada lagi, yang patungan sama Bapak sampai sepuluh juta, tapi setelah itu dianya nyapa kami juga enggak." Gian ini tipe orang yang bagaimana ya? Bicara soal kehilangan dan balasan yang timpang kok enteng sekali. Apa dia punya uang yang tak punya batas nomer seri?


"Mas ... ngada-ngada pasti." Mayang menolak percaya.


"Nggak. Buat apa aku boong sama istri sendiri yang kalau boong cepat atau lambat bakal ketahuan." Gian melelahkan laju mobil kala lampu merah menyala.


"Enteng banget bicaranya," gumam Mayang masih tak habis pikir.


"Ada dinikahan aku dulu, yang nyumbang dua puluh juta, tapi kan aku balikin cuma dua juta, apalagi pas itu aku belum punya uang lebih. Hanya cukup buat aku sama Anggia saja. Jadi yah, sudahlah."


"Mas ... daripada kepikiran aku nyumbang berapa trus di balikin berapa, mending nggak usah aja deh. Nggak nerima uang sumbangan atau kado bahkan parcel perawatan atau apalah pokoknya. Kita bener-bener los aja. Seneng-seneng ngerayain resepsi kita. Gimana?" Mayang merasa ide ini brilian. Di kota ini yang mengadakan pesta besar dengan tidak menerima sumbangan baru beberapa. Dan Mayang akan jadi yang selanjutnya.


"Ehm, boleh. Itu malah bikin kita nggak sibuk sama panitia dan malamnya kita bisa lembur sampai pagi. Kadang yang bikin mood bercinta ambyar ya, gara-gara kepikiran isi kado dan jumlah uang sumbangan." Gian sepakat. Ini termasuk jalan terbaik. Bagi pikiran Mayang dan bagi niat Gian yang akan menghamili Mayang setelah resepsi terjadi.

__ADS_1


"Halah, larinya ke situ lagi. Bosen bahas itu mulu, Mas!" Mayang berpaling. Tetapi nyatanya, senyum malu itu dilihat Gian dengan jelas. Bahkan pipi merah itu Gian juga tau walau disembunyikan pakai telapak tangan sekalipun.


"Asal prakteknya enggak bosan, sih, nggak papa bosan sama bahasannya." Gian mencubit lembut pinggang Mayang, hingga alih-alih menimbulkan rasa sakit, justru rasa geli yang datang.


"Udah ih, Mas ... geli tauk!" Mayang merengut dengan tangan berusaha mendorong tangan Gian menjauh.


"Abis resepsi kita ke mana gitu, Mai ... Kita ambil waktu buat berdua saja tanpa gangguan." Gian membelokkan mobil ke arah rumah teman Mayang yang selanjutnya, sesuai rencana.


"Mas ... kok kemari?" Mayang protes, karena undangan yang mereka bawa tidak ada keterangan tambahan soal tidak menerima sumbangan, jadi Mayang pikir sebaiknya mereka pulang dan buat ulang undangan yang sudah tercetak. "Kita pulang aja, Mas ...."


"Ih, barusan bilang bosan, kok udah ngajakin pulang aja. Kangen sama unyu, ya?" goda Gian yang membuat Mayang langsung kesal dan menyerangnya dengan cubitan manja yang menyenangkan. Gian suka keceriaan yang tercipta dengan sentuhan dan candaan yang mendekatkan hati mereka.


*


*


*

__ADS_1


Besok pengumuman Give away, yah😄


__ADS_2