
"Udah, Rul!" Djarot akhirnya merebut cup yang berisi gulungan es berasal dari susu dan buah naga itu dengan gesit. Dia tidak mau Rully terkena flu hanya karena kebanyakan makan es krim.
"Mas ... aku masih pengen." Rully merengek, menggapai cup tersebut. Matanya mengerjab-ngerjab, memohon agar Djarot melepaskan tangannya dari cup tersebut.
Djarot membuang napas, lalu memperingati Rully. "Ini yang terakhir!"
Senyum Rully langsung muncul dengan lebarnya ketika Djarot melepaskan cup tersebut. Kemudian Rully melahap tanpa sisa cup ke 7 yang merupakan cup paling besar dan special.
Djarot meninggalkan Rully untuk membayar semua es bejek—Djarot lebih suka menyebutnya demikian, yang dihabiskan Rully. Dia sendiri sama sekali tidak pesan, hanya sesekali makan dari suapan Rully yang sangat memaksa. Badannya saja rasanya sudah meriang, kok, masih mau makan yang dingin-dingin.
Djarot meletakkan dompet di saku celana, saat kembali ke meja Rully. "Bapak sama Ibuk udah nungguin di rumah. Udah nanyain sampai dimana!"
Rully berdiri dengan mulut penuh dengan sendok berlumur warna merah dari buah naga. Dia melenggang puas, mendahului Djarot.
Setibanya di depan pintu mobil, Rully menoleh, membiarkan sisa es krim yang manis dan lengket itu melumuri bibirnya. Rully mendekat, menyasar bibir Djarot yang tampak kering.
"Love you, Mamasku," ucap Rully saat ciuman telah dilepaskan.
Djarot membeliak, syok, terkejut, sampai dia tidak bisa bergerak. Kemudian, perutnya bergolak saat merasakan aroma manis dan rasa lengket memenuhi bibir sedikit masuk ke rongga mulut.
"Huek ...!" Djarot mencoba muntah, tapi tidak bisa. Itu belum cukup untuk membuat isi lambungnya keluar walau dia sudah merasakan gelombang dahsyat di sana.
"Kamu nggilani, Rul!" Djarot mengumpat, lalu menyeka mulutnya. Mata Djarot berair saking rasa mual yang membuatnya tidak nyaman ini menyiksanya.
__ADS_1
Rully awalnya terkejut, tetapi ketika Djarot masih mampu mengumpat, dia percaya suaminya masih baik-baik saja. Menjilat itu saja dia sanggup kok, ini yang rasanya manis dan enak begini malah nggak mau, kan aneh? Rasanya enakan di sana, ya? Dasar lelaki.
Rully kembali menikmati es krim dengan cara yang tidak biasa.
Djarot kembali mual melihat mulut Rully penuh dengan es krim merah. Baginya itu sedikit menjijikkan, tapi dia menahan perutnya yang bergolak demi menjaga perasaan Rully. Dia takut, Rully salah paham.
Mereka segera meluncur ke rumah yang tidak lebih dari satu kilo meter lagi jaraknya.
Yah, Rustina—meski hanya melalui Djarot, merengek agar sesekali mereka mau pulang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka kemari, kan?
"Kok lama banget di jalannya?" Rustina bertanya dengan senyum lebar saat Djarot dan Rully menyalaminya. Meski masih tersisa rasa canggung di gesture Rustina, tapi dia cukup luwes menyambut Rully.
"Tadi beli es krim di depan." Djarot menjawab pelan dan lemas, tapi ketika Rustina mengerutkan kening, Rully segera bersembunyi di belakang Djarot. Dia malu karena terkesan seperti anak kecil.
Rustina mengangguk, meski heran. Yah, Rully bisa bersikap semaunya kan? Anak lelaki Rustina cinta setengah mati pada Rully walau Rully bertingkah kaya bocah sekalipun. Lihat saja itu, Djarot malah senyum-senyum sendiri melihat Rully yang berjalan riang ke kamar.
"Bapak belum pulang, Bu? Ibuk sehat kan? Maaf kalau aku baru bisa pulang, kerjaan lagi penuh-penuhnya." Djarot mengalihkan perhatian ibunya, dia takut kalau tingkah Rully akan membuat ibunya tidak suka. Ujung-ujungnya, Rully diomeli. Djarot tak ber-Daia, kalau harus mendengar keluhan ibunya yang super cerewet ini.
"Udah di jalan, Ngga ...." Rustina masih lekat menatap putra satu-satunya ini. "Kamu pucat? Sakit? Kalau sakit kok dipaksa nyetir sendiri, sih? Kan ada Roni?"
"Rully tiba-tiba ingin kemari, Buk ... Bukannya Ibuk harusnya seneng? Aku bahkan belum bilang ke dia untuk pulang kemari, loh."
"Ya, tapi lihat-lihat kondisi kamu lah, Ngga ... kan bisa Ibuk yang kesana. Gantian gitu." Rustina agak khawatir. Djarot kelihatan sekali sangat lelah, mungkin Si dia lama sekali sejak Djarot terakhir kali mengalami sakit.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa, kok, Buk. Mungkin kurang tidur aja. Apalagi Mayang baru saja lahiran." Djarot mengelak. Dia tidak mau ibunya khawatir akan kondisinya.
Djarot kembali ke luar untuk mengambil tas Rully, tas yang kecil dan isinya hanya muat hape, lalu memandangnya di lengan kiri.
Rustina menganga. Anaknya sebegitu itu sama Rully. Dia jadi sedikit iri. Rully benar-benar jadi ratu di tangan anak lelakinya.
Murdyo baru saja tiba lalu dia bergegas masuk. Tanpa salam dia langsung menyergap Rustina dan Djarot yang masih di ruang depan.
"Udah ada kabar baik apa belum, Ngga? Udah lama loh? Kok kamu nggak tokcer sih, Ngga? Apa sengaja di irit-irit biar bisa pacaran dulu?"
Rahang Rustina jatuh dua kali sampai dia menganga lebar. "Bapak! Apa-apaan sih. bicara begitu sama anak sendiri? Nggak malu apa sama seragam? Sama isi tas yang isinya APBD? Astaga, Bapak ... malu! Kaya paling bisa aja bikin anak!"
"Kalau Bapak terbukti, bisa bikin 4!" Murdyo tertawa-tawa lalu menepuk pundak anaknya. "Kalau turun dari Bapak, biasanya yang ngidam Bapak, apalagi kalau anaknya perempuan. 3 adikmu itu Bapak yang mual-mual."
Djarot kali ini tidak bisa berword-word. "Mual-mual gitu, Pak?"
"Iya ...." Murdyo mengangguk. "Kamu kenapa sih, Nak?"
"Aku mual udah sebulan lebih, Pak. Aku sampai jijik kalau lihat Rully. Makanya aku biarkan dia bantu ngurus anaknya Mayang."
Rustina dan Murdyo saling pandang. Lalu tersenyum cerah saat menatap Djarot.
"Ayo ke dokter kandungan!"
__ADS_1