Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Jangan Ajak Dia Makan


__ADS_3

Resepsi Gian dan Mayang sudah diambang mata. Hari ini dia akan fitting gaun yang akan dipakai untuk acara tersebut.


Hari ini sebelum ke butik tempat Gian memesan gaun untuk Mayang, mereka mampir ke rumah Rully, sejauh ini mereka belum memberi tahu Rully soal resepsi ini.


"Loh, Mas ... itu mobil Pak Djarot kok ada di depan rumah Mbak Rully, ya?" Ketika mereka sampai di depan rumah Rully, mobil pengacara Mayang itu terparkir di car port yang biasa digunakan Rully untuk memarkir mobilnya.


Gian sedari tadi juga memperhatikan, rasa herannya telah diwakili Mayang, sehingga Gian hanya mengangkat bahu sebagai tanggapan.


"Kita masuk saja, agar tahu jawabannya, Mai ... mungkin Mbak Rully mau beli sesuatu atau terlibat sengketa tanah." Gian segera turun.


Mayang berjalan mendahului Gian, lalu masuk begitu saja tanpa memberi salam.


"Bu Mayang?" Djarot berdiri saking terkejutnya melihat Mayang masuk. Sementara Rully hanya menanggapi Mayang biasa saja, malah terkesan menghindari.


"Kakak saya ada masalah apa, Pak?" tanya Mayang mengabaikan segalanya. "Sampai manggil Bapak?"


"Kamu apa-apaan, sih, May?" Rully berdiri agak sewot. Padahal Mayang sedang khawatir dengannya, bukan bermaksud mencampuri urusan Rully atau menuduh Rully yang tidak-tidak.


Gian muncul di depan pintu ikut nimbrung begitu saja. Dia hanya diam dan memperhatikan interaksi orang-orang di dalam. Gian pikir, ketiga orang ini salah paham satu sama lain, tetapi Gian enggan meluruskan. Dua wanita ini bisa saja tidak mau peduli apa katanya jika sedang dalam emosi tempo tinggi.

__ADS_1


"Kok malah aku yang ditanyain? Kan Mbak Rully yang panggil Pak Djarot kemari, yang ada apa-apa pasti Mbak lah, masa iya, aku?" tanggapan Mayang sesuai dengan pernyataan Rully yang seakan mengatakan dia salah bertanya.


"Memangnya harus ada apa-apa biar pengacara datang ke rumahmu?" serang Rully.


"Kalau aku iya lah, kecuali kalau Mbak sama Pak Djarot pacaran itu baru tidak apa-apa." Mayang sebenarnya tidak marah, hanya kesal saja pas Rully sengak sekali menukasnya, kini dia balik mengerjai kakaknya itu.


"Ngawur kamu!" bentak Rully dengan wajah merah padam.


"Nah, kalau gitu benar kan, Mbak Rully ada urusan dengan hukum? Apa Mbak? Mbak ada masalah sengketa? Tanah atau penipuan?" Mayang mencecar sampai Rully kesal sendiri.


"Ngawur kalau ngomong!" Rully mendengus dan membuang muka dari Mayang yang sejak punya suami baru menjadi sangat kurang ajar padanya.


"Baru juga seru-serunya." Mayang melanjutkan dalam hati, lalu ia membuang napas pelan sebagai jawaban.


"Maaf sebelumnya, Bu Mayang ... saya kemari karena saya ingin mengajak Dek Rully makan siang bareng." Djarot terdengar lembut dan lain dari yang Mayang lihat dari beberapa waktu lalu. Apa cinta benar bisa membuat pria galak jadi lembek?


"Jadi Dek Rully sudah makan, makanya saya di sini saja sambil nungguin makanan yang saya pesan datang." Pria itu tampak malu-malu.


"Oh, gitu?" Mayang manggut-manggut. Mata Mayang mengerling Rully, bagus juga nanti kerjain kakaknya ini. "Pak, maaf sebelumnya. Tapi Mbak Rully ndak suka makan karena jaga badan biar ndak kaya saya. Kalau mau ambil hati Mbak—"

__ADS_1


"Mayang, jangan lancang kamu, ya!" Rully membeliak galak. Langkahnya teratur lebar mendekati Mayang dan mencubit lengan Mayang dengan keras.


Mayang pura-pura takut dan menutup mulutnya, mengabaikan sakit di lengannya. Mata Rully yang mengancam malah membuat Mayang tertantang. "Oke, aku berhenti!"


Ketegangan mereka reda saat Rully duduk kembali. Wanita itu duduk dengan kaki tersilang dan bersedekap. Sungguh cantik memang Rully ini, hanya dia terlalu keras hati jika sudah menentukan pilihan.


"Saya cuma mau bilang, kalau saya akan ke butik buat fitting baju resepsi. Kalau mau, Pak Djarot boleh tuh ajak calon istri ke sana juga. Kali aja bisa cepat-cepat nikah." Mayang segera menempel ke Gian agar tidak diomeli Rully.


Rully kembali membeliak, tetapi dia tidak seagresif tadi. Mungkin dia lelah marah-marah terus. Tampaknya, Rully ini tidak suka dengan kehadiran Djarot.


Mayang tak menyerah, ia kembali berulah. "Pak, sebaiknya dipikir lagi, apa pantas wanita galak dan kasar macam dia jadi istri Bapak? Nanti harta Bapak habis buat belanja loh ... hilang predikat pengacara terkaya di sini. Dia kan hobi belanja dan perawatan, Pak ... makanya kalau di ajak makan dia ndak mau."


"Mayang!" Rully berteriak sampai tubuhnya kembali berdiri.


Mayang bersembunyi di belakang Gian yang tersenyum melihat kejahilan istrinya. Ada-ada saja tingkah Tom and Jerry versi manusia berwujud wanita ini.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2