
Siapa bilang punya bayi itu mudah? Hanya orang yang dianugerahi kesabaran luas yang mampu berkata demikian. Boleh teorinya kayak iya-iya saja, tapi prakteknya, tentu tidak sama sekali.
Manusia punya ambang batas lelah dan menerima konsekuensi sebuah perbuatan. Mereka yang lemah akan menyerah pada kata depresi, tetapi yang tabah akan terus berjuang melawan dan menyesuaikan diri.
Mayang juga demikian. Emosinya terkadang menjadi tidak stabil bila melihat bayinya menangis. Dia menjadi tidak sabar saat perawat NICU tidak segera menenangkan bayinya yang terus menjerit hingga seluruh tubuhnya memerah.
Mayang menjadi emosional dan kesal. Lalu kemudian dia menyesal dan menangis. Fase ini sungguh menguras tenaga. Gian bahkan sampai kehilangan berat badan cukup banyak karena ini.
Hari demi hari, Gian hadapi dengan tabah. Walau tidak jarang Mayang tampak gembira. Tetapi ujian selalu datang di saat yang tidak tepat. Misal saat Gian harus pulang untuk bekerja. Dia kadang harus berangkat dari rumah sakit jam 3 pagi, lalu menempuh 4 jam perjalanan, bekerja, lalu ketika belum sempat meregangkan punggung dia harus kembali demi si buah hati. Gian sampai di rumah sakit tengah malam, tidur satu jam, lalu berangkat lagi.
Mayang memang tidak meminta Gian datang, tetapi tangis Mayang saat bercerita, membuat Gian harus siapkan bahu dan ucapan penuh kasih sayang demi mendukung istrinya itu. Siap tetapi mereka butuh penyesuaian. Sebab menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya. Semua dipelajari saat mereka memiliki anak.
Beruntung User 1234 bisa pulang lebih awal dari jadwal yang diperkirakan. Bayi-bayi itu tumbuh dengan cepat dan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Dalam 25 hari, mereka sudah diboyong pulang ke rumah.
Dan hari ke 36, mereka mengadakan syukuran. Ya ampun, sangat terlambat, untuk sekadar melakukan upacara pemberian nama, tetapi Gian tidak ambil peduli. Kesehatan User 1234 jauh lebih penting dari semua upacara dan tradisi yang ada.
Lagi-lagi, Rully yang begitu antusias momong bayi-bayi itu. Menyebut dirinya Mami, Rully setiap pagi seperti nyonya besar yang berkuasa memerintah dan mengarahkan pengurus bayi-bayi itu.
Rambutnya berantakan di ikat cepol, memakai celana kodok yang talinya sering melorot, kaos putih ketat yang membuat lekuk dada dan juga pusatnya terlihat, adalah penampilan teranyar wanita muda itu ketika mengomandoi pengurusan bayi Gian.
Rully bersemangat sekali melakukannya. Mayang secara official hanya menjadi wanita yang melahirkan dan menyusui. Semua diambil alih Rully.
"Sebaiknya kita punya bayi sendiri saja, Mami." Djarot menyusupkan satu tangannya yang kekar ke pinggang Rully, merambat sampai ke dada. Meremasnya begitu kuat lalu di susul tangan satunya yang langsung menyasar sesuatu diantara dua kakinya.
Rully jelas mabuk kepayang dibuatnya. Dengan gerakan menggoda, Rully menyandarkan kepala di dada Djarot, membiarkan bibir pria itu menikmati lehernya.
__ADS_1
"Kita akan buat satu sebagai percobaan awal, Mas."
Djarot tidak bisa tidak tertawa mendengar itu. "Aku udah dp beberapa bulan, jadi tidak bisakah Gian membantu kita langsung punya 10? Kamu terlihat seksi jika berkeringat dan beraroma asi seperti ini."
Rully melenguh pelan, otaknya tidak mampu berpikir karena ulah nakal Djarot. Djarot meremas dan melakukan gerakan memutar yang seirama di sana dan situ. Kepala Rully menggeleng saking frustasinya menghalau kenikmatan yang perlahan menyerang.
"Jangan di sini." Rully langsung sadar. Ini adalah kamar bayi yang baru saja selesai didekor untuk acara besok pagi. Pengasuh bayi sedang bergantian makan dan membersihkan diri. Rully yang meminta mereka rehat selagi ke empat bocah itu terlelap.
Jujur saja dia takut kalau salah satu pengasuh masuk saat keadaan dirinya kacau.
"Aku selalu berisik." Rully menjauh seraya melepaskan tangan Djarot dari bagian tubuhnya. "Tunggu aku lima menit lagi, ya, Tuan Tampan dan Tangguh."
Tentu itu bukan untuk Djarot tapi sesuatu milik Djarot yang digilai Rully.
"Lebih dari lima menit, kamu tidak akan tidur malam ini." Djarot memperingati, lalu tanpa menunggu respons Rully, Djarot meninggalkan kamar bayi setelah mengerling mereka berempat penuh kasih sayang.
Dia hanya berani melihat tanpa berani memegang. Mereka terlalu lembut dan kecil untuk tangannya yang besar dan keras.
"Sudah pulang, Mas?" Mayang muncul di balik pintu, berpapasan dengan Djarot yang keluar.
"Iya ... lagi nengokin Maminya bayi yang seharian nggak balas pesanku." Djarot tersenyum sebelum memberi kode pada Mayang bahwa dia harus mandi.
Mayang tersenyum kecil, lalu mengangguk. Dia paham benar betapa maniak dan bucinnya mereka berdua, jadi dia tidak berkata apa-apa.
Mayang datang dengan empat botol berisi asi perah. Kurang setengah jam lagi, ke empat bayinya harus menyusu lagi. Berat badan mereka naik mulai 900 gram sampai 980 gram. Cukup baik walau masih kurang sedikit lagi agar sedikit seperti bayi normal.
__ADS_1
Namun Mayang senang, usahanya membuahkan hasil. Setidaknya, mereka tidak dipisahkan kaca lagi, dan kalau menangis, Mayang sendiri bisa memeluknya.
"Mbak yakin nggak pengen punya sendiri?" Mayang membuka obrolan saat dirasa Rully masih kikuk karena sibuk memadamkan gairah.
"Gian belum mau memberiku konsultasi program kehamilan." Rully merengut.
"Kalian baru beberapa bulan menikah. Promil tidak terlalu dibutuhkan untuk sekarang." Gian muncul entah dari mana dan itu membuat Rully gelagapan. Barusan dia memfitnah adik iparnya dengan kejam.
"Aku butuh bimbingan, Suhu!" Rully berdalih, lalu bersiap meninggalkan kamar bayi.
"Tidak perlu juga." Gian menatap Rully dengan senyum anehnya. Mayang sampai bingung menanggapi, jadi dia diam saja sambil memegangi tangan salah satu bayi lelakinya.
Gian mengerling licik. "Ngaku saja, kalau kalian sering tidak tidur, curi-curi waktu untuk bercinta. Kalian nyaris tidak bisa pisah sekadar membiarkan kesempatan spèrmaà membuahi sel telùr."
Rully merengut semakin dalam saat Gian terkekeh. Pria itu tahu sesuatu yang agaknya memalukan. Apalagi kalau bukan suara yang dihasilkan saat mereka bercinta. Rumah ini hanya kamar Mayang saja yang kedap suara, lainnya tidak.
"Dasar dokter tukang nguping!" Rully tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah merah sebadan-badan. Gian keterlaluan.
Wanita seumuran Gian itu setengah berlari meninggalkan kamar bayi, menuju kamarnya sendiri.
"Lima menit tujuh belas detik!" Djarot berkata dari sisi ranjang. Pria itu belum berpakaian setelah mandi. Dada dan perutnya yang berbuku-buku membuat Rully langsung linglung.
"Kamu sengaja terlambat agar tidak tidur malam ini, kan?" Djarot menanggalkan satu-satunya penutup tubuhnya, lalu berjalan dramatis menuju Rully yang bersandar di pintu.
"Yah, mau bagaimana lagi. Terlambat atau tidak, aku selalu berakhir sama di kamu, Mas." Rully pasrah. Dia bisa apa memangnya? Mungkin Djarot sudah mempersiapkan diri untuk menggempurnya malam ini setelah hampir sebulan tidak melakukannya dengan benar.
__ADS_1