Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Di Buang Sayang


__ADS_3

Lea merasakan tulang di tubuhnya serasa lepas dari persendian. Seharian bekerja membuatnya lelah bukan main. Si gila Mayang bahkan sudah menyita motornya, entah kapan dan bagaimana wanita itu melakukannya. Pagi ini dia kelabakan karena kesiangan, lalu masih harus pulang paling akhir—bersamaan dengan Mayang yang menenteng uang setoran, naik angkutan umum, berdesakan pula. Astaga, calon orang kaya, ini menggerutu selama melangkahkan kakinya menuju kos.


"Mas Ferdi harus tahu kalau Mayang pulang bawa uang banyak. Lagian dia masih aman-aman aja, sedangkan aku disiksa kaya begini." Lea menciumi lengannya yang bau sekali. Campuran amis, cairan pembersih, bau asap, keringat, dan parfumnya sendiri yang secara berkala ia aplikasikan bila dirasa tubuhnya terlalu bau.


Mata Lea kembali terpaku pada seragam karyawan ini. Seragam yang benar-benar menjatuhkan martabat dirinya. Bagaimana bisa dia sendiri yang merencanakan bentuk dan rupa seragam ini agar benar-benar menunjukkan kelas rendahan, akhirnya dia juga ikut memakainya. Bagaimana dia bisa lupa senyum liciknya saat tangan kecil ini memilih kain paling murah dan tidak ada peminatnya? Lea sendiri yang memilih kain berdebu dan tampak usang ini ketika akan dimasukkan kembali ke gudang oleh penjual kain. Harga murah ia dapat. Keuntungan yang masuk kantongnya lebih banyak.


"Hah!" Lea mendesah, "Uang itu juga lenyap. Amblas tak bersisa. Mayang edan!" umpatnya seraya menendang udara kosong di depannya.


"Kapan kamu matinya, Yang?!" geramnya putus asa. Saat ini adalah saat paling berat dalam hidup Lea dan dia merasa sendirian. Ferdi bahkan tidak menghubunginya seharian. Lea menimbang sejenak, apa dia akan menelpon Ferdi sekarang atau tidak. Agak bahaya, Ferdi mungkin sudah bersama Mayang. Dia belum ingin ketahuan. Bisa jadi juga, pujaan hatinya itu dalam pengawasan Mayang. Lea memilih hati-hati.


"Nanti saja aku akan bilang Mas Ferdi agar ambil uang si gembrot itu. Mending sekarang aku cepat-cepat mandi dan menyambut suamiku yang tampan itu, biar Mayang makin jerit-jerit dan jadi gila kalau tau aku yang puaskan suaminya." Lea mempercepat langkah agar lekas sampai di kosnya.


"Letakkan disana saja, biar ndak kehujanan dan ngalangi jalan."


"Ya, itu di sana saja. Pokoknya jangan di jalan, biar nanti yang mau nempatin ndak kesususahan bawa barangnya masuk. Semoga si Lea cepat sampai, jadi barang-barangnya ini, ndak nyakitin mata."

__ADS_1


Lea melebarkan mata melihat barang menumpuk di depan kamar kosnya. Iya, barang itu sebagian berantakan, menyembul keluar, dan hanya ditempatkan seadanya. Hei, siapa itu yang berani memegang barang-barang mahal Lea? Ulah tangan kotor siapa?


"Buk Tari ... kenapa barang-barang saya ditaruh di luar?" Lea menghambur nanar ke arah tumpukan barang yang amburadul, menubruk gundukan yang paling dekat, dan menatap Lestari kebingungan. "Saya udah bayar sampai akhir bulan kan, Buk? Kok bisa saya diginiin?"


"Yang bayar, kan Bu Mayang, Le ... kamu ini hanya nempatin," cibir Lestari dengan bibir meliuk penuh ejekan. "Kalau udah ndak diperpanjang, ya maaf ... saya ndak mau rugi dengan nampung orang kaya kamu." Lestari santai menanggapi keterkejutan Lea.


"Maksud Buk Tari apa?" Lea seperti terhantam kesadarannya saat bertanya. Ya, tentu saja, Mayang pasti yang telah melakukannya. "Saya bisa bayar untuk bulan depan, Buk ... tanggal 1 nanti akan saya bayar. Buk Tari tidak bisa dong, seenaknya kaya gini karena udah dilunasi untuk sewa bulan ini? Curang itu namanya, Buk!"


Lestari tersenyum ringan. "Ya, gimana, ya Lea ... saya sendiri ragu kamu bisa bayar kamar ini, tapi kalau kamu mau, kamu pindah ke kamar yang biasa saja. Yang bisa kamu jangkau harganya. Sebulan seratus ribuan itu bisa lah ya kamu sewa, atau yang khusus anak-anak sekolah, yang lima puluh ribuan. Lebih hemat kan, Le ... yang penting bisa buat neduh, kalau kamu ndak punya tujuan. Kamar ini soalnya akan ditempati orang lain yang mampu bayar."


"Ya, itu hanya saran saja. Kalau ndak mau, ya, ndak apa-apa. Kamar saya selalu ada peminatnya kok." Lestari enteng menanggapi Lea. "Kamu tahu harus kemana kalau berminat, ya, Le ... saya banyak urusan untuk sekarang." Lestari tersenyum kecil dan berbalik meninggalkan Lea yang gemetaran.


"Buk ... Buk Tari ngga bisa gini, dong, sama saya!" rengek Lea sedikit memburu Lestari yang berjalan cepat meninggalkan area ini. "Buk, saya akan bayar, Buk! Biarkan saya masuk lagi."


Lestari mengabaikan teriakan Lea. Kemarin, Lestari akhirnya memperjelas pada Mayang apa yang terjadi sebenarnya, agar dia punya alasan kuat mendepak Lea dari jajaran penghuni kos kesayangannya. Mayang yang sudah mampu menguasai diri, akhirnya mengatakan pada Lestari bahwa Lea telah mencuri uangnya. Lestari tidak menyangka memang, akan tetapi dia juga tidak terlampau terkejut. Selama ini, Lestari agak heran saja dengan sikap Lea yang sok dan hedon. Suka berfoya-foya, kumpul dengan anak-anak orang kaya, perhiasannya bergonta-ganti, pakaiannya mahal, dan Lea memang jauh lebih glamor ketimbang Mayang yang terkesan sederhana.

__ADS_1


Yah, Lestari tidak menyalahkan penampilan Lea karena usianya masih muda, lajang, dan difasilitasi, sedangkan Mayang yang jauh lebih dewasa tentu sudah punya orientasi yang matang. Seusia dan sekaya Mayang, tentu investasi lebih menggiurkan ketimbang menghabiskan uang secara tidak jelas seperti Lea. Akan tetapi, kapasitas Lea yang hanya bawahan, harusnya sikapnya lebih membumi dan bijak mengatur uangnya. Masa depan itu gelap dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada detik berikutnya kehidupan kita. Jadi berhati-hati itu perlu.


Lea kebingungan, tatapan gamangnya terarah pada pria-pria yang masih berada di sana. "Pak, tolong, Pak ... saya harus masuk kembali. Biarkan saya tinggal di sini. Saya—"


"Kami hanya pekerja, Mbak ... kami tidak punya hak apa-apa," sahut pria itu seraya mengunci pintu dan meninggalkan Lea yang mulai menangis.


"Mayang, awas kamu! Akan kurampok kamu sampai habis, akan kurebut semua yang kamu punya sampai tak bersisa!"


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2