
Mayang melemparkan kertas yang ia minta pada Rully ke dalam tong sampah yang tengah menyala penuh api. Dia tidak membutuhkan itu semua sekarang. Dia telah bebas sampai pengacara di dapatkan dan mendaftarkan gugatan.
"Mayang!"
Mayang terkejut dan menoleh. Rupanya Marini menyusulnya sampai ke Tiga Dara. Mungkin wanita itu telah tahu apa yang terjadi, sehingga wajahhnya merah padam dan tampak pias.
Mayang tersenyum. Dia sudah mencoba ingin mengatakan pada Marini baik-baik, tetapi wanita itu bahkan ngeyel tidak mau mendengarkannya.
Langkah Marini terayun lebar ke arah Mayang. Bisa-bisanya Mayang tersenyum tanpa dosa seperti itu setelah membohongi keluarganya. Kurang baik apa dia selama ini pada Mayang.
"Ibuk kesini pasti mau nanya kenapa aku pergi dari rumah dan membohongi kalian soal Arumndalu, bukan?" Mayang to the point dan tampak tak terganggu melihat kemarahan Marini. Mayang sudah siap, entah sekarang atau nanti.
"Berani sekali kamu, ya, Yang ... bohongin kami yang sudah percaya dan memberikan uang sama kamu? Kenapa Yang? Kamu kurang kaya kah? Tega sekali kamu sama Ibuk sampai Ibuk jual sawah segala? Kamu berdosa besar, Yang, besar sekali. Jahat kamu Mayang!"
Mayang menghela napas. Kemarahan Marini sama sekali tak membuat nyali Mayang ciut. Ucapan barusan malah mirip sebuah kekecewaan pada diri sendiri yang terlampau mudah diperdaya karena sesuatu yang menyilaukan. Mereka pendek pikiran.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam, Yang? Kamu—" Marini merangsek ke depan Mayang, mencengkeram tubuh Mayang dan mengguncangnya, meski tidak terlalu memberikan efek cukup mengancam.
"... kamu jahat, kamu iblis, kamu kurang ajar, mantu ndak tahu balas budi, kamu jahat, Mayang!"
Mayang menangkap kedua lenggan Marini agar berhenti, pekikan Marini sungguh membuat telinga Mayang sakit.
"Hentikan Ibuk!" Mayang menjauhkan tubuh tua Marini, lalu menghadapinya dengan tajam.
"Tanyakan sama anak Ibuk yang baik itu, kenapa saya sampai tega membohonginya! Apa Ibuk ndak ingat, aku sudah melarang Ibuk menjual tanah dan sawah, tetapi Ibuk abaikan, bukan? Jadi apa itu salah saya? Ibuk yang dari dulu ndak mau dengar omongan orang, Ibuk sibuk dan silau jika berhubungan dengan ambisi Ibuk. Lagian, kalau warisan Ibuk di jual, uangnya masih ada sama Ibuk, kenapa jadi saya yang Ibuk salahkan?"
Marini menelan napasnya dalam-dalam. Ya, kata Mayang benar. Dia yang mengabaikan.
Marini menggeleng tak percaya. "Kamu pembohong, Yang ... Ferdi ndak mungkin melakukan sesuatu yang rendah dan hina sepeti itu!"
"Kenapa tidak, Buk ... kalau menikah denganku saja tujuan anak Ibuk dan Ibuk sudah ndak baik. Kalian hanya mau menguasai harta yang aku punya. Dan bagaimana mencuri menjadi sesuatu yang paling rendah dan hina, sementara Mas Ferdi bahkan telah melakukan sesuatu yang menjijikkan. Di depan mata kepala saya sendiri, Buk! Anak Ibuk ndak lebih menjijikkan dari makhluk hina di muka bumi ini, Buk ... dan Ibuk tahu, Mas Ferdi melakukannya dalam keadaan sadar saat mencurangi saya!"
__ADS_1
Habis sudah batas kesabaran Mayang. Sore ini, ia lampiaskan semuanya. Meski ini tidak seharusnya, tetapi apa mau dikata. Marinu harus mendapatkan pencerahan agar mau mengoreksi sifat buruk keluarganya yang mungkin sebenarnya telah mendarahdaging dan menjadi sesuatu yang biasa ketika melakukannya. Seakan semua itu tidaklah menjadi masalah besar bila dilakukan.
"Ibuk pasti paham kemana arah omongan Mayang, kan? Ibu tahu kalau Mas Ferdi selingkuh dengan Lea, tetapi saya ... dengan mata kepala saya sendiri menyaksikan perbuatan hina mereka, lalu saya masih harus menutup mata seperti orang bodoh?" Mayang tak lagi berteriak. Marini tampak syok hingga terhuyung mencari sandaran mendengar semua penuturan Mayang.
"Ibuk, saya punya segalanya, saya punya pilihan. Daripada saya menjadi gila berada ditengah-tengah kalian, lebih baik saya yang mundur. Pergi dari kubangan lumpur tidak akan membuat saya menyesal, Buk ...! Saya bisa bahagia tanpa anak Ibuk!"
Mayang menyudahi pidatonya. "Sebaiknya Ibuk pulang, selagi di depan sana masih ada ojek. Saya sibuk jika harus mengantarkan Ibuk pulang."
Mayang meninggalkan Marini dan meminta salah satu karyawannya memanggil ojek untuk membawa Marini pulang. Sekalipun marah, Mayang tetap tak tega berbuat kejam pada wanita tua seperti Marini.
*
*
*
__ADS_1
*
*