
"Loh, loh, May ... kok kamu bisa sama Dokter Gian pujaan hatiku?" Rully berlari dari lantai dua, menyerbu Mayang yang pulang bersama Gian, yang mana pria itu menjadi pujaan hatinya selama ini. Gian tampak riang padahal selama ini Gian sangat cuek dan dingin pada wanita. Kenapa sama Mayang beda?
Mayang melemparkan tasnya di kursi ruang tengah, lantas berjalan cepat menuju dapur san membuka kulkas, meraih air putih dalam botol ukuran satu liter kemudian menenggaknya sampai tinggal setengah. Mayang terengah-engah.
"May ... kamu nikung cinta sejati dan cinta matiku?" Rully mencebik seolah siap menangis. "Padahal aku yang ngarep disetirin dia, kok, malah sama kamu yang dapet?"
Mayang menutup kulkas dengan keras, lalu memandang kakaknya bersungut-sungut. Rupanya air dingin tak juga membuat kemarahan Mayang reda.
"Mbak suka sama dokter psikopat kaya dia?" tanya Mayang.
"Eh, dia tampan dan cool loh, sembarangan kamu ngatain dia saiko!" Rully tak terima, lalu mendekati Mayang, meminta jawaban atas kejadian tadi. "Kamu godain dia?" Rully menajamkan tatapan matanya yang berhias bulu mata lentik dan riasan mata flawless. Rully sangat cantik, Mayang tak bisa menampik hal itu.
"Yang model begitu, Mbak Rully suka? Ambil sana!" Mayang berujar dengan garang. Rasa kesalnya pada pria itu benar-benar tak mau hilang. Mungkin Mayang harus mandi dan keramas pake bunga tujuh rupa dan dari tujuh mata air berbeda.
"Suka banget! Ketimbang modelan Ferdi yang kalem-kalem nyebelin, mending yang cuek-cuek ngangenin, kan?" Rully mencibir, "Sayang dia nggak pernah anggep aku ada." Napas Rully terbuang kasar kala sebuah kenyataan menampar dirinya. Bertegur sapa saja belum pernah, Rully keburu tak punya nyali ketika berhadapan dengan Gian yang seperti memiliki aura gelap dalam setiap tatapannya. Gian seperti benci pada wanita.
__ADS_1
"Lebih baik ndak usah dianggep lah, Mbak, sama orang kayak dia. Aku dekat sama dia aja bawaannya pengen lemparin dia ke laut. Biar dimakan hiu." Mayang merasa bahasan soal Gian ini membuat hatinya penuh dan ingin meledak. Dia segera berlalu tanpa menghiraukan lagi kakaknya yang merengut tak terima Gian dikata-katai Mayang.
"Eh, jangan ... kalaupun nggak bisa memiliki, setidaknya masih bisa dinikmati secara gratis, tanpa harus adu sikut sama istrinya. Kalau di lempar ke laut mah, kesenengan duyung dong, kejatuhan dewa." Rully menyuarakan protes, sembari terus mengikuti Mayang yang berjalan ke kamarnya di lantai tiga.
Mayang pokoknya masih kesal, dia menutup pintu kamar dengan kasar, lalu masuk ke kamar mandi dan menyalakan kran dengan keras. Mayang berteriak. Gian membuatnya frustrasi.
"Mayang, aku cinta kamu."
"Mayang, aku cinta kamu."
"Mayang, aku cinta kamu."
"May!" Rully menggedor pintu kamar mandi, "May! Kamu nggak apa-apa, kan? May!"
Mayang hanya menoleh ke pintu tanpa berniat membukanya, lalu kembali menatap cermin, diiringi suara keran yang mengeluarkan bunyi keras.
__ADS_1
"Orang ndak waras!" Mayang memutuskan Gian adalah orang gila. Baru beberapa hari berselang, Gian sudah jadi orang lain dari yang terakhir ia temui. Dari galak jadi tengil dan usil. Aneh!
"Masa nembak anak orang kaya gitu? Ya jelas ndak mau lah, orang di kasih bunga aja banyak yang ditolak." Mayang menggeleng, bibirnya menerbitkan senyum meremehkan. Gian mungkin selamanya akan diabaikan oleh wanita jika cara memperlakukan wanita seperti itu.
*
*
*
*
*
😘😘😘 selamat membaca😍 maaf, typo yah🙏
__ADS_1