Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Aku Butuh Kamu


__ADS_3

Ada suasana canggung tak biasa antara Ferdi dan Lea. Mereka makan dalam diam. Keduanya sama-sama tidak ingin memulai sebuah percakapan. Sesekali tatapan mereka bertemu, tetapi berpaling pada detik selanjutnya. Sulit sekali rasanya memulai.


"Aku tidur dulu, Mas ...." Lea berdiri dengan menarik piring yang digunakan Ferdi sebagai alas makan. Dua porsi nasi goreng yang Ferdi beli untuk mengisi perut mereka malam ini.


"Ada yang ingin aku sampaikan, Le ... duduklah dulu." Ferdi memberanikan diri.


Lea tahu ini hanya luka lain yang akan dia terima hari ini. Meski ia tidak ingin mendengar apapun dari pria yang harusnya menjadi sandaran saat Lea terpuruk seperti ini, tetapi ia menjatuhkan kembali pantatnya di lantai, tempat mereka makan lesehan.


"Tadi aku ke rumah Bapak." Ferdi menatap Lea lekat-lekat, menelisik ekspresi sendu Lea yang Ferdi anggap sebagai senjata agar Ferdi mengurungkan apapun yang hendak dikatakan. Sandiwara Lea yang biasa ia lihat jika Lea tidak mau kehilangan.


"Aku sudah memulangkanmu ke Bapak, Le ...," kata Ferdi. Terdengar kejam karena itu langsung membuat Lea terlihat lemas. Bahu dan kepala wanita itu turun dengan perlahan setelah mungkin sebelumnya dia menahan-nahan.


"Aku mau kita pisah, Le ... tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi dari hubungan ini. Selain itu, aku juga tidak bisa membawamu pada jalan yang benar. Aku bukan suami yang baik buat kamu."


Lea terengah, lalu menatap Ferdi dengan mata yang menggurat merah. "Aku akan terlihat jahat dan egois jika masih ingin bersamamu, Mas ... aku sebenarnya ingin menjadi belahan jiwamu seperti dulu. Kamu bukan suami yang buruk sebenarnya, Mas ... hanya aku yang terlalu hina untuk tetap berada di sisimu."

__ADS_1


Lea berdiri, tangannya gemetar memegang piring. "Tidak ada yang perlu dikatakan lagi, kan, Mas? Ini saja sudah cukup untuk menceraikanku, bukan?"


Ferdi mendongak dengan perasaan bingung. Lea ini kenapa sebenarnya, kenapa dia malah terdengar drama. Apa ini sandiwara Lea yang terbaru?


"Aku akan berkemas," kata Lea seraya berbalik. Ia sudah tak mampu menahan air matanya lagi. Bahunya berguncang saat dia mulai menumpahkan tangis.


"Aku yang akan pergi, Le ... kamu tetaplah disini. Meski tidak layak dikatakan nafkah dari suami, tetapi ku harap tempat ini mampu memberimu perlindungan."


Lea tidak menjawab, dia hanya mengeraskan suara air keran yang mengalir. Dia tidak mau mendengar sebaris kalimat yang hanya akan melukainya lebih dalam.


Dari belakang, Ferdi memeluk Lea. Ada rasa tidak rela, tetapi sikap Lea sungguh membuat Ferdi lelah. Sepertinya Ferdi tidak mampu lagi menghadapi Lea. Ia tidak tahu bagaimana cara bertahan dengan rasa sabar.


"Mas ... bolehkah aku memohon agar sekali saja kamu memberiku kesempatan?" isak Lea.


Ferdi terdiam dengan jantung yang berdetak tak karuan. Hatinya berdesir hangat.

__ADS_1


Lea memutar tubuhnya, membiarkan tatapannya jatuh sebatas dada Ferdi.


"Aku ingin memulainya dari awal denganmu, memulainya dengan benar." Lea memberanikan diri menatap mata Ferdi.


"Setidaknya, beri aku waktu membuktikannya padamu, aku tidak pura-pura dengan kesungguhanku."


Ferdi jelas meragukan semua ini, meski mata Lea terlihat bersungguh-sungguh. Ferdi hanya lelah dibohongi terus menerus.


Lea menunduk, ia tahu kalau Ferdi tidak pernah mau lagi memberinya kesempatan. "Aku lelah hari ini, Mas ... aku hanya ingin pulang padamu. Aku hanya ingin pulang kepada pria yang aku anggap sebagai rumah."


Ferdi menelan ludahnya susah payah. Ada sejengkal jarak yang menghangat, ada sebersit rasa yang kembali menyala. Ferdi tidak memungkiri itu. Dia hanya butuh bukti nyata dari Lea. Dia tidak mau kembali terluka.


Lea perlahan mendekatkan kepalanya ke dada Ferdi, tangannya perlahan melingkar di pinggang suaminya. "Aku butuh kamu, Mas ... lebih dari apapun di dunia."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2