Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Officialy Mrs. Gian


__ADS_3

Tugas Ferdi yang baru adalah menagih kredit pada pelanggan. Tak peduli terik matahari menyengat, dia harus berangkat. Nasib baik tugasnya kali ini adalah sebuah rumah di kawasan perumahan yang baru membangun beberapa unit rumah baru. Perumahan Cempaka Berseri begitu plakat melengkung di atas gapura besar menuju komplek itu berbunyi.


Jalan Ferdi terhalang mobil di sisi kanan dan kiri jalan juga kerumunan ibu-ibu, yang memandang sebuah rumah megah bak istana yang ramai orang di sana. Sayup ia mendengar obrolan ibu-ibu tersebut.


"Mereka kegrebek kali, itu kan ada TNI juga."


Ferdi membuka helm, berniat bertanya pada ibu-ibu itu alamat rumah yang di tuju Ferdi. Di depan ada pertigaan, Ferdi bingung harus ambil jalan yang mana.


"Janda meresahkan ya, Bu."


"Maaf, Ibu, mau nanya ... alamat ini dimana, ya, Bu?" Ferdi menunjukkan ponselnya ke ibu itu.


Seketika obrolan mereka terhenti, lalu memberi Ferdi atensi. "Oh, itu Masnya belok kanan, rumah cat biru telur bebek, tapi bukan bangunan besar kaya gini, hanya rumah biasa." Seorang ibu menjawab, seraya menunjuk-nunjuk jalan yang harus di lalui Ferdi.


"Oh, gitu, ya, Bu ... makasih, Bu informasinya." Ferdi hendak berlalu, namun matanya melihat mobil Mayang terparkir di halaman rumah itu, beberapa karyawan Mayang, dan Rully yang keluar dengan tangan penuh tas.


"Rully ...," panggil Ferdi. Yang dipanggil tampak terperanjat dan membuang muka. Bergegas Ferdi mendekati Rully yang Ferdi duga hendak menuju motornya.


"Rias manten di sini?" tanyanya seraya melongok ke dalam. Ia melihat Hadyan dan beberapa orang yang tidak ia kenal duduk di teras seraya menikmati jamuan makan.


"Ya," jawab Rully singkat.


"Mau aku bantu bawakan tasnya?" tawar Ferdi baik hati. Bisalah ambil hati Rully, siapa tahu nanti dikasih izin rujuk sama Mayang kembali.


"Nggak usah sok baik kamu!" Rully menolak dengan kasar. Rasanya dia ingin makan orang siang ini, dan kebetulan ada pelampiasan yang tepat. "Urus aja dirimu sendiri!"


Ferdi meringis melihat kepergian Rully. "Jalanku makin berat kalau mau balikan sama Mayang."


"Yang ...."


Ferdi semula melamunkan jalan rujuknya yang berat, tersentak ketika ia mendengar teriakan pria yang mengingatkannya saat memanggil Mayang. Ia menoleh dan melihat Mayang memakai pakaian pengantin bersama dokter yang memeriksa mereka dulu.

__ADS_1


"Mayang?" Ferdi kembang kempis. Satu per satu orang yang dikenali Ferdi masuk ke penglihatannya. "Jadi, Mayang sudah melupakan aku? Mayang tidak mau kembali padaku?" batin Ferdi. Kenapa dia tidak terima melihat Mayang tersenyum dan bahagia? Benarkah sebenarnya Ferdi mulai mencintai Mayang? Lalu bersama Lea? Benarkah itu hanya nafsu belaka?


Buru-buru Ferdi menurunkan kaca helm-nya, berharap orang-orang disana tak mengenalinya. Ferdi melesat pergi, membawa senyum Mayang dan rangkulan mesra dipinggang Mayang yang kian ramping yang terasa bagai belati.


Ferdi menggigit bibirnya menahan sakit. Menyesal kini ia rasakan. Entah kenapa dia dulu buta. Padahal, jika dia bisa memenangkan hati Mayang, bahkan bulan pasti Mayang berikan. Kurang apa Mayang, sampai dia tega mencurangi wanita baik hati itu?


"Kau bodoh, Fer!" gumamnya menahan perih.


Hal bodoh juga dilakukan Lea untuk membuat Mayang bangkrut. Orang yang ia suruh mengganti sayuran dan daging pesanan Mayang, sedang menemui Lea untuk menerima upah.


"Kerja sama aku enak kan? Bisa untung dua kali!" Lea mengambil uang dari laci meja kasir yang merupakan uang penjualan dagangannya yang hari ini masih ramai. Gampanglah, nanti Lea bisa menggantinya dengan uangnya yang lain.


"Iya, Bu ... makasih loh, bayarannya cocok." Pria yang merupakan sopir tembakan itu tersenyum lebar. Baginya, jaman sekarang yang penting uang, entah bagaimana caranya.


Lea tersenyum sinis melihat pria itu menghitung uang bayarannya, ditambah sayuran dan daging yang dijual kembali, lalu hasilnya diambil oleh pria itu sendiri.


"Saya pamit, Bu ... kalau ada apa-apa panggil saya lagi." Pria itu berdiri dan meninggalkan Lea yang tampak berpuas diri.


Arista menghela napas, "Tenang aja, aku udah udah simpan semua ide soal potato tornado itu, tinggal kita eksekusi, Ren ... ada yang mau join sebagai member di beberapa kecamatan. Tapi kamu harus janji, jangan sampai Salma dan Lea tahu soal ini!"


Rena menipiskan bibir sebagai tanda ia menyanggupi. Ya, Lea terlalu semena-mena dan sok ngebos baru beberapa hari usaha olahan makanan ini berjalan.


"Gengs, aku keluar sebentar dulu, ya ... nitip toko! Jagain bener-bener." Lea sumringah mengerling teman-temannya yang memakai clemek bertuliskan nama toko mereka.


Tak ada yang menyahut, mereka menatap Lea datar. Terserahlah, mau kemana.


Lea melajukan motornya membelah jalanan, rasanya tak sabar untuk melihat Mayang pusing dan bingung mengatur makanan olahan yang datang secara misterius ke rumah makannya.


Ya, memang benar Mayang pusing siang ini. Usai semua acara dadakan terlewati dengan baik, dia pusing melihat Gian kayak gerbong kereta mengikuti kemana saja kakinya melangkah. Bibir Gian yang super lincah itu terus menggumamkan kalimat ijab kabul yang terlisan selewat satu jam lalu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Mayang Jianasari binti almarhum Hendi Heriawan, dengan mas kawin alat sholat dan uang tunai sepuluh juta dibayar tunai."

__ADS_1


Mayang yang sudah melepaskan kebayanya, dan menggantinya dengan kaos longgar dan celana selutut berbalik badan mendadak, membuat Gian yang matanya jelalatan menabrak Mayang sampai terhuyung ke belakang.


"Kok berhenti nggak bilang-bilang?" Tangan Gian menyangga punggung Mayang, adegan yang membuat jantung jedag-jedug.


"Pak Gian yang ndak perhatikan jalan." Mayang bangkit dari rengkuhan Gian. Salah tingkah sampai telinganya panas.


"Pak Gian kenapa diulang-ulang terus, sih, kalimat ijabnya? Apa sekali saja belum puas tadi?"


Gian memandang Mayang penuh arti. "Yang belum puas nyiumnya, Mai ... masak udah dewasa cuma cium pipi? Anak abg aja udah main cium bibir, kok!"


"Ih, mulai deh ...," cibir Mayang kesal. Gian emang ceplas ceplos, lugas, dan jujur. Dan, memang tadi Mayang menghindar saat Gian hendak mencuri ciuman di bibirnya. Mayang malu dilihat banyak orang.


Gian terkekeh. "Bukan itu, Mai, aku bercanda." Tangan Gian mengusap belakang kepala Mayang yang masih setengah basah. "Tapi kalimat itu sangat berarti dan penuh makna buatku. Kaya lega banget, kayak seneng banget aku bisa dapetin kamu. Pokoknya istimewa deh, kamu itu buatku. Walau serba mendadak dan seadanya, tapi ini sama dengan pernikahan yang direncanakan berbulan-bulan. Tapi emang aku udah merencanakan ini berbulan-bulan kok. Nggak tahu di kamu, Mai," terang Gian panjang lebar.


Mayang membalas tatapan Gian malu-malu. "Padahal saya ini wanita biasa saja loh, Pak ... ndak kaya Mbak Saira, atau mantan Bapak yang cantik. Kenapa gitu, Bapak milih saya?"


"Ya, karena itu kamu, kalau kamu tercetak dalam bentuk Saira atau mantan saya." Gian yakin, insiden di rumah makan Mayang, Mayang melihatnya. "Saya tetap ndak mau."


"Gombal!" Mayang bisa terbang dan besar hidungnya kalau Gian terus begini. Dan tangan Gian ini nakal sekali baru satu jam sah menjadi istrinya. Mulai dari rambut dan pipi ia sentuh semua. "Tetap ndak ada malam pertama loh, Pak ... nanti ngarep lagi."


Gian menelan ludah. Mayang menipiskan bibir, sebelum berlalu meninggalkan Gian yang berdiri bagai patung.


Sudah empat tahun apa masih kurang lama puasanya?


*


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2