Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Sudah Lama Menghindarinya


__ADS_3

"Ayah!" panggil Qila dengan napas terengah, membuat perhatian semua orang tertuju pada gadis kecil itu, tak terkecuali Gian dan Mayang. Mereka saling pandang dalam kebingungan.


"Ayah, Qila ikut Ayah saja! Mama jahat!" Qila menangis dan Gian secara naluriah berlari menyambut Qila. Membawa gadis kecil itu dalam dekapannya. Bibir mungil Qila terus mengatakan mama jahat dan terisak-isak.


"Qila tenang, ya ... ada Ayah di sini. Boleh nangis tapi jangan bikin keributan. Okey ...," kata Gian di telinga Qila dan membelai lembut kepala Qila. Dari kelihatannya, Qila sangat marah dan tertekan. Sebenarnya apa yang dilakukan Anggi pada anak ini?


Perlahan Qila mulai tenang, setelah dipangku Gian di kursi pelaminan. "Qila lihat ini, ada Tante Mayang. Tante Mayang punya adek bayi yang masih di perut." Gian terpaksa mengatakan ini. Padahal dia berjanji tidak akan mengatakan apapun soal kehamilan Mayang.


Tatapan Gian penuh permohonan maaf pada Mayang yang terus menatapnya. Ia takut Mayang tidak berkenan dengan semua keadaan yang diluar kendali ini. Kedatangan Anggi, Qila, dan Asih sungguh sebuah kejutan, karena sebelumnya baik Anggi maupun Ibunya mengatakan kalau tidak bisa datang karena ada acara lain. Gian dibuat kewalahan jujur saja. Tuhan ... argh!


"Qila, sini duduk dekat Tante." Mayang menepukkan tangan pada kursi di sebelahnya, usai menghentikan sejenak tamu undangan yang hendak bersalaman. "Sini ...."


Qila lekat menatap mata Mayang, seolah sedang mencari jejak ketulusan. Qila terbiasa mendapat tatapan tajam penuh tekanan dari Mamanya, meski suara mamanya terdengar lembut penuh bujuk.


"Jangan takut, Tante ini nanti boleh Qila panggil Mama." Gian berusaha membujuk, seolah tahu kalau Mayang tampaknya juga sedang berusaha bersikap dewasa menyikapi keadaan ini. Marah pun akan Gian terima sebenarnya, karena dia telah mengacaukan resepsi yang Mayang siapkan dengan baik.


Perlahan Qila mendekati Mayang tanpa melepaskan tautan mata yang terjalin. Qila seakan takut melewatkan satu saja jejak kepalsuan di mata Mayang.


"Qila suka tidak sama adek bayi?" tanya Mayang seraya mengelus perutnya yang belum seberapa besar. "Qila tau, ada dua adek bayi di perut Tante."


Qila tersentak tak percaya. "Benar Tante?" Tangan kecil Qila menyeka hidung dan tanpa takut langsung menyentuh perut Mayang. Bibirnya berucap girang. "Dedek Bayi ... ini Kakak Qila. Kamu Queen dan King atau King semua, atau Queen semua?"

__ADS_1


"Queen semua, biar Kak Qila ada temennya dan nggak kesepian lagi." Mayang mengatakannya seperti suara bayi, dan itu membuat Qila langsung menatap Mayang.


"Tante nggak marah sama Qila?" Mata itu mengejar dan menuntut, meski ada satu gurat ketakutan di sana. Terlihat sangat penasaran seperti sudah mengendap terlalu lama. "Qila megang perut Tante dan nakal ...."


"Buat apa Tante marah? Qila kan kakaknya dedek Queen," kata Mayang tulus. "Memangnya ada yang bilang kalau Tante bakal marah sama Qila?"


"Mama ...," beo Qila polos. Ia tau kalau dia akan dilindungi di sini. Gian pasti akan melindunginya.


Mayang dan Gian saling pandang di atas tatapan Qila yang terus menatap Mayang. Sementara Asih membeku di tempat, dan Anggi langsung mengambil mic untuk memecah perhatian tamu yang melihat interaksi Mayang dan Qila. Ucapan Qila itu sangat jelas terdengar, dan ekspresi polosnya sudah bisa menunjukkan bagaimana dia diperlakukan selama ini.


Mayang segera mengambil tindakan, memutus semua kerumitan ini. Qila harus dimanfaatkan. "E ... Qila Sayang. Boleh Tante bertanya?"


"Qila adalah anak kandung mantan suami saya, Mas Gian. Jadi setelah menikah dan tinggal bersama istri barunya, Mas Gian lupa pada anaknya. Qila tidak lagi dijenguk dan diberi perhatian oleh ayahnya. Wajar Qila sekarang bersikap begitu, karena mereka cukup dekat sebelum ini. Saya kesusahan mencari Mas Gian, jadi satu-satunya kesempatan adalah resepsi ini. Kami tidak diundang, jika saja saya tidak dapat job nyanyi di sini, saya juga tidak akan tahu kalau Gian sudah menikah secara resmi."


Ruangan mendadak senyap, hanya terdengar bisik-bisik dan ekspresi sinis di sana-sini. Gian merasa percuma membela diri, ia takut akan meledak-ledak dan membuat semua jadi kacau. Anggi akan ia hadapi setelah semua ini selesai. Mayang pun juga berpikir demikian. Namun tidak dengan Qila.


"Mama bohong!" Qila menjerit di tempatnya, tetapi seketika tatapan beralih padanya. Mayang mengusap punggung Qila, agar gadis mungil itu tidak terlalu meledak-ledak. "Om Gian bukan ayah Qila. Ayah Qila itu Pak Mardian. Pak Mardian pernah bilang sama Qila!"


Dengung terkejut dan ucapan memohon ampun keluar dari mulut tamu. Mereka jelas tahu siapa pria yang disebutkan oleh Qila.


Anggi terkejut bukan main. Qila tahu dari mana nama pria tua itu?

__ADS_1


"Itu beneran Qila?" tanya Mayang pelan. "Qila nggak boleh bohong loh?"


"Itu benar Tante ... Mama terus menyuruh Qila menelpon Om Gian dan bilang Om Gian itu ayah Qila. Qila juga dikasih tau sama Nenek dan Mbak Jum, kalau Qila itu anaknya Pak Mardian. Kata Mbak Jum, Qila mirip sekali Pak Mardian—"


"Qila—cukup!" bentak Anggi yang mulai terlihat sifat aslinya. "Mayang, kamu jangan menghasut anak saya, ya ... kalau kamu nggak suka sama kami, kamu jangan mempermalukan kami seperti itu!"


Kaki Anggi kehilangan keanggunannya, melangkah lebar-lebar sampai di dekat kursi pelaminan.


"Mama jangan dekat-dekat Qila! Mama jahat!" Tangan kecil Qila memeluk pinggang Mayang, seolah mencari perlindungan.


"Qila!" bentak Anggi dengan tatapan makin murka. Dengan kasar ia menarik tangan Qila, namun dicegah oleh Gian.


"Borokmu sudah terbongkar, Anggi. Kamu sendiri yang membuka aibmu di sini! Kalau aku jadi kamu, aku akan mengakui saja semuanya, selagi Pak Mardian belum tiba di sini!"


Harusnya cengkeraman tangan Gian yang membuat Anggi meringis kesakitan ini sudah membuka mata Anggi betapa Gian tidak akan lagi bersikap peduli padanya. Sudah dari dulu bukan, Gian ini menghindarinya?


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2