Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Tinggal Putar Balik Atau Mundur


__ADS_3

Malam telah larut saat Gian dan Mayang tiba kembali di rumah. Mereka menyempatkan diri berbelanja untuk keperluan si bayi, dan juga Gian harus bertemu beberapa orang yang berkaitan dengan pembangunan rumah sakit yang Gian prakarsai.


Mayang tidur sepanjang jalan, dengan paha Gian sebagai tumpuan, sehingga saat turun, Gian mengalami kesemutan dan kesusahan meluruskan kaki.


Mayang kelewat ngantuk dan lelah saat berjalan masuk ke dalam rumah, sampai mengabaikan Gian. Disambut para pembantu yang rencananya akan ditambah lagi jadi jumlahnya 4 orang, Mayang menginstruksikan beberapa hal sebelum dirinya benar-benar menjatuhkan diri di sofa.


Hadyan juga ikut menyambut menantunya dengan senyum sumringah, lalu duduk di hadapan Mayang untuk menanyakan keadaan cucunya. Hadyan tidak bisa menahan diri lebih lama, sekadar membiarkan Mayang bernapas panjang.


Gian yang masih merasakan kakinya mati rasa, dibuat tercengang melihat kedekatan bapak dan istrinya. Bisakah seorang Gian tidak cemburu melihat mereka seperti itu? Jelas bapaknya punya kearifan yang sama sekali tidak dimiliki Gian. Dirinya terlalu sembrono, sementara bapaknya begitu telaten dan sabar. Membuat Mayang dengan senang hati menceritakan kejadian sehari ini,


Gian memaksa kakinya berjalan walau sakit. Bibir pria itu berteriak saat mereka berdua tertawa membahas hasil USG yang dicetak.


"Bapak pulang saja, ini sudah malam!" omel Gian. Mukanya begitu cemberut.


Sontak Mayang dan Hadyan menoleh ke arah jam dinding, lantas Hadyan menyentak.


"Wedan tenan kamu itu, Nang!" Hadyan memutar kepalanya menemui Gian yang kini mendusel diantara dirinya dengan Mayang.


Tatapan Hadyan masih diliputi rasa heran saat melihat tingkah Gian yang aneh.


"Apaan sih, Mas?' Mayang sepertinya tidak suka Gian mendusel tepat dihadapan sang bapak mertua. Mayang malu.


"Kamu ini geneo, sih, Le ... kok bapake diusir tengah malam begini?" Hadyan menarik bahu Gian agar Gian memandangnya. Tega sekali bocah ini, ya!


"Suaminya Mayang itu aku, Pak ... jadi Bapak jangan terlalu deket dan memberi perhatian berlebihan sama dia."


"Mas ...!" Mayang merasa ucapan Gian berlebihan dan tidak sopan. Ini Gian kenapa? Bukannya seharusnya yang mengomel adalah dia?


"Apa?" Gian menoleh, lalu menunjukkan kalau dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan.


"Mas ini sama Bapak kok begitu?"


"Begitu gimana? Bapak ini udah berlebihan, May ... atau jangan-jangan kamu suka lagi di perhatiin sama Bapak?"


Hadyan mengerutkan kening lalu tersenyum, hatinya berkata, "Kesambet setan mana, toh, Bocah ini?"

__ADS_1


Mayang menghela napas dalam-dalam, rasanya dia ingin ngeden sekarang sekalian ngamuk ke Gian.


Gian masih memaku tatapannya pada Mayang yang terlihat jengah akan tingkahnya. Apa salahnya, dia hanya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak bagus antara istri dan bapaknya.


"Mas ... kenapa Mas bisa mikir sampai ke arah sana? Padahal beliau itu bapakmu, ayah mertuaku, sementara tadi yang jelas-jelas Mas Gian menikmati pandangan Bu Dokter Hira saja aku nggak cemburu kok?"


"Apa hubungannya? Jelas aku nggak merespon sama sekali apapun tatapan Hira padaku. Itu karena menjaga perasaanmu." Gian mendebat.


"Oh, jadi kalau nggak ada aku, Mas mau menanggapi Bu Hira dan tidak mau jaga perasaanku, gitu?"


"Ya, bukan gitu juga, May. Maksudnya, aku dan dia gak ada apa-apa, kok ... lagian itu udah lama berlalu. Dan ini juga gak ada hubungannya dengan terlalu perhatiannya Bapak ke kamu. Ini nggak bisa dibandingkan!" Gian berkata dengan ketus.


"Atur saja semau kamulah, Gian! Bapak pusing dengar omelanmu yang ngelantur iku!" Hadyan berdiri, enggan mendengar lebih jauh kekonyolan anaknya yang luar biasa ini. Sama Anggi dulu nggak begini juga sih, kok, sama Mayang bisa sampai sebegitunya? Apa Mayang sebenarnya pake susuk pemikat? Sebegitunya ....


Hadyan menuju kamarnya, sementara Mayang dan Gian mengekori kepergian Hadyan dengan ekspresi masing-masing.


"Ini gara-gara kamu, sih, Mas ...," keluh Mayang seraya menabok keras lengan besar suaminya. "Kan aku ndak jadi dengar cerita awal mula munculnya lelaki galak di dunia ini."


Gian seketika mendelik dan menikam Mayang dengan tatapannya yang tajam. "Siapa yang kamu maksud galak, ha?"


Gian mendengus, "wajar nggak sih, kalau aku tuh begitu? Kan aku hanya mencegah ... itu lebih baik ketimbang aku udah kecolongan duluan?"


"Besok pasang lift, Mas ... sekalian mumpung orang yang bisa pasang lift ada di klinik kamu." Mayang mengabaikan Gian, sebab fokusnya adalah meniti tangga. Ke lantai tiga sekarang semakin berat dan lama.


Gian sejenak terdiam, antara kesal diabaikan juga memikirkan keinginan Mayang. Kelihatannya itu bukan sesuatu yang buruk juga.


Bergegas Gian menghubungi teknisi dan perancang lift yang menjadi kepercayaan mitranya, yaitu Harris Dirgantara. Idenya selintas muncul, lift diletakkan di luar ruangan berdinding kaca. Menghadap ke sisi laut juga arah matahari terbenam. Tampaknya itu romantis.


"Haih ... Mayang! Aku kan jadi pengen kalau mikirin sesuatu yang romantis begini." Gian tersenyum, seraya menunggu panggilan di jawab. Dia segera menyusul Mayang ke lantai tiga. Membantu istrinya itu menaiki tangga.


Mayang hanya berganti pakaian, dan segera merebah dengan baik di ranjang. Gian sudah siap dengan lotion untuk memijat kaki Mayang.


"Kakimu kecil juga, ya, May." Gian meraih kaki Mayang, lalu mengukurnya. "Kayaknya, cuma perut aja yang melar, tapi badanmu nggak ikut melar."


Mayang terkikik. "Mas ... berat badanku udah 80 kilo loh, ndak melar gimana?"

__ADS_1


Gian mulai menuangkan lotion di kaki Mayang, mengangkat sedikit lalu meletakkanya di atas pahanya. "Itu karena isinya 4 ditambah ketuban, plasenta yang pastinya untuk 4 orang juga. Ini kakimu kayaknya tetap langsing."


"Ah, Mas ... geli."


"Hah!" Gian semula menunduk, tetapi mendengar Mayang mendesah dan kegelian, pikirannya mendadak panas juga mulai jalan-jalan. Astaga.


"Kenapa berhenti? Lanjutin, dong ... enak banget ini Mas. Ndak nyangka tanganmu begitu mantep pas ngurut." Mayang melirik Gian dengan tatapan yang berbeda. Seperti penuh goda, tetapi sebenarnya karena keenakan diurut saja sih. Gian saja yang otaknya penuh kemesuman.


"Aku kaget pas kamu mendesah gitu ... aku pikir kamu mau ngasih aku sesuatu sebelum puasa panjang." Gian merengut, lalu melanjutkan mengurut.


"Dih, dasar isi kepalanya cuma sesuatu saja," cibir Mayang. "Aku lagi gak boleh memicu kontraksi, Mas. Dan ulah juga cairanmu itu memicu keributan di antara anak-anakmu ini. Jadi tetap main aman sampai waktu yang ditentukan, ya, Sayang ... nanti kalau abis nifas. Aku kasih dobel-dobel. Atau kalau nggak tahan, Dokter Hira pasti mau tuh di jadikan yang kedua."


Gian menaikkan wajahnya, menghentikan jarinya penuh tekanan di kaki Mayang. "Kamu udah yang kedua, May ... udah cukup aku dibuat pusing sama dua wanita, ya!"


Mayang tergelak, membiarkan Gian bersungut-sungut.


"Lagian Hira kamu dengerin. Dia sama siapapun pasti mau! Bahkan sama dokter senior juga mau ... kalau tidak bagaimana bisa dia tetap stay di sana dengan kemampuannya yang terbatas juga tidak berkembang itu, ditambah saingan dari lulusan baru sekarang lebih luar biasa. Hira itu tidak pantas kamu masukkan daftar saingan." Gian menjelaskan.


"Wah ... kalau gitu ada lagi dong selain Hira?" Mayang seketika menyeletuk.


"Ada... calon anak perempuanku." Gian meletakkan kaki Mayang lalu memeluknya erat di bahu.


"Aku lelah, boleh aku tidur duluan?"


Mayang mengangguk. "Tapi, Mas ... tadi aku bicara sesuatu sama Bu Hira. Apa itu kelewatan, ya?"


Gian menjatuhkan kepalanya di bantal. "Kalau kelewatan tinggal mundur atau putar balik. Beres deh."


Mayang terbengong. Gian memejamkan mata seraya menggunakan kedua tangannya untuk mengganjal kepala.




__ADS_1


__ADS_2