Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Maaf, Mantan Memang Indah


__ADS_3

"Kau pikir aku percaya begitu saja sama ucapan kamu itu, Le? Mataku belum rabun untuk melihat betapa kamu menginginkan anak itu mati?" Ferdi mendenguskan tawa. Lea benar-benar sudah gila. Dia yang memukul isi perutnya hingga keguguran, bagaimana bisa dia bilang itu karena Mayang?


Lea menggeleng, mengejek suaminya yang pendek pikirannya. "Mas ... coba kamu pikir kenapa aku sampai ngamuk di rumah tadi?"


Karena kamu sudah gila, Lea. Begitu masih nanya.


Sejatinya, Ferdi ingin mengatakan itu, tetapi Ferdi hanya membalas tatapan mengejek dari Lea. Terserah apa katanya, pokoknya Mayang tetaplah wanita baik yang tidak mungkin berbuat jahat pada Lea.


"Aku melakukan semua itu karena tekanan dari Mayang, Mas ... dia mengancam akan menghancurkan aku dengan uang yang dia punya. Dia akan memburuku kemanapun aku pergi, pokoknya Mayang akan terus mengejarku." Lea menjeda ucapannya, untuk menanti reaksi Ferdi. "Mayang bukan hanya ingin aku kalah, tetapi juga kamu, Mas ... dia ingin agar kamu menderita. Bayangkan saja dia membohongimu saat kalian belum cerai, kemudian dia menekanku saat tahu aku akan memiliki anak dari kamu, Mas. Coba pikir betapa jahatnya dia sama kita!"


Ferdi terdiam. Ia mencerna benar-benar apa yang barusan Lea ucapkan.


"Lagian, ya, Mas ... kamu ini aneh," sambung Lea. "Masa dibohongi di depan mata sampai ratusan juta, sampai menderita kayak begini, sampai kita tidak punya apa-apa, kamunya diam saja? Malah bucin dan minta balikan? Aneh, kan? Kecuali kalau kamu berniat merebut uang kamu kembali, tapi ... tentu ini tidak akan mudah."


Mata Ferdi menatap Lea tajam. Ya, jika bisa balikan pasti Ferdi akan meninggalkan Lea selamanya, apalagi Mayang sekarang sangat cantik paripurna. Siapa coba yang tidak mau sama Mayang? Kaya, cantik, pintar, dan baik hati. Lalu soal uang yang dicuri Mayang, Ferdi akan mengikhlaskannya, kemudian dia akan jadi suami yang setia, ayah dan kepala keluarga yang baik. Sepertinya, Mayang mengidamkan itu semua.


Tapi sudah sangat terlambat.


"Tapi akan mudah jika kita bekerja sama lagi mengelabuhi Mayang. Misalnya kamu pura-pura minta balikan sama dia, menyesal benar-benar, lalu kita ambil lagi uangnya diam-diam. Kita akan menyusupkan orang ke Selera. Di sana dari sarang waletnya saja, kita bisa dapat uang jutaan." Lea menjabarkan rencananya.


"Tapi itu tidak mungkin, Le ... Mayang sudah berubah. Dia sudah punya—"


"Halah, kamu ini kalau diajak kerja mesti banyak alasan." Lea membuang napasnya dengan kesal. "Setiap usaha itu wajib dicoba, Mas ... jangan mikir susahnya kalau belum dijajal."


Ferdi mencemooh Lea. "Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu nggak tahu bagaimana kondisi sebenarnya, Le ... Mayang sudah punya suami. Dan suaminya itu dokter yang membantumu saat keguguran, yang kasih bingkisan itu tadi." Ferdi berkata dengan seluruh emosi tertumpah kemana-mana. Ini dia sedang dalam kepatahan hati yang berat, masih juga disuruh dekat-dekat? Melihat dari jauh saja rasanya udah kayak sekarat.


Lea terbengong. "Jangan bercanda kamu, Mas ... mana mungkin dokter itu mau sama janda burik macam Mayang?"

__ADS_1


"Yang burik cuma lensa mata kamu," sembur Ferdi. "Yang nggak pernah dibersihkan, yang ketutupan sama sifat kamu yang suka sekali merendahkan orang!" Ferdi bangkit dan meninggalkan Lea yang masih syok. Ia bahkan menggosok telinga, mempertajam mata saat melihat bingkisan yang masih utuh di sebelahnya.


"Sialan banget kalau begitu, kamu, May!" gumam Lea seraya mengertakkan gigi.


Momen sialan juga dialami oleh Gian, yang ditertawakan habis-habisan oleh bawahannya saat mengenalkan Mayang siang ini.


"Yang bisik-bisik dibelakang, menertawakan saya, akan saya berhentikan, kecuali dia punya alasan kenapa menertawakan saya!"


Ruangan hening seketika, saat Gian kembali bermuka galak dan berkata-kata menyeramkan.


Mayang yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum kecil sebagai tanggapan dan say hai pada karyawan Gian melongo tak percaya pada sifat Gian yang begitu sensi.


Apa dia sengaja menggandakan kepribadiannya? Atau Gian memang seperti ini sifat aslinya?


"Saya tahu pernikahan saya mendadak, tapi kalian tidak punya hak untuk meragukan Mayang. Dia wanita terhormat, kami menikah karena saya yang menyukai dia, dan dia hanya kasihan sama saya yang sudah lama menduda," kata Gian merendahkan diri. "Tidak ada kami punya hubungan sebelum empat bulan ini, apalagi selingkuh, dan tidak mungkin juga saya menghamili Mayang. Saya ini dokter kandungan, mengerti persis soal reproduksi, jadi tidak mungkin saya teledor dengan tindakan saya kalau memang saya menikahi Mayang karena dia tengah mengandung."


"Ehm, begini ...," sela Mayang saat karyawan Gian seperti dihantui ribuan setan mendengar ucapan Gian. "Pak Dokter ini, hanya merendah saja. Memang saya terkejut ketika Pak Gian melamar saya, tetapi saya menerima bukan karena terpaksa, bukan juga karena kasihan. Saya hanya berpikir, kapan lagi saya bisa dicintai sepihak dan begitu besar pengorbanan yang dilakukan Pak Dokter demi saya? Kan saya yang bukan siapa-siapa ini, merasa tersanjung, dong, dilamar Pak Dokter? Jadi ketika Pak Dokter ajak saya nikah, ya, saya hayuk saja. Takut Pak Dokternya berubah pikiran."


Mayang mengedipkan sebelah matanya ke arah Gian. Cinta itu selalu sama-sama, kan, Pak?


Gian tersenyum bangga, wanitanya selalu mengagumkan dan tidak pernah mau kalau pasangannya terlihat buruk. Ah, Mayang yang selalu bikin kepayang.


"Ehm, saya rasa ini hanya perkenalan, tidak peduli kalian menilai kami bagaimana." Gian meraih jemari Mayang dan menggenggamnya. "Yang pasti, kami bahagia saling memiliki satu sama lain."


Mayang tersenyum. Entahlah, dia baru ingin mencoba, dengan menyerahkan segala-galanya juga bersikap apa adanya. Biar Gian menilai, pantaskah dia dipertahankan. Jujur Mayang belum mau muluk-muluk. Tetapi dia tetap bersungguh-sungguh menjalani pernikahannya. Mayang serius soal ingin mendapatkan kesempatan kedua menjadi istri yang sempurna.


"Silakan dinikmati makanannya. Ini dari resto istri saya, dia sendiri yang memilihkan menu khusus hari ini."

__ADS_1


Dengung suara berbisik kembali terdengar. Mayang berusaha tuli.


"Mai ... aku benar soal kita akan tetap saling memiliki, kan?" Gian membawa Mayang menuju ke ruang kerjanya.


"Ya, tentu saja, Pak." Mayang di sebelah Gian tersenyum, meski Mayang heran.


"Oh, aku bersyukur, Mai. Pokoknya kamu jangan terlalu dengarkan ucapan mereka, ya." Gian mendadak mellow.


"Pak Gian jangan khawatir, saya bisa atasi semua omongan dan tudingan orang. Bagi saya itu kecil dibandingkan ucapan Ibu mertua saya dulu." Mayang tertawa miris.


"Oh, untuk yang itu kamu belum pernah cerita. Kapan-kapan ceritakan padaku soal mantan ibu mertuamu." Gian mengecup tangan Mayang. "Oh, ya ... mantan suamimu lagi nungguin istrinya yang keguguran semalam. Apa kamu ingin menengoknya?"


"Saya rasa tidak," kata Mayang segera. "Saya takut dia pingsan melihat saya dan bikin Pak Dokter sibuk ngurusin dia. Nanti saya kesepian dong, kalau ditinggal terus."


Gian mendadak kelu. "Itu kode buat aku, kah? Kamu suka sama si unyu-unyu, kah?"


Mayang tersipu. "Ya, bisa dibilang kalau yang unyu biasanya ngangenin."


Wagelaseh, Mai ... kode ini buat minum obat kuat. Ada yang ketagihan unyu.


*


*


*


*

__ADS_1


Bentar, saya juga mau nyari unyu saya.


__ADS_2